Wow, udah lama banget gue ngga nulis di blog ini ya ._. Gue
mau sambat nih. Gak penting-penting amat sih sebenernya. Tapi daripada cuma ngendep
sendiri, mending gue tulis aja yaps.
Tumblr mana tumblr. Duh biasanya kalo cerita kek gini ini
tempatnya di tumblr haha. Sayang udah diblokir ya :’)
Well, cerita di sini juga gapapa. Berkat kegabutan yang
sangat, belakangan ini gue jadi suka galau mikirin jodoh gitu deh. Di mana dia,
siapa dia, semua masih misteri. Fase yang wajar menurut gue, jadi dinikmatin
aja wkkw.
Btw, di tengah-tengah usaha untuk mulai memikirkan nasib
skripsi, gue menemukan lagu ini: Sheila
On 7 - Terima Kasih Bijaksana. Berdasarkan terjemahan gue yang tidak
mendasar, lagu ini seperti bercerita tentang betapa beruntungnya seorang pria karena
mendapatkan seorang wanita yang mau memahaminya dan mencintainya, apa adanya. Pria
yang liar dengan egonya ini telah roboh oleh pesona sang wanita. Kemudian, ia
menuliskan lagu ini. Sweet mampus sih menurut gue.
Haha.. Akhir-akhir ini gue jadi sering copas lirik lagu ya di blog.
Entahlah, gue lagi males nulis yang berat-berat(?). Jadinya gini deh,
ngopas lirik lagu dari web laen yang kebetulan lagi pas sama suasana hati.
Beberapa hari yang lalu, "music box berjalan" di kelas gue nyanyiin lagu ini. Gue jadi keinget sama kenangan masa lalu yang belum terlalu lama berlalu. Gaje ya? Haha, ini liriknya...
Ada hati yang patah dan itu hatiku Rasanya nyawa ini tak ada karnamu Keinginan hatiku di repak mataku Sayangnya kau belum juga merasa
[Reff:] Kau pikir aku ada di sini untuk apa Kau kira sejauh ini ku datang untuk siapa Sangat ingin ku katakan ini untukmu
Kau pengaruh terpenting di dalam hidupku Entah apa ku juga terpenting bagimu Oh keinginan hatiku, oh di depan mataku Sayangnya kau belum juga merasa
[Repeat Reff]
Untukmu.. Untukmu..
Ini untukmu.. Untukmu.. Ooo ooo ooo
Kau pikir aku ada di sini untuk apa Kau kira sejauh ini ku datang untuk siapa Kau rasa kulakukan apa pun untuk siapa Sangat ingin ku katakan ini untukmu Untukmu.. Untukmu.. Ini untukmu..
Mungkin postingan kali ini agak sensitif karena berkaitan
dengan masalah hati. Ini semua tentang rasa rindu alias kangen. Gue juga nggak
tau apakah semua orang merasakan hal yang sama. Tapi, gue yakin pasti ada di
antara kalian yang mengalami ini.
Aneh. Gue lebih sering merasa kangen sama si dia ketimbang
keluarga di rumah, dalam hal ini terutama ibuk. Padahal, jarak gue dan
ibuk sangat jauh, jarang berkomunikasi, bahkan ketemu secara langsung mungkin
cuma satu semester sekali. Ditambah dengan kenyataan bahwa beliau selalu sayang
dan mendoakan gue.
Aneh. Gue malah merasa kalo gue lebih mencurahkan rasa
kangen buat si dia daripada ibuk. Padahal, gue dan si dia berada dalam sebuah
kawasan yang sama, kalaupun ada jarak paling cuma beberapa langkah aja. Tapi,
kalo sehari aja nggak ngelihat batang hidungnya, rasanya hati ini udah gak
karu-karuan.
Bukan. Bukan gara-gara gue lebih sayang sama si dia daripada
ibuk. Gue punya sebuah penjelasan lain. Sebuah teori yang nggak tau ini beneran
ada ato nggak. Bahwa hati-hati ini sebenarnya saling berkomukasi satu sama lain.
Lantas, apa hubungannya sama rasa kangen tadi?
Begini... Bagaimana mungkin gue lebih kangen si dia daripada
ibuk? Tentu saja karena adanya intensitas komunikasi antar hati yang berbeda.
