Showing posts with label Matsanda. Show all posts
Showing posts with label Matsanda. Show all posts

Sunday, August 18, 2013

Mereka, C-Action!

Bayangkanlah, lo sedang tinggal di sebuah rusun kecil di daerah terpencil, di pinggiran hutan bambu dan persawahan. Sumber cahaya cuma ada di sekitar lo aja. Lo nggak bisa ngelihat beberapa meter lebih jauh ke dalam kegelapan. Suara-suara mencekam terdengar dari kejauhan, bahkan tak jarang terdengar dekat. Seakan-akan sesuatu yang nggak diketahui wujudnya ingin menghantui lo.

Kejadian-kejadian janggal sering membuat tidur lo ngga nyenyak. Bawaannya jadi takut ke kamar mandi sendirian pas malem-malem. Dan setiap kali lo boker di tengah malam, selalu ada suara orang memakai sendal, lalu berjalan di atas tanah, dan suara itu terjadi berulang-ulang sampai lo keluar dari kamar mandi. Padahal saat itu semua orang di rusun sedang tidur.

Gue nggak mengada-ngada. Gue pernah mengalami itu semua bareng temen-temen gue, The FICTION, dulu pas masih tahun pertama (kelas 7) di MTs. Di MTs gue, anak akselerasi tinggal di asrama, yang lebih dikenal dengan nama MAHAD. Mahadnya sendiri terletak di salah satu pojokan madrasah, dibangun di atas bekas hutan sekolah. Di depan mahad adalah tempat parkir sekolah, yang menjadi jalan menuju masjid kalo pas lagi hujan. Di belakang mahad ada kebon. Gak tau itu kebon apa, pokoknya bukan milik madrasah dan jarang terlihat dikunjungi oleh manusia.

Kalian pasti bisa bayangin, gimana rasanya hidup dalam suasana mencekam seperti itu. Apalagi suasana MTs pas malem-malem, angker, gelap, dan cuma bagian asrama doang yang terang benderang. Apalagi kuadrat, gue sering tidur paling malem, atau kadang-kadang kebelet boker pas tengah malem. Yah, ini hanyalah satu dari sekian derita yang gue alamin bareng temen-temen seperjuangan gue di kelas aksel.

Selama setahun, malam-malam seperti itu pun kita lalui, di pojokan MTsN Kediri 2 tercinta. Hingga pada saatnya kita naik kelas. Ini adalah suatu pertanda. Pertanda bahwa The FICTION bakal punya adek kelas. Yeyyy......!!!

Ya, memang inilah yang sudah kita tunggu-tunggu, bahkan sejak sebelum tahun ajaran baru. ADEK KELAS..! Selama setahun ini, rasanya cuma kita sendiri yang merasakan penderitaan menjadi anak aksel, entah secara sistem pembelajaran maupun secara mental (jadi inget hinaan cercaan yang dilontarin sama anak kelas laen -___-). Akhirnya, kita akan punya saudara seperjuangan. Yeah!!

Gue inget, bahkan pas adek kelas masih MOS, anak kelas gue udah berani masuk-masuk ke kelas mereka dan kenal-kenalan. Kita juga ngajakin mereka main ke mahad alias asrama, calon tempat tinggal mereka nanti. Singkat cerita, kini mereka jadi temen kita di mahad. Mereka menamai diri mereka C-Action.

Ibarat sang surya yang menyinari dunia, mereka datang membawa semacam “pencerahan”. Segala angker yang dulu dirasa kini menghilang, diskriminasi atas kelas aksel berangsur-angsur berkurang sampai nggak ada lagi, makanan makin hari makin enak, kucing-kucing lucu berdatangan, dan ustadzah wali asrama berubah jadi baik (iyakah?). Tapi lebih dari semua itu, kita jadi merasa punya teman tinggal di mahad. Ya, kini kita memiliki saudara, adek kelas.

Gue nggak tau apa yang terjadi di cewek. Tapi kalo di cowok, The Fiction dan C-Action bener-bener deket. Gaada yang namanya kakak kelas – adek kelas. Semuanya sama-sama bareng. Main sepak bola bareng, main Dota bareng, makan bareng, tidur bareng (?).

Buat yang ceweknya, gue secara pribadi juga lumayan deket sama mereka. Dulu gue bertekad bakal menjadi anak cowok pertama yang hafal semua cewek C-Action. Sebagai anak paling gaul di kelas, tentu gue berhasil. Gue dan beberapa temen gue juga sering godain mereka. Seringkali iseng ngetok pintunya, terus kabur. Bahkan kadang-kadang sengaja buka pintu, terus kabur. Yah, masa-masa kelam ya begini ini -__-” (Maaf ya, buat yang merasa sering dikerjain. Hehe).

Adek-adek kelas gue yang satu ini emang punya banyak perbedaan sama kita, kakak-kakak kelasnya. Bisa dibilang, gue sering merasa iri sama mereka. Mereka memulai hidup mereka di mahad ketika sistem sudah mulai stabil (maklum, gue kan angkatan pertama, jadi kayak kelinci percobaan gitu).  Mereka juga kelihatan lebih kompak, nggak terlalu banyak konflik. Nggak kayak kelas gue yang cowok sama ceweknya hampir ga pernah akur. Mereka kayaknya sering foto lengkap sekelas, yang mana kelas gue cuma pernah melakukan hal itu sekali. Mungkin anak-anak kelas mereka lebih narsis daripada anak kelas gue. Haha...


Yah, semua itu hanyalah “kelihatannya”, “kayaknya”, dan “mungkin”, alias apa yang gue lihat tentang mereka. Gue sendiri nggak tau bagaimana mereka memandang diri mereka sendiri. Yang jelas, rasa iri gue sebenernya adalah rasa bangga, karena mereka punya banyak hal yang nggak dimiliki The Fiction. Selain itu, mereka juga baik-baik dan asik-asik. Bahkan sesekali gue lebih merindukan mereka daripada kelas gue sendiri, The Fiction. Karena jujur saja, gue pernah punya suatu urusan dengan kelas ini, yang itu menjadi salah satu kenangan paling penting dalam hidup gue.

Mereka beranggotakan 14 anak manusia, dengan komposisi 5 cowok dan 9 cewek. Bagus, David, Iggoor, Syahrul, Rafly, Tira, Ima, Dea, Indah, Qila, Risma, Monica, Salsa, dan Bella. Dua di antara mereka, Rafly dan Ima, menjadi penerus gue di MAN ICS.


