Jujur.
Jujur banget nih ya.
Rasanya masih kayak mimpi wkwkwk.
Allah itu Maha Baik, ya. Bagaimana takdirNya bekerja itu
lho, benar-benar indah, ajaib dan di luar nalar. Apa pun yang kita inginkan,
mau dikejar mati-matian pun, pasti tak akan bisa kita raih jika itu bukan ditakdirkan
untuk kita. Sebaliknya, sesuatu yang sudah ditakdirkan untuk kita justru tidak
akan pernah terlewat. Kita tinggal percaya saja bahwa segala sesuatu yang hadir
dalam hidup kita adalah takdir terbaik dariNya.
Izinkan aku flashback sedikit. Setelah direnungi, ternyata
kuliah di Jogja membawaku pada sebuah interest baru: hal-hal yang berhubungan
dengan kontribusi kepada sosial masyarakat dan lingkungan. Aku tidak bilang
bahwa aku adalah “Si Paling Pengabdian” atau “Si Paling Sosmas” ya, karena pada
faktanya aku memang tidak pernah benar-benar fokus bergerak di bidang itu. Aku
hanyalah seseorang yang pernah beberapa kali menjadi peserta dalam kegiatan
pengabdian masyarakat, dan ternyata aku menikmatinya.
Boleh jadi, percikan minat tersebut pertama kali muncul saat
aku mengikuti Andalusia, sebuah rangkaian kegiatan Idul Adha yang
diselenggarakan oleh Jamaah Muslim Fisipol (JMF) di desa pelosok di sekitaran
DIY. Tahun pertama kuliah aku jadi petugas cuci piring, lalu tahun kedua
langsung jadi ketua panitia. Dari Andalusia, aku menemukan bahwa kebaikan akan membawa
kebahagiaan bagi semua pihak. Skalanya boleh jadi kecil, tapi sungguh berkesan
dan menyenangkan!
Kesempatan lain datang saat aku mendapat amanah sebagai
Kormanit KKN (Kuliah Kerja Nyata) pada tahun 2018, di sebuah desa yang jauhnya
6 jam perjalanan darat dari Kota Gorontalo. Kebetulan, tim KKN kami mendapat
kesempatan partnership dengan perusahaan Astra. Kami dapat support finansial
sebagai timbal balik integrasi program-program kami dengan program CSR mereka.
Dari situ, aku mendapat paparan tentang praktik strategi dan program CSR dari
sebuah perusahaan.
Kebetulannya lagi, aku baru saja mengambil mata kuliah “CSR
& Community Relations” sebelum berangkat KKN. Matkul ini memberiku overview
tentang CSR dan bagaimana memetakan stakeholders dari suatu perusahaan. Turns
out, matkul itu menjadi mata kuliah yang paling berkesan dan aku paling enjoy
menjalaninya. Membuatku jadi mempertanyakan ulang, kenapa dulu aku ga ambil
jurusan PSdK aja ya? Wkwkwk.
Oke lanjut.
Setelah KKN, di sela-sela skripsian, aku bergabung dengan
sebuah startup yang bergerak di bidang lingkungan dan energi terbarukan.
Namanya Ailesh. Saat itu, mereka masih tahap berkembang, timnya masih sedikit,
finansial company masih bergantung sama lomba-lomba inovasi teknologi/bisnis,
dan tentu saja belum menggaji para karyawannya. Tapi, aku dapat banyak hal yang
jauh lebih bernilai ketimbang rupiah itu sendiri.
Bergabung dengan Ailesh membuka pandanganku perihal masalah
lingkungan di Indonesia, mengetahui sedikit tentang waste management, dan
bagaimana limbah itu bisa membawa nilai ekonomis jika dikelola dengan baik. Aku
juga berkenalan dengan social enterpreneurship dan dunia ekosistem startup.
Jujur, aku merasa menjadi bagian dari Ailesh adalah salah satu titik balik penting
dalam hidupku, di mana aku menemukan apa yang ingin aku perjuangkan dalam hidup.
Dari semua pengalaman tadi, aku pun lulus kuliah sambil
membawa sebuah idealisme: Aku ingin bekerja di bidang CSR pada suatu
perusahaan, bersentuhan langsung dengan masyarakat dan lingkungan, lalu pada
suatu titik ingin membangun sebuah social enterprise-ku sendiri. Wuidih,
terdengar sangat menggebu-gebu ya?
“Tunggu dulu,” kata realita, menyela.