Walaupun udah berbulan-bulan fisik ini nggak ketemu sama ibuk. Walaupun jarak
BSD-Kediri ribuan kilometer. Namun, kedua hati ini sebenernya sering banget
janjian ketemuan. Lewat cinta dan kasih sayang yang tulus, yang sama-sama
dipancarkan oleh kedua belah hati. Lewat doa-doa yang senantiasa dipanjatkan oleh
masing-masing jiwa. Semua ini berlangsung tanpa disadari oleh fisik dan akal
kita. So, nggak ada alasan hati ini buat buang-buang energi mencurahkan rasa kangen
dan rindu untuk ibuk. Karena sejatinya, kedua hati ini selalu bertemu.
Berbeda dengan si dia. Meskipun bisa jadi fisik ini bertemu
setiap hari, namun belum tentu kedua hati ini juga bertemu. Bisa jadi hati gue memancarkan
sinyal untuk memulai komunikasi, namun belum tentu dibales sama hati si dia. Tidak
terjalin sebuah komunikasi yang sama-sama tulus, jadilah hati yang penuh nafsu
ini kangen terus-terusan.
Nah, keadaan inilah yang gue yakini. Jelas, gue jauh lebih
sayang sama ibuk, bapak, dan adek di rumah. Dan nggak aneh kalo gue nggak
kangen-kangen amat sama mereka. Karena sesungguhnya hati-hati ini senantiasa berkomukasi satu sama lain.
Oke, sebenernya gue lagi nyiapin beberapa tulisan "serius" buat di-posting. Tapi, nampaknya butuh ke-istiqomah-an lebih buat menyelesaikan postingan-postingan tersebut. Gue lagi males mikir berat-berat (alay sih -.-), tapi gue udah gatel pengen posting dan menyapa para pembaca setia blog gue. Mwehehe...
Kawan, pikiran gue lagi random banget nih sekarang. Bingung dan mengambang di antara banyak hal. Antara seneng UAS udah kelar, sama deg-degan sama pengumuman-pengumuman nilai yang udah mulai bermunculan. Antara seneng bentar lagi mau lulus SMA, sama bingung mau lanjut ke mana. Antara lega bisa mulai melupakan si dia, sama bingung mau menambatkan hati ini ke mana lagi. Gilak, random abis.
Yah, mungkin raga ini lagi ada di teras gedung F, lagi di depan laptop, lagi ngetik. Tapi, jiwa ini loh, gak tau lagi di mana. Gak tau lagi ngapain. Gak tau lagi nyari apaan, atau nyari siapa.
Oh iya, ada sebuah nasehat dari temen gue. Selama ini kayaknya gampang-gampang aja buat dilakuin. Tapi sekarang, gue gak tau ya, jadi agak berat.
"Di saat kamu jatuh, tetaplah menebar kebahagiaan. Karena kebahagiaan yang kau tebarkan itu akan mengobatimu."
Di tengah-tengah kesibukan ngurusin RAwa (emang sibuk yah? ._.), gua mau share sebuah lirik lagu nih. Lagu yang menurut gue galau banget pake z, jadi bangetz! Tau lagu Pelangi di Matamu? Yak, lagu yang dibawakan oleh Jamrud ini bait pertama dinyanyikan oleh seorang cewek, kemudian sisanya suara cowok. Nih, liriknya...
(suara cewek) 30 menit kita disini tanpa suara dan aku resah harus menunggu lama .. kata darimu
(suara cowok) mungkin butuh kursus merangkai kata, untuk bicara dan aku benci harus jujur padamu, tentang semua ini
jam dinding pun tertawa karna kuhanya diam dan membisu ingin kumaki diriku sendiri yang tak berkutik di depanmu
ada yang lain di senyummu yang membuat lidahku gugup tak bergerak ada pelangi di bola matamu dan memaksa diri tuk bilang "aku sayang padamu" (2x)
(seakan memaksa dan terus memaksa) mungkin Sabtu nanti kuungkap semua, isi di hati dan aku benci harus jujur padamu tentang semua ini ......
Sebenernya, lirik lagu ini nggak galau-galau amat sih. Tapi entah mengapa, gue kebayang sebuah cerita yang sangat nggak ada hubungannya sama lagu ini, yang kalo dihubung-hubungin sama lagu ini jadi nyesek banget kayaknya.