Ini semua terjadi sudah cukup lama, ketika The Fiction dan C-Action masih tinggal dalam satu asrama, satu mahad. Setelah lulus, gue nggak terlalu banyak tahu tentang hubungan mereka dengan adek kelas yang baru, Antiction (angkatan ketiga). Yang jelas, di awal tahun ajaran baru ini, gue sempet merasa kaget, “Wow, perasaan kemaren mereka baru masuk MTs deh. Kok sekarang udah pada SMA ya?” Yak, tahun ini mereka baru lulus dari MTs. Tapi, mereka akan tetep menjadi adek kelas gue yang paling imut sedunia :3

Beberapa The Fiction dan semua C-Action pas perpisahan angkatan gue

Saturday, August 10, 2013

Gue dan Sesuatu yang Bernama Jurnalistik

Jurnalistik? Hmm.. Sebenernya udah sejak kecil gue menaruh (?) minat gue di sana. Saat gue mulai mengenal asyiknya tulis menulis. Ketika itu gue masih SD, dan gue sudah menulis di blog yang sekarang gue tinggalkan dengan dua posting di sana. Sayangnya, di SD dulu belom ada ekskul jurnalistik.

Suatu hari, seorang dari alumni berkata padaku, “Di MTs 2 ada organisasi jurnalis lho dek, namanya Fikruna. Kamu ikut aja.” Sejak itu gue jadi pengen cepet-cepet lulus SD biar bisa ikut Fikruna. Alhamdulillah, gue lulus SD dan masuk ke MTs 2. Gue pun join ke Fikruna tanpa pikir panjang. Gue pun mendapat ilmu baru di sana. Gue baru tahu kalo jurnalistik nggak sebatas tulis-menulis artikel doang. Di dalamnya juga ada fotografi, desain grafis, layout-layout gitu, mading, wawancara, dll.

Banyak pengalaman seru gue lalui bareng Fikruna, apalagi pas acara School Contest V yang diikuti oleh SMP/SMA sederajat dari seluruh Karesidenan Kediri. Ada macem-macem lomba, seperti perang mading, jurnalis blog, fotografi, band sekolah, akustik, dance, putri lingkungan, dll.

Fikruna tentu gak mau ketinggalan di lomba-lomba jurnalistiknya, terutama PERANG MADING. Sebelum acara, kita bela-belain nginep di sekolah buat ngerjain mading 3D. Terus, jaga mading di spot lombanya dari pagi sampe malem, selama tiga hari. Selama itu, gue kenalan sama kru-kru mading dari sekolah lain.

Mading super keren punya Fikruna

Beberapa kru mading Fikruna Matsanda

Pas malam puncak, bersama 2 penghargaan

Oh ya.. Sebenernya gue bukan bagian dari kru mading. Pas School Contest, gue ikutan lomba blog jurnalis, yang sistem lombanya sama persis sama journalist on the spot-nya Sonic Linguistic (bedanya, jurnalis blog di SC satu tim 3 orang, ngga individual kayak JOTS-nya Sonlis). Tapi, sebagai anak Fikruna, gue juga tetep bantu bikin mading. Gue bahkan menjaga mading lebih lama dari kru mading yang laen, karena gue harus stay di gedung tempat lomba itu dari pagi sampe malem, demi memburu berita. Gak kayak kru mading yang bisa gantian jagain mading. Sayang, pas itu blog gue belom menang.

Prestasi Fikruna sebenernya cukup membanggakan. Tapi entah mengapa, Fikruna menjadi organisasi yang paling dicampakkan oleh pihak sekolah di antara 5 organisasi besar di MTs. Jelas kita kesel gara-gara ini. Tapi, gara-gara itu juga kita dipersatukan, dikompakkan. Fikruna adalah pelarian pertama gue kalo gue bosen ato ada konflik di kelas. Bisa dibilang, gue cinta sama organisasi yang satu ini.

Gue seneng karena berkesempatan menularkan bekal yang gue dapet dari Fikruna di kelas. Gue ketua kelas pas tahun kedua, dan gue pimpin kelas gue dalam lomba mading 2D antar kelas. Ini adalah satu dari sangat sedikit lomba antar kelas yang kelas gue diizinin buat ikut. Maklum, kelas aksel. Gue coba memanfaatkan potensi dari semua anggota kelas (yang kebanyakan dari mereka ngga sadar itu). Alhamdulillah, kelas gue pun jadi juaranya. Kelas gue ngalahin 9A yang sejak dulu terkenal selalu memenangkan lomba mading kelas, di lomba mading pertama yg kita ikuti.

Mading berjudul "Kampung Nusantara" bersama bidadari-bidadari The FICTION

Selama MTs, pergerakan gue di organisasi sangat dibatasi (yah, walau pada kenyataannya gue sering melanggar batas itu). gue berniat untuk “balas dendam” di SMA nanti. Dan Alhamdulillah, gue diterima jadi siswa di IC. Dulu, gue berangan-angan untuk melanjutkan kesibukan gue di bidang jurnalistik. Tapi entah, gue agak kecewa sama ekskul jurnalis di IC. Jurassic (nama ekskul jurnalis) nggak terlalu kelihatan performanya. Gak pernah ikutan lomba, anggotanya pada males ngumpul, dan kelihatan aja kurang berkarya. Jurnalistik dianggep sebagai sesuatu yang nggak terlalu penting. Hal ini pelan-pelan membuat gue lupa dengan jurnalistik.

Namun, sekarang gue menatap ke depan. Gue dapet amanah buat jadi koordinator OSIS divisi jurnalistik di kelas XI ini. Gue jadi merasa diingatkan kembali kepada apa yang dulu gue gemari. Jurnalistik memang bukan cita-cita gue.  Bakat pun bahkan belom tentu. Ia hanya sebatas minat, kegemaran, kesukaan, hobi. Namun, dulu gue banyak belajar darinya. Gue dapet banyak teman, banyak pengalaman, banyak manis-pahitnya hidup, dan banyak cinta. Ya, mulai sekarang gue akan menatap ke depan.

