Bayangkanlah, lo sedang tinggal di
sebuah rusun kecil di daerah terpencil, di pinggiran hutan bambu dan
persawahan. Sumber cahaya cuma ada di sekitar lo aja. Lo nggak bisa ngelihat
beberapa meter lebih jauh ke dalam kegelapan. Suara-suara mencekam terdengar
dari kejauhan, bahkan tak jarang terdengar dekat. Seakan-akan sesuatu yang nggak
diketahui wujudnya ingin menghantui lo.
Kejadian-kejadian janggal sering
membuat tidur lo ngga nyenyak. Bawaannya jadi takut ke kamar mandi sendirian
pas malem-malem. Dan setiap kali lo boker di tengah malam, selalu ada suara
orang memakai sendal, lalu berjalan di atas tanah, dan suara itu terjadi
berulang-ulang sampai lo keluar dari kamar mandi. Padahal saat itu semua orang
di rusun sedang tidur.
Gue nggak mengada-ngada. Gue pernah
mengalami itu semua bareng temen-temen gue, The FICTION, dulu pas masih tahun
pertama (kelas 7) di MTs. Di MTs gue, anak akselerasi tinggal di asrama, yang
lebih dikenal dengan nama MAHAD. Mahadnya sendiri terletak di salah satu
pojokan madrasah, dibangun di atas bekas hutan sekolah. Di depan mahad adalah
tempat parkir sekolah, yang menjadi jalan menuju masjid kalo pas lagi hujan. Di
belakang mahad ada kebon. Gak tau itu kebon apa, pokoknya bukan milik madrasah
dan jarang terlihat dikunjungi oleh manusia.
Kalian pasti bisa bayangin, gimana
rasanya hidup dalam suasana mencekam seperti itu. Apalagi suasana MTs pas
malem-malem, angker, gelap, dan cuma bagian asrama doang yang terang benderang.
Apalagi kuadrat, gue sering tidur paling malem, atau kadang-kadang kebelet
boker pas tengah malem. Yah, ini hanyalah satu dari sekian derita yang gue
alamin bareng temen-temen seperjuangan gue di kelas aksel.
Selama setahun, malam-malam seperti
itu pun kita lalui, di pojokan MTsN Kediri 2 tercinta. Hingga pada saatnya kita
naik kelas. Ini adalah suatu pertanda. Pertanda bahwa The FICTION bakal punya
adek kelas. Yeyyy......!!!
Ya, memang inilah yang sudah kita
tunggu-tunggu, bahkan sejak sebelum tahun ajaran baru. ADEK KELAS..! Selama
setahun ini, rasanya cuma kita sendiri yang merasakan penderitaan menjadi anak
aksel, entah secara sistem pembelajaran maupun secara mental (jadi inget hinaan
cercaan yang dilontarin sama anak kelas laen -___-). Akhirnya, kita akan punya
saudara seperjuangan. Yeah!!
Gue inget, bahkan pas adek kelas
masih MOS, anak kelas gue udah berani masuk-masuk ke kelas mereka dan
kenal-kenalan. Kita juga ngajakin mereka main ke mahad alias asrama, calon
tempat tinggal mereka nanti. Singkat cerita, kini mereka jadi temen kita di
mahad. Mereka menamai diri mereka C-Action.
Ibarat sang surya yang menyinari
dunia, mereka datang membawa semacam “pencerahan”. Segala angker yang dulu
dirasa kini menghilang, diskriminasi atas kelas aksel berangsur-angsur berkurang
sampai nggak ada lagi, makanan makin hari makin enak, kucing-kucing lucu
berdatangan, dan ustadzah wali asrama berubah jadi baik (iyakah?). Tapi lebih
dari semua itu, kita jadi merasa punya teman tinggal di mahad. Ya, kini kita
memiliki saudara, adek kelas.
Gue nggak tau apa yang terjadi di
cewek. Tapi kalo di cowok, The Fiction dan C-Action bener-bener deket. Gaada
yang namanya kakak kelas – adek kelas. Semuanya sama-sama bareng. Main sepak
bola bareng, main Dota bareng, makan bareng, tidur bareng (?).
Buat yang ceweknya, gue secara
pribadi juga lumayan deket sama mereka. Dulu gue bertekad bakal menjadi anak
cowok pertama yang hafal semua cewek C-Action. Sebagai anak paling gaul di
kelas, tentu gue berhasil. Gue dan beberapa temen gue juga sering godain
mereka. Seringkali iseng ngetok pintunya, terus kabur. Bahkan kadang-kadang
sengaja buka pintu, terus kabur. Yah, masa-masa kelam ya begini ini -__-” (Maaf
ya, buat yang merasa sering dikerjain. Hehe).