Coba bayangin, ketika pada hari Sabtu yang dimaksud, si cowok dengan susah payah berhasil menyatakan perasaannya kepada si cewek. Namun, si cewek malah nolak dengan alesan dia udah menerima cinta dari seorang cowok lain, dan si cewek itu baru jadian dalam tenggat waktu antara "pertemuan-tiga-puluh-menit-tanpa-suara dengan si cowok" hingga "Sabtu yang dimaksud".
How?
Tuesday, July 1, 2014
Gue mau curhat nih..
Awalnya gue bingung mau nulis ini di mana, di antara tiga situs yang paling sering gue pake : Facebook, Twitter, atau Blogger. Akhirnya, gue milih Blogger karena hanya beberapa orang beruntung saja yang berhak membaca ini.
Mari kita buka dengan bacaan Basmalah.. Bismillahirohmanirohim... (Apa coba?!)
Langsung saja...
Sudah merupakan salah satu ciri-ciri seorang cowok, yakni selalu berusaha untuk terlihat biasa saja. Entah kegundahan apa pun yang sedang ia rasakan, entah masalah apa pun masalah yang sedang ia hadapi. Kebanyakan cowok selalu berusaha tampil biasa saja, normal, seperti nggak ada apa-apa, dan seolah-olah berkata, "Take it easy, man!"
Yak, tahun lalu gue menetapkan bulan Mei sebagai bulan ter-"ya begitulah". Maka, tahun ini yang menjadi bulan ter-"ya begitulah" adalah JUNI. Ada apa saja di bulan Juni ini, sampe jadi bulan ter-"ya begitulah"?
Bagi gue, Juni ini bulan yang berat. Berat banget. Berat banget, terutama buat jiwa, mental, hati... AH!
Bulan ini gue harus berpisah dengan banyak hal. Perpisahan. Mau positive thinking, mau ngambil baik-baiknya aja, ato mau gimana juga, namanya perpisahan itu nggak enak. Mau perpisahan yang udah jelas-jelas bakal terjadi, apalagi perpisahan yang nggak bisa diduga sebelumnya. Lebih-lebih jika perpisahan ini membuat kita merasa kehilangan. Kehilangan teman baik, teman becanda, teman yang sangat hebat dalam sebuah tim, teman seru-seruan, teman curhat, teman ketawa bareng; teman yang kalo kita denger suaranya, kita bisa merasa bersemangat lagi.
Oke, lupakan sebentar tentang kehilangan yang nggak diduga itu. Toh itu bukan salah siapa-siapa. Toh juga nggak ada yg pengen itu terjadi.
Eits, apa kabar pemirsa setia Raka
Bercerita. Duh, udah lama banget ya gue nggak posting di sini. Nah, di tengah kegajean yang sedang melanda, gue akan sedikit bercuap-cuap kembali di blog
tercintah ini. Mumpung
lagi kesempatan emas, nih. Ya, hari ini ada sidang KIR yang menghalalkan laptop untuk
keluar. Wi-fi sekolah juga tumben-tumbenan nih, lagi cepet-cepetnya!
Langsung aja ke inti permasalahan,
bahwa sekarang gue lagi GALAUUUUUU......
Angkatan gue udah memasuki masa
akhir kelas XI, yang berarti bentar lagi kita insyaallah bakal jadi anak kelas
XII di IC ini. Tentu mayoritas orang bersuka cita atas hal ini. “Yes, bentar
lagi kelas 3!” “Yeah, habis ini pindah ke gedung F!” dan semacamnya, adalah bentuk
kesenangan yang nyaris semua orang ekspresikan. Ya, semua orang kecuali gue.
Entah mengapa, gue masih pengen jadi
anak kelas XI. Ada banyak hal yang bakal harus gue tinggalin kalo jadi kelas
XII ntar. Apa aja? Banyak, banyak banget. Bukannya gue nggak mau naik kelas ya.
Tapi gue sangat betah jadi anak kelas XI. Karena di kelas XI ini, gue nyaris
kehilangan semangat buat nerusin sekolah di IC. Dan di kelas XI ini juga, gue
menemukan alasan untuk tetap bertahan di sini. Itu sangat berkesan tentunya. Dan
kalo naik kelas nanti, pindah jabatan nanti, pindah gedung nanti, gue harus
ninggalin itu semua.