Saturday, June 29, 2013

Something "Kediri" In IC

IC adalah lingkungan yang multikultural. Berbagai macam ras dan kebudayaan berkumpul jadi satu di sini. Mulai orang Minang, Betawi, Sunda, Jawa, gaul, alim, alay, dll (yang merasa disebut atau ngga disebut, mohon jangan tersinggung yaa...). Gue jadi tahu kalo Indonesia bener-bener luas dengan berbagai macam budayanya. Berhubungan dengan hal ini, maka bermunculan komunitas-komunitas kedaerahan di IC. Tujuannya tentu bukan untuk membuat perpecahan, dan tentu lebih dari sekedar “ngumpul bareng”. Komunitas-komunitas ini umumnya bergerak saat Romadhon dengan mengadakan buka puasa bareng, bahkan beberapa ada yang mengadakan pulang bareng komunitas pas libur lebaran.

Sebelumnya, gue mau minta maaf kalo ada salah sebut atau semacamnya. Mereka adalah HORAS (himpunan orang-orang rantau asal Sumatra), MEGAKOM (megapolitan community alias orang2 Jabodetabek), PARAHYANGAN atau GBF (gabisa bilang “f “alias orang2 Sunda), SEJATI (Sentral Java community), dan JATMIKO (Jawa Timur community). Lima nama itu adalah lima komunitas kedaerahan raksasa di IC. Tentu gue tergabung dalam JATMIKO.

Nah, gue berangkat ke IC juga nggak sendiri. Gue punya temen-temen seperjuangan dari Kediri. Mereka adalah Mirza, Opi, Ica, Nida, dan Bintang. Pas MTs, mereka adalah kakak kelas gue. Jadi, sampe sekarang gue masih manggil mereka pake sebutan “mas” dan “mbak”. Tapi, sekarang kita jadi seangkatan karena dulu gue aksel. Ya, kita ber-6 sekarang sedang memperjuangkan keadilan kehidupan agar tetap bertahan di IC, dan tentu saja berusaha membawa nama baik almamater MTsN Kediri 2 tercinta.

Selama di MTs, gue nggak pernah deket sama orang-orang ini. Bahkan ada di antara mereka  yang baru gue kenal gara-gara mau tes masuk ke IC. Tapi, sekarang mereka justru jadi temen-temen deket gue. Kita lumayan sering ngumpul kalo dibandingkan sama anak-anak kota/daerah lain. Pas ngumpul, kita biasanya ngobrol-ngobrolin gitu lah. Biasa, anak muda. Hehe banyak hal. Misalnya, masa lalu, temen-temen di MTs, cerita-cerita selama liburan, masalah angkatan, kegiatan di kelas masing-masing, kakak kelas, guru, dan masih banyak deh. Terus, kita juga selalu sempetin waktu buat poto bareng tiap kali ada kegiatan.

Oke, sekarang kita udah punya komunitas orang-orang Kediri di IC. Sempet ada yang ngusulin nama Nagh Kediri Community, yang kalo disingkat jadi Naked Community. Awalnya kita sepakat dengan nama keren itu (kecuali singkatannya). Tapi akhir-akhir ini kita mulai nggak srek sama nama ini. Yah, mungkin pikiran kita udah mulai menjernih.

Hmmm... Kita di IC ini gak cuma sekolah. Dan, bisa dibilang anak Kediri rata-rata aktif dan berprestasi, baik di kelas, angkatan, sampe OSIS. Nah, gue mau langsung nampilin poto-poto eksis anak Kediri di IC. Beberapa di antaranya nggak lengkap, tapi selalu ada gue di sana. Yah, gue nggak tau anak-anak Kediri pernah poto tanpa gue ato nggak. Yang penting, inilah poto-poto yang gue punya...

Pas lagi kunjungan ke istana negara seangkatan. Mana istananya? Ga kelihatan, ini pas lagi di tempat parkirnya.
(dari kiri atas) Ica, Opi, Nida, Bintang, Mirza, gue

Nah, ini pas lagi jadi panitia Sonic Linguistic 2013.
Opi, Nida, Mirza, gue

Studi kolaboratif Astonic... Di salah satu spot di villa di puncak.
Mirza, Bintang, Opi, Ica, Nida, gue

Di Monas, sebelum ke Stasiun Gambir buat pulang libur kenaikan kelas. Oh ya, ini adalah sore sebelum malam HUT Jakarta loh...
Bintang, Nida, gue, Mirza

Yak, ini pas liburan puasa, Anak ICS-ICG angkatan gue ngumpul di MTs buat silaturahmi sekalian cerita-cerita.
(ICS) Mirza, gue, Ica, Opi, Bintang. (ICG) Naja, Rahma