Alhamdulillah, Allah takdirkan aku dapat pekerjaan yang baik
di Pegadaian. Sayangnya, aku ditempatkan di bidang pekerjaan yang tidak sejalan
dengan cita-citaku dulu. Ya, namanya jadi karyawan ya, cuma bisa mengikuti maunya
perusahaan. Tidak apa, tetap akan aku jalani semampuku.
Meski begitu, aku masih tetap berusaha merawat mimpiku agar
tetap hidup di dalam hati. Tidak apa nyalanya redup, tapi kuusahakan agar api
kecil itu tetap menyala. Walaupun kerja di kantor Cabang yang tidak berhubungan
langsung dengan divisi CSR, aku selalu menunggu-nunggu rilisnya Sustainability
Report perusahaan untuk dibaca sekilas. Sekilas doang kok, ngga detail banget.
Itu adalah salah satu upayaku untuk menjaga agar apinya tidak padam.
Hingga akhirnya, sekitar setahun yang lalu, tepat setelah
hampir 5 tahun aku bekerja, ada pengumuman dibukanya pendaftaran Beasiswa
Internal PT Pegadaian Batch 4. Berbeda dari batch-batch sebelumnya yang lebih
fokus ke jurusan MBA, tahun ini mereka menawarkan beberapa opsi jurusan seperti
finance, law, IT, data analyst, dan lainnya termasuk ESG (environmental,
social, governance).
Membaca ESG, mataku langsung berbinar dan jantungku langsung
berdebar (halah, lebay). Kelihatannya menarik, meski aku benar-benar have no
idea tentang apa itu ESG pada saat itu. Aku jadi teringat kembali akan mimpi
untuk mengejar hal yang aku suka. Ya, apinya masih menyala. “Ini kesempatan,”
batinku. Setelah melakukan sedikit riset, memohon pertolongan Allah, dan minta
ridho istri, aku pun mengumpulkan berkas pendaftaran ke panitia scholarship.
Oiya. Bicara tentang melanjutkan studi, sebenarnya aku memang
sudah punya bayangan untuk mengambil kuliah S2 dengan tujuan menunjang karir. Setelah
lulus S1, harapannya aku bisa kerja dulu di sebuah perusahaan, lalu ingin
kuliah lagi beberapa tahun setelahnya. Rencananya awalnya sih kuliah S2 yang
bisa di sela-sela kerja ya, entah itu kuliah part-time di malam hari, pas
weekend, atau full online. Kalau bisa sih inginnya di universitas negeri ya,
tapi kalau bisanya di kampus swasta juga tidak apa-apa. Let’s be real, aku
tidak mungkin mengambil S2 full time dengan mengorbankan pekerjaanku.
Namun, di sisi lain, aku juga selalu kagum melihat
teman-teman IC yang melanjutkan studi ke luar negeri. Kayaknya keren gitu,
melihat temen seangkatan maupun kakak-adek kelas yang pada kuliah di Inggris,
di Jepang, di Australia, di Amerika. Ada yang kuliah di kampus top dunia, ada
yang dapat beasiswa bergengsi. Sempat sedikit terbersit dalam hati, “Keren kali
ya, kalau aku bisa seperti itu juga.” Terbersit doang, nggak sampai benar-benar
mengusahakannya, apalagi menuliskannya di list plan hidup. Aku juga sadar diri
dengan kemampuanku pada saat itu.
Ternyata, Allah benar-benar Maha Baik.
Dalam waktu hampir bersamaan, Allah kasih hampir semua
kemauan-kemauan hambaNya yang banyak mau ini. Beasiswa lolos, dapat LoA dari
kampus top dunia, jurusannya sesuai dengan yang diimpikan pula. Alhamdulillah,
para pembaca sekalian, sekarang saya sedang menempuh kuliah Master of
Environment di University of Melbourne, dengan sponsor beasiswa internal dari
PT Pegadaian.
Somehow, rasanya masih kayak mimpi. Sudah hampir sebulan menjalani ini, tapi sebagian diriku masih belum percaya kalau ini benar-benar terjadi. Berada di negeri ini, lumayan jauh dari bumi pertiwi, untuk belajar lagi sambil mengejar jati diri.
Tulisan ini dibuat sebagai pengingat di masa mendatang, juga sebagai bukti bahwa aku pernah bermimpi. Ingat, Ramdayanu, ini adalah amanah. Allah sudah sediakan jembatannya, tinggal bagaimana aku bisa menjalaninya dengan sebaik-baiknya. Ya Allah, hamba mohon agar Engkau mampukan.
.jpg)