Gue belom siap. Gue sama sekali belom
siap buat ninggalin semuanya. Yah, ini memang belom waktunya buat ninggalin
hal-hal menyenangkan semasa kelas XI ini. Mungkin pada saatnya nanti, gue akan
siap dengan sendirinya. Tapi apakah pasti iya? Gue ngga yakin.
Mei ini mungkin bakal menjadi bulan tersibuk buat hampir semua orang di IC. Di dalemnya ada salah satu acara gede OSIS, I-Care. Terus banyak acara OSIS lain dan yang non-OSIS dipegang sama anak kelas X. Mulai dari acara Titan, Mabit, Legionnaire, simulasi kampanye parpol dan pemilu, serta Bingo. Belum lagi banyak pe-er, tugas, hafalan, ulangan, remed, dan semua itu ada di bulan ajaib ini. Gue adalah salah satu dari orang yang berhasil dibikin stres sama bulan ini. Oh ya, para guru juga pasti pada sibuk nyiapin Penerimaan Siswa Baru. Ckckck...
Ya, acara-acara di bulan ini emang udah selesai, dengan Bingo sebagai puncaknya, Sabtu kemaren. Tapi, SENEN DEPAN UAS BROO..!!! Belum sampe situ, minggu ini aja masih banyak ulangan, remed, pe-er, tugas, hafalan... Yah, kehidupan di IC. Statis, namun sangat dinamis.
Gue sempet berpikir. Ya, mikir.
Jarang-jarang gue bisa mikir kayak gini. Emang gue mikirin apa sih? Gak tau
deh. Gak jelas.
Wow, ternyata sekarang gue udah
jadi anak IC bro! Dipikir-pikir, aneh juga. Padahal, ada banyak hal yang
mendukung suatu opini, opini bahwa gue gak bakal ada di sini sekarang. Namun, sepertinya Allah “berserikeras” untuk menjebak
gue agar menghabiskan "masa-masa SMA" di “penjara suci” ini. Semoga memang begitu, dan semoga tetap begitu. Amin.
Gue bersyukur. Kalo bukan karena
ada di IC, mungkin gue gak akan selamat dari perputaran dunia yang makin alay.
Selain itu, gue bisa ketemu sama ratus-ribuan macam karakter yang berasal dari
berbagai macam daerah. Gue jadi tau, ternyata ada golongan manusia yang kalo
ngobrol pake “lo gue”-an. Dan ternyata golongan itu menganggap orang yang pake
“aku kamu” sebagai orang homo. Wow.
Ya, gue belajar banyak hal di sini.
Memang, nggak bias serta-merta gue
langsung menerima semua keadaan baru di sini. Gue butuh adaptasi. Dan, acara
yang bernama PTS alias Pekan Ta’aruf Siswa benar-benar cukup membantu dalam
proses ini. Gue (hampir) bisa hafal
semua nama lengkap cowok seangkatan hanya dalam seminggu. Hebat.
Untuk mencintai lingkungan baru ini
(IC tentunya), gue mulai dari yang kecil dulu. Maksudnya? Gue merasa kesulitan
kalo harus langsung mencintai IC yang begitu kompleks ini. Jadi, gue mulai
mencintai kelompok-kelompok kecil yang gue tergabung di dalamnya. Ya, tentu.
Habis PTS ada kelas matrikulasi.
Gue kebagian kelas M-1. Menurut mitos, para penghuni M-1 adalah anak-anak yang
jago bahasa arab. Nggak salah sih, kebanyakan temen gue di sini berasal dari
pondok dan pada jago bahasa arab. Satu hal yang masih bikin gue bingung. Kenapa
gue kok bisa masuk kelas ini? Oh, mungkin kepiawaian gue di bidang laen lebih
jongkok. Haha.
Kelas ini adalah hal mengasyikkan
pertama yang gue punya di IC. Orang-orangnya asyik-asyik, cepet akrab, hampir
gak pernah sepi, dan semacamnya. Kita juga punya tradisi, yakni bagi-bagi
makanan. Walau masa matrikulasi udah lama berakhir, namun tradisi itu masih berjalan
sampe sekarang. Kita sering ngumpul cuma
buat makan-makan. M-1, satu-satunya kelas matrik di tahun ini yang punya nama
dan motto. Neo-Maxis #makansehat.