Sunday, June 17, 2012

Rusun Al-Azhar, Asrama Kita


Halo semuaaa...! Pagi hari tadi gue habis acara perpisahan kelas 9 nih. Rasanya sedih, harus meninggalkan madrasah tercinta dengan kenangan-kenangan yang sudah tercetak dalam hati ini. Pasti akan sulit untuk melupakan semuanya.
Salah satu kenangan terbaik yang gue miliki adalah bersama teman-teman sekelas gue saat di asrama. Di tengah-tengah waktu santai ini, gue ingin bercerita kepada kalian semua tentang asrama yang gue tempati selama di MTs ini. Gue inget pernah posting tentang ini. Namun penulisan posting yang lama cukup berantakan. Jadi gue putuskan untuk me-remake posting tentang asrama gue. Selamat membaca...
Kalo lo mengikuti posting-posting gue sebelumnya, lo pasti tahu kalo gue adalah anak Acceleration Class Program alias ACP. ACP mewajibkan bagi para siswanya untuk tinggal di asrama agar lebih fokus belajar. So, selama dua tahun ini gue tinggal bersama temen-temen gue di asrama.
Asrama tempat gue tinggal lebih dikenal dengan nama ‘Mahad Al-Azhar’.  Program di asrama memang bukan hanya untuk memforsir para muridnya dengan pelajaran-pelajaran tambahan, namun juga memberikan pendidikan islami layaknya pondok pesantren, seperti kitab kuning, kitab gundul, dan kitab-kitab lainnya. Oleh karena itu, asrama ini diberi nama ‘mahad’ agar terkesan islami.
Mungkin kedengarannya elit banget. Gue anak kelas akselerasi, dan gue mendapatkan fasilitas boarding school alias asrama atau mahad. Namun, dibalik semua itu ada banyak hal absurd yang tak nampak. Semua itu berasal dari para penghuninya, terutama para cowok.
Salah satu contohnya datang dari seorang cowok yang punya tampang keren. Dia memiliki banyak fans hampir di setiap kelas di MTs. Namun, anak itu suka ngentut. Dan hal ini hanya diketahui oleh penghuni mahad. Seringkali kentutnya nggak bersuara, namun baunya lebih nggak enak dari kentut beruang. Mungkin dia memang sengaja menyamarkan suara kentutnya, agar ketika semua anak sedang lengah, ia bisa membuang gas beracunnya itu tanpa diketahui, hingga ia bisa membunuh hidung milik temannya.
Namun, ada juga anak yang nggak suka buang-buang kentut. Dia sayang banget sama kentutnya. Saat kepepet akan meledak, dia langsung mencari seorang temannya. Dia tempelkan pantatnya ke pantat orang lain, lalu melakukan semacam ‘transfer kentut’. “Daripada mubadzir, lebih baik diberikan kepada teman,” begitu katanya.
Kalo menurut gue, asrama gue ini lebih pantas disebut rusun (rumah susun). Gimana nggak? Keadaan di Mahad Al-Azhar emang bener-bener absurd dan nggak jelas, persis rusun. Ada handuk-handuk yang dijemur sembarangan, ada ustadzah yang galak banget dan lebih mirip penagih uang sewa rusun, ada banyak kucing liar yang doyan gangguin anak-anak pas makan, ada anak yang suka ngambil celana dalem temennya terus dilempar-lempar ke teras, ada anak pacaran, bahkan ada beberapa anak yang maho di sana.
Masalah anak yang maho, ada kisah unik dari ‘sepasang’ lelaki. Dua anak tersebut mesra banget. Setiap kali mereka berpapasan pasti peluk-pelukan dan cipika-cipiki. Mesra banget, dan itu menjadi salah satu hiburan tersendiri bagi kita yang melihatnya.
Suka duka telah gue lalui di Mahad Al-Azhar selama dua tahun ini. Bagaimana pun juga, gue sedih harus meninggalkan ini semua. Banyak hal yang sudah gue lalui di sini, dan itu membuat gue menjadi lebih berpengalaman. Di sini pertama kalinya gue main layangan, ngerusak laptop temen, pacaran sama cowok, dan banyak lainnya.
Hanya satu harapan gue buat mahad. Gue berharap, mahad bisa jadi lebih baik dari sekarang. Gue ingin generasi penerus gue menjadi orang baik-baik. Nggak kayak kita, kakak-kakaknya yang absurd begini.
Dan jangan lupa, nantikan cerita berikutnya ya..!!!