Beranjak ke tahap berikutnya, yakni
kelas sungguhan. Gue “ditaruh” di kelas X-2 dengan absen yang sama seperti pas
matrik, 11. Menurut legenda, dari tahun ke tahun X-2 selalu berisi anak-anak
yang PD dan asyik. Kerennya mantan ketua kelas X-2 tahun lalu dan dua tahun
lalu, keduanya menjadi ketua OSIS. Asik.
Gue tetep butuh waktu untuk bisa
cinta sama kelas gue ini. Entah, bahkan dalam beberapa saat gue masih cinta
sama Neo-Maxis. Perlahan tapi pasti. Segala pe-er, ulangan, pelajaran,
kegiatan, canda, tangis, dan tawa (lebay deh -_-) gue jalani bareng mereka. Gue
masih inget gimana kelas gue mempersiapkan
perform dramanya, bupalas (buka puasa kelas)nya, bupatitan (buka puasa tiga
angkatan)nya, CIVIC Pedulinya, video klipnya, dan wah, masih banyak lagi. Oke,
waktu awal-awal dulu kita emang belom terlalu kompak sih. Namun…
“Terima kasih,” kata ini untuk salh
satu acara OSIS yang bernama GAKIC. Gue makin cinta sama kelas seiring dengan
makin kompaknya kelas. Dan hal ini bener-bener kerasa pas pertandingan basket
cowok lawan XI NS 1 di hari terakhir GAKIC. Semua anggota kelas bisa hadir di
pertandingan kelas yang terakhir itu. Perasaan tegang dari tiap anak bersatu
pas ngeliat skor yang kejar-kejaran. Namun, kelas kita belom bisa mengungguli
kelas yang emang terkenal “kuli” itu. Kita kalah.
Persetan dengan medali yang
diperoleh maupun letak di ranking hasil akhir. Kita sudah mencurahkan semuanya
untuk acara ini. Lucunya, kita hampir nggak pernah sekompak ini pada
acara-acara OSIS lainnya. Aneh.
Sekarang gue lagi dalam masanya
mencintai yang lebih besar lagi. Angkatan. Padahal gue sering ngingetin
temen-temen untuk solid di angkatan. Ya, gue ketua angkatan yang payah. Gue
nggak bisa cerita banyak-banyak tentang angkatan gue. Takut sombong. Gue juga
nggak bisa cerita yang aneh-aneh tentang angkatan gue. Takut nyebarin aib. Gue cuma
bisa ngasih tau namanya. Astonic Dralen Relaston.
(Artikel ini ditulis saat hari pertama
puasa, 1 Ramadhan 1433 H/20 Juli 2012 M)
Hai guys! Udah lama banget ya, gue
nggak posting di sini. Maklum, gue kan baru masuk SMA. Hampir nggak ada waktu
kosong buat nulis dan cerita ke kalian. Hehe.
Oh ya! Udah pada tau belom nih,
sekarang gue sekolah di mana? Alhamdulillah, sekarang gue sekolah di madrasah
yang sudah gue impikan sejak kelas tujuh, yakni MAN Insan Cendekia Serpong. Di
sini sekolah asrama (boarding school), man! Mirip kayak pondok modern gitu. Dan
di awal tahun ini, anak kelas X (sepuluh) disibukkan dengan banyak kegiatan. Nah, di waktu luang yang singkat ini, gue
menyempatkan diri untuk menengok kalian semua yang udah pada kangen baca cerita
dari gue.
Eh, kalian mau tau nggak, apa aja
sih kesibukan gue sebagai anak baru di MAN IC? Gue yakin kalian semua pasti
mau. Udah, gak usah protes. Pokoknya, baca aja lanjutan ceritanya!
Pagi itu, Sabtu, 7 Juli 2012, gue
berangkat ke MAN IC dari rumah Mbah Harno, bapak dari ibu gue yang tinggal di Ciater,
Tangerang Selatan. Sesampainya di sana, gue langsung menuju tempat registrasi
siswa baru.
Nah, di sinilah kepanikan dimulai.
Mengapa semua anak yang ngantri pada bawa ijazah? Gue langsung ngecek kertas
yang berisi data, barang apa saja yang harus dibawa saat hari pertama
masuk. Mampus! Ternyata memang tertulis
ijazah di kertas itu. Lalu bagaimana nasib gue yang datang tanpa ijazah? Waktu
itu, ijazah gue ketinggalan di Kediri. Lebih tepatnya, sengaja gue tinggal di
Kediri karena gue anggep bikin tas tambah berat.