Thursday, June 14, 2012

Kesan yang Ditinggalkan


Halo, teman-teman semua. Udah lama banget ya, gue nggak posting. Gue jadi kasihan sama kalian, udah kelamaan nungguin cerita dari gue. Kalian kok pada pasang wajah melas ya? Eh, lo yang dipojokan sana jangan nangis dong. Udah, sini deh.. Semuanya dapet *pukpuk* gratis dari gue. Gue baik kan? So pasti dong, gue gitu loh.
Oke, cukup basa-basinya dan mari kita mulai cerita hari ini.
Gue ingin berbagi kisah tentang kesan-kesan yang pernah gue tinggalkan di MTsN Kediri 2 selama gue sekolah di sana. Yang gue bicarakan di sini adalah kesan yang (mungkin) baik bagi orang-orang. Soalnya, kalo gue cerita tentang kesan yang buruk, itu namanya membuka aib. Kata ibu itu nggak boleh dilakukan, walau gue sering juga sih, buka-buka aib pada posting lainnya.
Kesan yang gue bicarakan di sini berkaitan dengan sifat ke-PD-an gue yang berkembang secara abnormal dalam jiwa gue. Itu semua berkaitan dengan ‘kreasi’, ‘panggung’, dan ‘banyak orang’. Dengan kata lain, ini semua berkaitan dengan pengalaman gue saat tampil di muka umum selama gue ada di MTsN Kediri 2.
PD alias percaya diri udah merupakan harga mati dalam hidup gue. Saking PeDenya gue, sifat itu bagaikan sudah mendarah daging hati jantung otak pundak lutut kaki dan lain-lainnya. Bahkan nggak main-main, saat hari pertama masuk MTs, gue sudah berani maju ke muka umum. Waktu itu masih matrikulasi. Yang masuk sekolah hanya calon murid kelas excellent dan akselerasi. Saat itu, kita semua masih pake seragam dari SD masing-masing.
Matrikulasi adalah pelajaran yang harus diambil oleh calon siswa kelas excellent dan akselerasi. Matrikulasi bertujuan untuk memperdalam materi bahasa inggris dan bahasa arab, agar tak kesulitan saat mulai sekolah nanti. Jumlah calon siswa yang ada sekitar 80 itu dibagi menjadi enam kelompok. Kegiatan ini berlangsung selama beberapa minggu, dan gue sangat enjoy menjalaninya.
Saat itu adalah jam pelajaran bahasa arab. Di hari pertama ini, semua kelompok dikumpulkan jadi satu di aula. Kita diajarkan sebuah lagu berbahasa arab yang judunya ‘Assalamualaikum’. Habis diajarin, sang tutor meminta seorang anak untuk maju dan menyanyikan lagu tadi. Gue tengok kanan kiri. Gue melihat anak-anak pada pasang wajah khawatir. Dari wajah cemas mereka, terpancar kata-kata “Gimana kalo gue yang dipilih?”
Entah bagaimana ceritanya, gue jadi kasihan sama mereka. Tanpa basa-basi lagi, gue langsung acungkan jari tangan gue dan langsung maju. Gue nyanyi dengan PD-nya di depan banyak anak. Gue tetep pasang wajah nggak berdosa, padahal banyak salahnya. Yang penting gue bangga bisa membuat kesan pertama, dan membuat orang-orang kenal gue. Mungkin gara-gara itu, gue dijadikan ketua kelompok oleh temen-temen.
Pernah juga gue tampil bareng temen-temen gue sekelas pada perpisahan kelas 9 tahun lalu, di aula MTs. Waktu itu kita menampilkan drama berjudul ‘Andhe-Andhe Lumut’. Pasti lo sudah banyak yang tahu, kalo kisah ini bercerita tentang seorang pangeran yang sedang mencari cinta. Pangeran itu akhirnya jatuh cinta pada seorang gadis yang merupakan anak tiri dari seorang janda. Gadis yang dicintai pangeran itu selalu dicaci maki dan disuruh-suruh layaknya pembantu oleh saudara-saudara tirinya. Namun karena kekuatan cinta, gadis itu pun bisa menikah dengan pangeran.
Begitulah kurang lebih ceritanya (seinget gue). Kisah di atas bisa dibilang cukup epic. Namun, dengan bantuan dari guru bahasa indonesia dan guru bahasa jawa, kelas kami berhasil mendaur ulang cerita rakyat tersebut menjadi lakon yang lucu. Di dalam ceritanya, terdapat juga seorang lelaki yang berperilaku layaknya perempuan (baca : banci) bernama Klenting Ganyong. Sialnya, gue lah yang harus memerankan tokoh itu.
Awalnya, gue takut kejantanan gue sebagai laki-laki akan memudar jika menerima peran itu. Namun, apa daya gue? Hanya gue anak yang bisa berperan menjadi apa pun di atas panggung. Lagipula jika gue nggak mau memerankan tokoh itu, gue terancam nggak akan tampil dalam lakon ini. Akhirnya, dengan berat hati gue menerima peran ini.
Namun, akhirnya gue nggak nyesel. Setelah itu, semakin banyak orang yang mengenal gue. Bisa dibilang, gue semakin terkenal gara-gara ini. Selain itu, gue jadi ngerti tentang satu hal. Jika berdandan seperti cewek, gue benar-benar terlihat cantik. Gue sampai jatuh cinta sama diri gue sendiri! Gile, sodara-sodara!
Semua tadi gue lakukan saat kelas satu. Setelah berganti tahun pelajaran, gue naik jadi kelas dua. Pas kelas dua ini, gue menjadi ketua kelas berdasarkan hasil voting. Awalnya gue takut jadi ketua kelas, karena tanggung jawabnya yang besar benget. Namun lama-kelamaan gue enjoy juga, karena kerjanya ketua kelas ternyata lebih enteng daripada sekretaris. Bagaimana gue bisa tahu? Karena saat kelas satu, gue lah yang menjadi sekretarisnya. Protes?!
Selama gue memimpin ACP2, bisa dibilang kita lebih sukses daripada tahun lalu. Tahun ini kita berhasil meraih juara pertama pada setiap perlombaan antar kelas yang kita ikuti. Yang pertama adalah lomba mading antar kelas, kita mendapat juara 1 untuk kategori kelas 9. Yang kedua dan ketiga adalah lomba kelas terpadu alias kelas terbersih dan lomba yel-yel saat jalan santai, kita juga mendapat juara 1 mengalahkan seluruh kelas tujuh sampai sembilan.
Semua itu tak lepas dari peran seluruh anggota kelas yang sudah mau bekerja dengan sungguh-sungguh untuk mencapai yang terbaik. Terutama anak cewek, yang paling banyak kerjanya, membersihkan kelas dalam lomba kelas terpadu. Selain itu, wali kelas kami, Bu Eka yang rajin menemani, memberi dukungan, dan memasakkan makanan yang sehat untuk kami semua. Juga Pak John, pengurus program akselerasi yang baru, yang mengizinkan kami mengikuti berbagai macam lomba. Kesempatan ini tak banyak kami jumpai pada tahun pertama, karena memang pengurus akselerasi yang lama nggak memperbolehkan kita ikut banyak kegiatan sekolah.
Kembali ke topik pertama, gue juga pernah tampil pidato dadakan saat buka puasa bersama kelas 8. Ceritanya nih, sebelum buka puasa, anak-anak disuruh mendengarkan pidato seputar islam dari seorang siswi kelas 8I, namanya Risma. Pas dia sudah selesai ngomong di depan anak-anak, masih ada waktu beberapa belas menit sebelum waktu berbuka. Tiba-tiba, seorang guru menantang anak cowok ACP2 untuk pidato secara spontan di depan semua anak. Katanya, beliau ingin mengetahui kemampuan anak-anak kelas kita. Semua anak langsung menunjuk ke arah gue.
Busyet, kenapa harus gue?! Si Risma sih enak, dia udah latihan selama beberapa minggu. Sedangkan gue, harus tampil spontan! Terpaksa deh, gue mikir-mikir sebentar, lalu mendapat ide untuk pidato tentang silaturahmi. Ya udah, gue maju ke depan anak-anak dan ngomong ceplas-ceplos aja. Biarpun agak gugup juga sih, tapi gue seneng dan bangga banget. Hehe.
Setelah sekian lama menjalani tahun kedua ini, mental gue semakin terasah. Gue semakin PeDe dan pemberani. Hingga tibalah hari peringatan HUT Matsanda (MTsN Kediri 2). Sebenernya, hari jadinya sih masih tanggal 16 Maret. Namun sebelum itu, pada hari Minggu, 11 Maret 2012 Matsanda mengadakan jalan santai untuk memeriahkan HUT-nya. Pada jalan santai kali inilah, ada lomba yel-yel terbaik. Dan kelas gue lah yang mendapat juara pertama.
Seperti biasanya, selalu ada pentas dan pembagian doorprize sesudah jalan santai. Kebanyakan anak-anak sih menampilkan band dan karaoke lagu dangdut. Namun gue berani menampilkan hal yang berbeda dan baru, yakni stand up comedy. Memang, waktu itu gue baru mengenal stand up comedy, dan gue langsung tertarik untuk mencobanya. Saat mendengar ada seleksi untuk tampil saat pentas HUT Matsanda, gue langsung mendaftarkan diri gue untuk menampilkan stand up comedy.
Bisa dibilang, gue adalah orang pertama yang menampilkan wujud stand up comedy dalam sejarah pentas di MTsN Kediri 2 ini. Untuk percobaan pertama, gue tampil dengan materi jiplakan dari Raditya Dika, namun dengan gaya gue sendiri (maaf ya Bang!). Tampaknya penampilan gue cukup memuaskan, karena bisa membuat banyak orang tertawa. Bahkan Pak Nur Salim, kepala madrasah pun sampai terpingkal-pingkal, karena ada salah satu lawakan khas beliau yang gue pakai. Namun, gue masih mendapat beberapa kritik, seperti terlalu cepat, kurang jelas, dan materi yang copas Raditya Dika.
Untungnya, gue sempet memperbaiki penampilan gue saat perpisahan kelas 9, beberapa minggu yang lalu di aula MTs. Kali ini gue membuat materinya sendiri, dan mencoba memperbaiki gaya bicara gue. Namun sayang banget, dari sekian materi yang gue buat, beberapa di antaranya terasa nggak layak untuk ditampilkan saat momen perpisahan. Terpaksa gue hilangkan, dan durasinya jadi sedikit. Namun gue cukup puas karena bisa memperbaiki penampilan pertama gue.
Ya, itulah wujud dari ke-PD-an gue yang bisa dibilang abnormal. Sebenarnya masih ada beberapa lagi. Gue pernah jadi anggota paskib MTs, tampil maen rebana, dan laen-laen.  Namun itulah yang paling mengesankan dan membekas di hati gue.
Jadi siswa akselerasi, memang memiliki banyak tuntutan dalam hal pelajaran. Namun hal itu nggak bisa menghadang gue untuk tetap berkreasi dan berinovasi, serta meninggalkan kenangan yang mengesankan agar selalu diingat sampai kapan pun.

Saturday, April 28, 2012

Yang Merepotkan setelah UN

Hai semua? Gimana nih, perasaannya anak-anak SMP/MTs yang habis menjalani UN? So pasti lega banget donk, sama kayak gue. Gue merasa seperti baru mejalani suatu puncak acara dalam pembelajaran selama tiga tahun di sekolah (dua tahun buat kelas aksel). Sudah tidak ada lagi ulangan dadakan, PR menumpuk, lembur ngerjain tugas, dan lain-lain. Rasanya, gue seperti terlepas dari segala macam hal yang mengikat anak sekolah. Gue bagaikan tikus got yang baru sembuh diare.
Namun masih ada satu hal lagi yang merepotkan murid setelah menjalani ujian, yakni mencari sekolah baru. Mencari sih emang gampang, namun berjuang untuk mendapatkannya itu yang nggak bisa dibilang gampang. Dan dalam hal ini, gue termasuk anak yang gila-gilaan banget. Gimana enggak? Temen-temen gue normalnya cuma mendaftarkan diri ke satu atau dua sekolah saja, tiga itu maksimal. Sedangkan gue mendaftarkan diri ke empat sekolah sekaligus.
Kali ini gue ingin bercerita sedikit mengenai perjuangan gue dalam berburu sekolah-sekolah itu. So, ini dia sekolah-sekolah yang gue mendaftarkan diri di dalamnya, dan berikut sedikit kisah perjuangan gue. Cekidot!
1.       MAN Insan Cendekia Serpong
Ini nih, sekolah yang menjadi tujuan utama gue untuk lanjut ke jenjang berikutnya. MAN Insan Cendekia Serpong ini dikabarkan sebagai MAN terbaik se-Indonesia. Gue sudah mendengar tentang madrasah ini sejak awal masuk MTs, saat itu masih kelas satu. Jika kita berhasil lolos tes dan menjadi murid di sini, maka kita akan mendapat full scholarship alias beasiswa penuh. Kita juga akan diasramakan di sana.
Syarat buat masuk ke sini ada banyak banget. Kita harus menjadi sembilan peringkat terbaik secara paralel atau pernah menjadi juara lomba tingkat nasional, serta mendapat rekomendasi dari sekolah. Itu baru tes seleksi berkas. Belom tes-tes lainnya. Apalagi sekolah ini diperebutkan oleh ribuan siswa se-Indonesia. Tentu nggak gampang untuk menjadi murid di sini.
Gue bersama temen-temen yang mau daftar kesana harus berjuang bareng. “Biarpun kalian semua saling bersaing, namun kalian ini team dari MATSANDA (MTsN Kediri 2). Buatlah MATSANDA bangga dengan diterimanya kalian di MAN IC,” kata Bu Yosi, guru BK. Itu berarti, merupakan suatu kebanggaan besar jika siswa MTs 2 ada yang bisa sekolah di MAN IC. Dan insyaallah siswa itu adalah gue (aamiin).
Tes seleksi berkas sudah kami lakukan. Kami mengirimkan rapor, data, dan aplikasi yang dibutuhkan secara on-line. Pengumumannya pun secara on-line. Alhamdulillah, semua pendaftar dari MTs 2 lolos tes ini. Namun gue dan temen-temen masih harus berhadapan dengan tes tulis, pada 12 Mei 2012.
2.       SMAN 10 Malang
Tujuan gue yang lain adalah SMAN 10 Malang. Sekolah ini berlokasi di Malang (udah jelas dari namanya). Sekolah ini diasuh oleh Putera Sampoerna Foundation. Jika gue lolos tes masuk dan sekolah di sini, gue juga akan diasramakan di sana dan mendapatkan full scholarship.
Untuk bisa masuk ke sekolah ini, gue harus mengikuti beragam rangkaian tes dulu. Yang pertama adalah tes seleksi berkas. Gue harus mengisi formulir aplikasi yang sudah disediakan. Ada formulir data gue dan orang tua gue, karangan berbahasa indonesia dan inggris, serta rekomendasi dari guru dan kepsek.
Gue sempat mengalami kendala dalam proses memenuhi formulir aplikasinya. Berhubung SMAN 10 Malang pada hakekatnya adalah untuk orang tidak mampu, gue jadi diejek sama kepsek gue. “Kamu ini orang mampu, kok mau sekolah di sana. Saya nggak mau ngasih rekomendasi buat kamu,” kata beliau. Mendengar itu, gue langsung illfeel mendadak. Untungnya, dengan rayuan maut dan bantuan dari bapak gue, pak kepsek pun mau ngasih rekomendasi buat gue.
Menurut brosurnya sih, pengumuman tes seleksi berkas akan diumumkan pada minggu keempat bulan ini. Tapi gue cek di internet, kok belum muncul-muncul pengumumannya. Yah, gue cuma bisa menunggu.
3.       SMAN 1 Kediri
SMAN 1 Kediri merupakan SMA favorit se-Karesidenan Kediri. Jadi, orang-orang di luar Kota Kediri pun ingin sekolah di sini. Sekolah ini memiliki program RSBI dan akselerasi. Kalo di sini sih, sebenernya gue belom daftar. Soalnya pendaftaran untuk tes masuknya baru mulai dibuka besok senin. Tapi gue memang udah niat mau daftar di sini, sebagai salah satu cadangan jika gue tidak diterima di opsi pertama atau kedua.
4.       MAN 3 Kediri
Kebanyakan siswa MTs 2 paling doyan ngelanjutin sekolahnya ke MAN favorit se-Karesidenan Kediri ini. Termasuk gue yang juga daftar untuk tes di sini. Tes masuknya sudah berlangsung lama, jauh sebelum UN. Dan gue sudah diterima di sana sebagai murid RMBI (Rintisan Madrasah Berstandar Internasional). Di sekolah ini juga ada program lain, yakni akselerasi dan kelas reguler. Tempat di MAN 3 Kediri ini juga gue jadikan cadangan.
***
Nah, itu dia yang dapat gue ceritain ke kalian. Kalo melihat cerita di atas, mungkin kalian heran mengapa gue kok pengen banget sekolah di luar kota. Apa gue nggak bakal kangen sama rumah, temen-temen, ato kasur kesayangan gue? Satu hal yang pasti, pikiran gue udah teracuni oleh sesuatu yang amat melekat dan sulit untuk dihilangkan, yakni nasihat ibu. Ibu gue pernah berkata :
“Mas, bumi ini adalah milik Allah. Jelajahilah semuanya, karena kamu memang berhak untuk menjelajahinya.”
Itulah sebabnya gue terobsesi banget untuk sekolah di luar kota. Tapi anehnya, ibu gue malah jadi orang yang paling sayang kalo gue jadi sekolah di luar kota. Bapak sih, selalu mendukung apa pun kemauan gue. Kalo adek, dia malah kegirangan banget karena gue pergi jauh dari rumah. nggak ada lagi yang bakal gangguin dia nonton TV atau main komputer.
Nah, untuk kelancaran gue dalam menggapai cita-cita, tentu tak henti-hentinya gue mohon doa yang tulus kepada kalian, para pembaca yang terhormat wajah kayak tomat selebar pantat, supaya gue bisa sukses dalam segala yang gue lakukan, selama itu merupakan hal yang baik :)