Gue panik. Panik sejadi-jadinya.
Lalu tangan bapak gue mendarat di
pundak gue, sambil beliau berkata, “Tenang aja.” Entah mengapa, kata-kata itu
benar-benar berhasil membuat gue tenang. That’s like magic spell! Akhirnya,
kami pun bisa tetep registrasi tanpa ijazah. Mungkin petugasnya memang baik,
atau bapak gue menggunakan mantra saat negosiasi.
Setelah lega, aku, bapak, dan ibu
masuk ke gedung serba guna (GSG). Gedung ini semacam aula gitu. Di sana, kami
mendengarkan sambutan-sambutan membosankan dari kepala madrasah dan para
wakilnya. Udah selesai gitu, anak-anak dan orang tuanya dipisah. Para ortu
tetap di GSG untuk membicarakan hal-hal penting, sedangkan anak-anak keluar
dari GSG, tepatnya di ruang kelas untuk persiapan PTS.
Apa itu PTS? PTS adalah singkatan
dari Pekan Ta’aruf siswa. Di sekolah lain, mungkin kalian mengenal MOS. Ya,
hampir mirip lah. PTS didesain khusus oleh kakak-kakak kelas untuk memperkenalkan MAN IC, serta menanamkan
kebiasaan,nilai-nilai, dan ‘adat’ yang ada di MAN IC kepada anak-anak baru. PTS mendidik kita
untuk terbiasa hidup mandiri, jujur, tanggung jawab, serta disiplin. Acara ini
juga berfungsi untuk mempersatukan angkatan kita. Maklum lah, anak-anak di sini
berasal dari berbagai macam daerah.
PTS benar-benar membekas di hati gue
sebagai anak baru. Seru-seruan bareng bareng kakak acara, curhat bareng kakak
tutor, dimarah-marahin sama kakak tatib, dan masih banyak laennya. Semua itu
menggambarkan seluruh aspek kehidupan di MAN IC, dan itu berlangsung hanya
dalam seminggu.
Di penghujung acara PTS, ada
kegiatan yang seru banget nih! Namanya Long March. Yak, kita berpetualang dan
bersenang-senang di luar lingkungan MAN IC. Pas Long March, kita masuk-masuk ke
perkampungan, menjelajahi hutan, menyusuri sungai, dan berhenti di tiap pos untuk
bermain game yang sudah dirancang oleh kakak-kakak kelas. Seru dah, pokoknya!
Ya, hanya sedikit itu yang bisa gue
certain ke kalian. Habis ini mau ada kegiatan “Tahrib Ramadhan” nih.
Kapan-kapan gue ceritain macem-macem lagi ya. Dadaah..~
Hei, yang ada di sana! Ya, lo yang lagi baca tulisan gue. Lo tau kan, kalo gue ini adalah anak yang bentar lagi lulus MTs? Semoga elo tau, supaya lo bisa doain gue biar sukses dalam ujian kali ini. Hehehe...
Kira-kira, itulah hal yang sering gue lakukan. Gue sering minta doa ke setiap orang yang gue temui. Setiap sebelum masuk ke ruangan try out, gue selalu minta doa ke setiap anak, mulai dari yang gue kenal, sampe yang nggak kenal. Kata ibu, gue harus banyak-banyak minta doa ke orang-orang. Gue sih manut aja. Gue percaya, bahwa kekuatan doa itu nggak ada bandingannya.
Ngomong-ngomong masalah “mau lulus sekolah” ini, kadang gue jadi galau sendiri. Kalau udah lulus nanti, gue akan meninggalkan temen dan sahabat gue selama di MTs. Apalagi niat gue untuk merantau ke Serpong, Jawa Barat. Gue harus meninggalkan temen-temen gue di Kediri, Jawa Timur. Dan itu jauh banget.
Jangan lo pikir ninggalin temen itu gampang! Pasti banyak banget kenangan indah yang bakalan kita tinggalkan. Lo semua pasti juga udah pernah ngerasain kan? Nah, bentar lagi gue akan ngerasain itu!