Saturday, April 21, 2012

Sabotase Kecil-Kecilan


Emang kebangetan gue, masih berani-beraninya ng-update blog ini?!?! Bukannya besok lusa udah UN? Sadar Raka, sadar...!!! Hmmm... Sebenarnya ini gue lakukan karena gue sayang sama semua pembaca blog gue. Jadi gue sempet-sempetin waktu buat ng-update nih blog. Hehehe...
Selain itu, ada alasan lain mengapa gue ng-pdate blog ini. Ini karena gue memang hobi banget menulis. Dan entah mengapa, semangat untuk mengerjakan hobi ini sedang berkobar-kobar. Jadi, tolong izinkan gue untuk meng-update blog ini. Hehehe...
Memang gue sedang semangat menulis kali ini, dan hal ini gue buktikan dengan sebuah kegiatan sabotase kecil-kecilan. Beberapa hari lalu, gue menyabotase mading karya adek kelas gue. Tema mading tersebut adalah “hari-hari spesial di bulan April” <-- (mungkin). Gue melihat ada satu hal yang kurang di mading tersebut, yakni artikel tentang ujian nasional. Gue pun memiliki inisiatif untuk menambahkan artikel mengenai itu. Dan gue rasa kegiatan ini baik, karena termasuk bagian dari sodaqoh.
Selepas subuh, gue langsung mengarang ‘artikel sekali jadi’, lalu langsung gue tempelin di mading milik adek kelas gue. Gue rasa, artikel gue bagus. Tapi nggak tau kenapa, mereka menolaknya. Ya udah,gue share aja di blog gue ini. Inilah, artikel yang gue bangga-banggakan tersebut :
Ujian Nasional
Hoi coyy...!!! Di bulan ini ada juga lho, hal yang sesuatu beudth bagi anak-anak kelas 9 se-Indonesia. Yap, lo semua juga udah tau bahwa yang gue maksud adalah Ujian Nasional (UN).
UN adalah ujian yang diadakan oleh negara. UN diadakan untuk mengukur kemampuan siswa-siswi yang sudah belajar selama 3 tahun di SMP/MTs. Peristiwa ini amat sangat penting beudth. Saking bermaknanya ujian ini, sampai ada lagu “c.U.N.t.a” yang dipopulerkan oleh D’Bagindas.
Ada empat pelajaran yang jadi mata UN SMP/MTs : Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA. Semua pelajaran itu tentu tak ‘kan terasa sulit jika kita semua mau belajar dan berusaha keras. Buat kakak-kakak kelas 9 tercinta :
Cememmudth ea kkq...!
Sukses UN 1220 #plakk
Sukses UN 2012!!!

Nah, itu dia artikel bikinan gue? Gimana, nggak jelek kan, untuk ukuran artikel mading yang selesai dalam sekali bikin? Hehehe.
Eh, sekalian nih, gue mau minta doa dan restunya dari para pembaca blog gue. Besok lusa, Senin, 23 April – 26 April 1012, gue akan menjalani UN SMP/MTs. So, doain gue dan temen-temen gue ya, supaya sukses dan diberi kelancaran dalam mengerjakan.

Thursday, April 5, 2012

Gado-Gado Cinta


Wah, besok libur nih guys... Gue nggak tau mengapa besok libur dan gue emang nggak mau ngurusin hal itu. Satu hal yang penting, gue mau ngasih posting spesial buat kalian semua. Ini adalah posting cerita bonus. Dinamakan bonus karena ini bukan akhir pekan, tapi gue kasih sekarang juga. Sebenernya posting ini udah lama jadi draft di buku tulis gue. Berhubung sekarang baru sempet, jadi sekarang baru bisa gue ceritain ke kalian.
Ini semua tentang salah satu bagian dari kisah hidup gue yang rasanya mirip gado-gado. Di sana ada manis, pahit, asem, asin, dan umami. Semua itu bercampur aduk menjadi gado-gado yang tentu saja gue suka. Namun kadang rasa dari gado-gado itu nggak seenak yang gue bayangin. Kadang keasinan, kemanisan, keaseman, kepahitan (?), bahkan keumamian (ngawur!). Ini semua tentang gado-gado cinta.
Berani banget ya, gue ngomongin masalah cinta di sini? Ya terserah gue donk. Ini blog gue, jadi suka-suka gue. Kalo emang mau protes, ke bapak lo aja sana! Udah? Oke, inilah kronologinya, bagaimana hati gue mencicipi berbagai macam rasa dari gado-gado cinta!
Pertama kali gue merasakan suka sama seseorang adalah saat kelas lima SD. Saat itu gue masih belum pake kaca mata, bahkan sampai saat ini. Gue emang nggak tertarik untuk pake kaca mata. Gue beranggapan bahwa kaca mata hanya untuk orang-orang yang memiliki kerusakan pada matanya. Sedangkan gue merasa bahwa mata gue normal-normal aja (Oke, STOP bicara tentang kaca mata!).
Ehem... Saat itu memang sedang zamannya di kelas gue untuk menyukai temen sebaya yang berlawanan jenis kelamin. Tentu saja saat itu gue belum dewasa banget. Rasa suka itu datang secara nggak jelas, dan hinggap begitu saja di hati gue. Gue yakin telenovela yang disiarkan di TV ikut peran serta membuat gue jadi gini. Perasaan ini terus gue pendam hingga gue lulus SD.
Anak yang gue taksir itu memang cantik dan dulu dia sekelas sama gue. Kurang beruntung, gue harus merasakan pahit pada gado-gado pertama gue. Anak yang gue taksir itu menjalin hubungan dengan seseorang. Seseorang itu adalah temen deket gue sendiri. Lo tau nggak, gimana sakitnya hati gue saat itu? (sabar.. sabar..). Mereka nggak pacaran sih, tapi mereka kelihatan mesra banget. Saat rekreasi kelas enam, mereka duduk berdekatan di bus, bermesra-mesraan. Dan sialnya, gue ada di deket situ.
Perasaan gue tak juga tersampaikan hingga gue lulus SD. Akhirnya, kita berpisah, gue di MTsN Kediri 2, sedangkan cewek itu di sekolah lain. Seiring waktu, gue pun melupakan perasaan gue ke anak itu. Gue mulai menikmati kehidupan baru gue di MTs dan membuka hati gue kepada orang yang baru. Pada awal MTs ini, gue merasakan gado-gado yang rasanya asem. Asem gimana, bang?
Gini, gue adalah anak yang punya pergaulan paling banyak di kelas. Gue yang paling punya banyak kenalan di setiap kelas dibandingkan dengan temen-temen gue lainnya. Namun, setiap gue ketemu cewek yang bikin gue tertarik, dan gue ingin PDKT sama dia, selalu aja direbut sama temen sekelas gue.
Memang kesalahan gue sih. Gue suka membanggakan cewek-cewek itu di depan temen-temen gue sampai mereka tertarik, hingga mereka minta dikenalin sama si cewek, lalu mereka yang PDKT, dan akhirnya gue tersepak gitu aja. Gue pun berkata dalam hati, “ASEM banget nih anak!” Hal ini sudah terjadi dua kali secara beruntun.
Sesudah gado-gado yang asem itu, gue merasakan gado-gado rasa umami. Lo tau nggak, umami tuh kayak apa? Gue juga nggak tau. Rasanya nggak jelas, dan nggak bisa dijelasin. Seperti yang gue rasakan saat itu. Gue mengalami kekosongan hati, padahal gue ingin merasakan yang namanya cinta. Saking parahnya, setiap cewek yang gue temui, gue langsung suka sama dia #parah.
Dalam gado-gado umami inilah pertama kalinya gue punya pacar. Waktu itu gue ditembak sama seseorang yang baru gue kenal. Gue baru aja berpapasan sama anak itu satu kali, pas hari terakhir masuk sekolah, sebelum liburan awal puasa. Selama liburan, dia sms gue terus, dan lalu nembak gue lewat sms. Tanpa basa-basi, gue langsung terima dia sebagai pacar gue.
Ternyata gue bener-bener merasa nggak nyaman pacaran sama orang yang nggak gue sayangi. Akhirnya dia pun gue putusin di hari kedua kita pacaran. Kejam? Emang. Saat itu gue menjadi anak cupu korban pacar-pacaran. Namun sejak kejadian itu, gue belajar bagaimana untuk menjadi lebih dewasa dalam hal ini.
Gado-gado umami ini berakhir saat gado-gado yang asin dateng. Kali ini gue mengalami ‘cinta pada pandangan pertama’ dengan seorang gadis. Gue nggak tau alasan apa yang bikin gue bisa suka sama tuh cewek. Pas pertama kali ketemu di tukang es buah, gue langsung naksir dia. Setelah gue telusuri, ternyata dia juga merupakan anak Fikruna, organisasi yang gue ikuti di MTs. Sekarang, cewek itu malah udah jadi salah satu orang penting di Fikruna.
Kala itu, gue menyimpan perasaan gue cukup lama. Gue memang belom punya keberanian untuk menyatakan perasaan gue ke cewek. Gue juga selalu salting (salah tingkah) setiap ketemu sama dia. Rasanya asin beuth...
Hal ini jelas mengganggu banget buat gue. Gue jadi sering kepikiran si dia, ngelamun tentang dia, dan lain-lain. Apalagi gue tau, kalo dia udah punya pacar. Sakit banget tauk, hati gue! Gue jadi sering galau. Padahal, gue harus belajar dengan lebih giat karena saat itu kelas gue udah mulai ikut try out - try out. Karena nggak tahan, akhirnya gue beranikan diri untuk menyatakan perasaan ke anak itu.
Gue merasa lega dan bisa lebih enteng untuk melupakan segala perasaan gue tentang cewek tadi. Kita tetep berteman. Dia dengan kehidupan yang dia miliki, gue dengan kehidupan yang gue miliki. Kini piring hati gue kosong tanpa ada gado-gado di atasnya. Bener-bener kosong karena nggak ada siapa pun yang mengisi hati gue.
Lalu gue merasakan ada seseorang yang sayang sama gue, lebih dari seorang teman. Dia adalah adek kelas gue, dan dia juga anak kelas akselerasi. Sebenernya, gue udah kenal dia cukup lama. Saat itu, gue punya misi untuk mengenal adek kelas akselerasi lebih duluan dari temen-temen gue. Gue pun menjelajahi dunia maya untuk mengetahui facebook, twitter, dan nomer hp dari setiap anak, terutama yang cewek. Dari semua anak yang gue kenal, ada seseorang yang care banget ke gue. Kita sering banget sms-an, chatting-an, curhat-curhat, dll. Dia pernah ngasih coklat ke gue. Bahkan dulu kita sempet tukeran HP.
Gue mulai merasakan perasaan itu saat piring hati gue sedang kosong, sesudah gue mencicipi gado-gado yang asin. Dia selalu ada untuk menemani gue bagaimana pun keadaan gue saat itu. Nggak sekadar suka, gue sudah sayang sama dia. Gue ingin dia bisa jadi milik gue untuk mengisi hati yang kosong ini. Akhirnya kita jadian, tepat di hari jadi MTsN Kediri 2.
Dia merupakan pembaca blog gue yang paling setia yang gue kenal. Nama dia pernah gue tulis pada beberapa posting sebelumnya. Dalam posting itu, gue nge-bego-begoin si dia. Tapi kini, dia adalah seseorang yang spesial, yang mengisi hatiku saat kosong, yang menawarkan kepadaku gado-gado cinta yang manis.