Buat menghilangkan galau dalam diri gue, gue menganalogikan perpisahan itu seperti aliran sungai. Bisa saja kita berasal dari sebuah sumber yang sama. Namun dalam perjalanan, bisa jadi akan terpisah juga. Ada yang akan bertemu kembali dalam waktu dekat, ada yang akan bertemu lagi dalam waktu yang lama. Namun, entah berapa jarak rentang waktu itu, kita pasti akan bertemu lagi di sebuah tempat, yakni laut.
Dengan penganalogian (susah banget sih, ngomongnya) seperti ini, gue harap orang-orang yang akan mengalami perpisahan, termasuk gue, bisa mengerti bahwa selama apa pun kita berpisah, sejauh apa pun itu, kita bisa saja bertemu kembali di hari lain. Like two rivers flow to the open sea...
Sori banget ya, buat para pembaca setia Raka Bercerita. Sori, gue telat posting dan nggak bilang-bilang dulu. Belakangan ini gue mulai disibukkan macam2 kesibukan sekolah yang dateng silih berganti. Maklum, gue kan udah kelas 9. Jadi bentar lagi gue bakalan lulus... Yeeei...!!! (bergaya cheerleader habis nelen linggis).
Tapi sebelum bisa lulus, gue mesti melewati serangkaian gue harus bisa melewati segala kesibukan yang dateng silih berganti itu. Tugas-tugas yang numpuk, Try Out (TO), ujian praktek, Ujian Akhir Madrasah (UAM), Ujian Akhir Maadrasah Berstandar Nasional (UAMBN), dan puncaknya adalah Ujian Nasional (UN). Banyak banget ya? Memang inilah ujian-ujian yang harus dilalui para siswa madrasah. Kadang gue juga ngeri sendiri sih, kalo inget-inget ini. Tapi gue harus tetep berjuang biar bisa membanggakan ortu gue.
Sebenernya gue nggak terlalu niat buat posting malem ini. Perhatiin aja, bahasa yang gue pake lebih berantakan dan gak karuan. Tapi gue mikir, lewat posting ini gue bisa minta bantuan doa kepada lo semua, para pembaca blog gue. Jadi tanpa basa basi lagi...
DOAIN GUE SUPAYA SUKSES PADA UJIAN KALI INI YA...! DOAIN JUGA SUPAYA GUE BISA LULUS DAN MASUK KE SMA YANG GUE TUJU. Oke?
Jangan lupa doain kakak-kakak kalian yang lainnya juga ya. Entah itu kelas 6 SD, 9 SMP, atau 12 SMA. Sekian postingan gue kali ini.
Saat liburan sekolah kemarin, gue menghabiskan lebih dari 80% waktu gue buat di rumah. Yap, lebih dari 80%! Bagaimana bisa gue betah di rumah selama itu? Sebenernya gue sih juga nggak betah-betah amat. Ini semua terpaksa harus gue lakuin karena emang nggak ada alasan buat keluar rumah. Gue keluar rumah cuma buat satu alasan, yakni bersepeda. Itu pun gue lakuin sendirian, nggak ada temen.
Selama liburan kemarin, gue mendadak menjadi seorang Crossbones. Jangan pikir kalau Crossbones itu tulang yg habis dijilatin sama anjing. Crossbones adalah sebuah komunitas penggemar Avril Lavigne. Memang gue bukan anggota resmi dari komunitas itu. Tapi paling nggak, gue udah terhipnotis sama lagu-lagunya si Avril. Gue ulangi lagi, gue terhipnotis sama lagu-lagunya si Avril, bukan IDP.
Satu hal yang membuat gue terkesan sama lagu-lagunya Avril. Kebanyakan lagunya membuat gue galau. Yap, selama seminggu lebih, liburan gue di rumah habis buat dengerin lagu-lagu dari Avril, dan gue mengalami semacam penyakit “Galau semi-Akut.” Betapa nggak? Lirik dari lagu-lagu tersebut bener-bener nusuk. Suasananya juga nngak jauh beda sama gue saat itu dan sekarang.
Di sini, gue akan berbagi kutipan-kutipan lirik lagu dari Avril Lavigne yang sukses bikin gue galau selama liburan kemarin. Dan efek galau itu bener-bener masih kerasa sampe sekarang. Okay, check this out!
“When you walk away I count the steps that you take
Do you see how much I need you right now
When you're gone
The pieces of my heart are missing you
When you're gone
The face I came to know is missing too
When you're gone
The words I need to hear to always get me through the day and make it ok
I miss you”
Ya, itu dia kutipan lirik yang pertama. Lagunya berjudul “When You’re Gone.” Berdasarkan analisa gue, lagu ini punya tema tentang seseorang yang ditinggalkan oleh kekasihnya. Dia benar-benar sayang kepada kekasihnya dan amat merasa kehilangan.
Walau gue belum punya kekasih, tapi ini bener-bener seperti keadaan gue sekarang. Gue mencintai seseorang. Dan setiap dia pergi dari pandangan gue, gue langsung galau dan pergi bershower tanpa air (?).
***
“Waking up I see that everything is OK
The first time in my life and now it's so great
Slowing down I look around and I am so amazed
I think about the little things that make life great
I wouldn't change a thing about it
This is the best feeling
This innocence is brilliant
I hope that it will stay
This moment is perfect
Please don't go away
I need you now
And I'll hold on to it
Don't you let it pass you by
I found a place so safe, not a single tear
The first time in my life and now it's so clear
Feel calm, I belong, I'm so happy here
It's so strong and now I let myself be sincere
I wouldn't change a thing about it
This is the best feeling
This innocence is brilliant
I hope that it will stay
This moment is perfect
Please don't go away
I need you now
And I'll hold on to it
Don't you let it pass you by
It's a state of bliss, you think you're dreaming
It's the happiness inside that you're feeling
It's so beautiful it makes you wanna cry
It's a state of bliss, you think you're dreaming
It's the happiness inside that you're feeling
It's so beautiful it makes you wanna cry
It's so beautiful it makes you wanna cry
This innocence is brilliant
Makes you wanna cry
This innocence is brilliance
Please don't go away
Cause I need you now
And I'll hold on to it
Don't you let it pass you by
This innocence is brilliant
I hope that it will stay
This moment is perfect
Please don't go away
I need you now
And I'll hold on to it
Don't you let it pass you by.”
Yang ini panjang banget ya? Emang sengaja gue tulis lirik lengkapnya karena seluruh bagian lagu ini telah berhasil membuat gue galau. Lagu ini berjudul “Innocence.” Menurut analisa ngawur gue, lagu ini mengisahkan tentang seseorang yang menemukan sebuah tempat yang pas untuk hatinya. Entah yang ia maksud seorang pria, atau sebuah pasar grosir.
Gue juga pernah ngalamin hal kayak gini. Gue merasa udah menemukan sebuah tempat yang pas buat gue, yakni organisasi pers jurnalis “Fikruna” di sekolah gue. Saat menyadari betapa Fikruna itu pas buat gue, gue malah diharuskan meninggalkan mereka. Gue harus fokus ke pelajaran karena bentar lagi mau ujian nasional.
Hal ini membuat gue galau berhari-hari. Bahkan sampe gulung-gulung di kasur berjam-jam. Ya, gue ini memang anak yang cinta sama organisasi, bahkan melebihi kelas gue sendiri. Lagipula, di Fikruna ada seseorang yang spesial banget di hati gue. Betapa galaunya gue ketika harus meninggalkan mereka.
***
“Damn, Damn, Damn,
What I'd do to have you
Here, here, here
I wish you were here.
Damn, Damn, Damn
What I'd do to have you
Near, near, near
I wish you were here.”
Ini adalah kutipan lagu yang terakhir, yang berjudul “Wish You Were Here.” Sudah jelas terlihat dari liriknya, bahwa lagu ini mengisahkan tentang seseorang yang benar-benar membutuhkan seseorang di sampingnya. Dia akan melakukan apa pun hingga orang yang ia harapkan berada di sampingnya.
Bagaimana dengan gue? Saat liburan kemarin, jelas banget gue kangen sama temen-temen gue. Temen sekelas, temen seorganisasi, hingga temen yang bukan temen gue (?). Seminggu lebih nggak bertemu sama temen-temen, membuat gue nyanyiin lagu ini di mana pun gue bisa nyanyi. Tiada kamar mandi yang gue masuki, melainkan bermelodikan lagu ini.
Mungkin itu aja yang bisa gue post kali ini. Nantikan kisah-kisah gue yang lainnya ya...!