Adek-adek kelas gue yang satu ini
emang punya banyak perbedaan sama kita, kakak-kakak kelasnya. Bisa dibilang,
gue sering merasa iri sama mereka. Mereka memulai hidup mereka di mahad ketika
sistem sudah mulai stabil (maklum, gue kan
angkatan pertama, jadi kayak kelinci percobaan gitu). Mereka juga kelihatan lebih kompak, nggak
terlalu banyak konflik. Nggak kayak kelas gue yang cowok sama ceweknya hampir
ga pernah akur. Mereka kayaknya sering foto lengkap sekelas, yang mana kelas
gue cuma pernah melakukan hal itu sekali. Mungkin anak-anak kelas mereka lebih
narsis daripada anak kelas gue. Haha...
Yah, semua itu hanyalah “kelihatannya”,
“kayaknya”, dan “mungkin”, alias apa yang gue lihat tentang mereka. Gue sendiri
nggak tau bagaimana mereka memandang diri mereka sendiri. Yang jelas, rasa iri gue
sebenernya adalah rasa bangga, karena mereka punya banyak hal yang nggak
dimiliki The Fiction. Selain itu, mereka juga baik-baik dan asik-asik. Bahkan
sesekali gue lebih merindukan mereka daripada kelas gue sendiri, The Fiction. Karena
jujur saja, gue pernah punya suatu urusan dengan kelas ini, yang itu menjadi salah
satu kenangan paling penting dalam hidup gue.
Mereka beranggotakan 14 anak
manusia, dengan komposisi 5 cowok dan 9 cewek. Bagus, David, Iggoor, Syahrul,
Rafly, Tira, Ima, Dea, Indah, Qila, Risma, Monica, Salsa, dan Bella. Dua di
antara mereka, Rafly dan Ima, menjadi penerus gue di MAN ICS.
Ini semua terjadi sudah cukup lama,
ketika The Fiction dan C-Action masih tinggal dalam satu asrama, satu mahad. Setelah lulus, gue nggak terlalu banyak tahu tentang hubungan mereka dengan adek
kelas yang baru, Antiction (angkatan ketiga). Yang jelas, di awal tahun ajaran
baru ini, gue sempet merasa kaget, “Wow, perasaan kemaren mereka baru masuk MTs
deh. Kok sekarang udah pada SMA ya?” Yak, tahun ini mereka baru lulus dari MTs. Tapi,
mereka akan tetep menjadi adek kelas gue yang paling imut sedunia :3
Beberapa The Fiction dan semua C-Action pas perpisahan angkatan gue
Wednesday, August 14, 2013
Haeyy..Gue mau share sebuah gambar nih~
Yak, mumpung liburan, gue iseng-iseng pengen belajar desain grafis. Yang sederhana aja sih, cuma desain kaos. Tapi gue seneng banget, karena menurut gue karya pertama ini nggak sejelek yang diperkirakan.
Sebenernya ini adalah kali kedua gue ngotak-ngatik corel draw buat bikin kayak beginian. Percobaan pertama menghasilkan sesuatu yang bahkan gue nggak tau itu apaan. Nah, pas gue di IC, gue sering ngelihatin temen gue yang lagi desain kaos angkatan. gue jadi ngerti beberapa tombol baru, dan bisa gue coba pas liburan sekarang.
Jurnalistik? Hmm.. Sebenernya udah
sejak kecil gue menaruh (?) minat gue di sana. Saat gue mulai mengenal asyiknya
tulis menulis. Ketika itu gue masih SD, dan gue sudah menulis di blog yang
sekarang gue tinggalkan dengan dua posting di sana. Sayangnya, di SD dulu belom
ada ekskul jurnalistik.
Suatu hari, seorang dari alumni
berkata padaku, “Di MTs 2 ada organisasi jurnalis lho dek, namanya Fikruna.
Kamu ikut aja.” Sejak itu gue jadi pengen cepet-cepet lulus SD biar bisa ikut
Fikruna. Alhamdulillah, gue lulus SD dan
masuk ke MTs 2. Gue pun join ke Fikruna tanpa pikir panjang. Gue pun mendapat
ilmu baru di sana. Gue baru tahu kalo jurnalistik nggak sebatas tulis-menulis
artikel doang. Di dalamnya juga ada fotografi, desain grafis, layout-layout
gitu, mading, wawancara, dll.
Banyak pengalaman seru gue lalui
bareng Fikruna, apalagi pas acara School Contest V yang diikuti oleh SMP/SMA sederajat dari seluruh Karesidenan Kediri. Ada macem-macem lomba, seperti perang mading, jurnalis blog, fotografi, band sekolah, akustik, dance, putri lingkungan, dll.
Fikruna tentu gak mau ketinggalan di lomba-lomba jurnalistiknya, terutama PERANG MADING. Sebelum acara, kita
bela-belain nginep di sekolah buat ngerjain mading 3D. Terus, jaga mading di
spot lombanya dari pagi sampe malem, selama tiga hari. Selama itu, gue kenalan
sama kru-kru mading dari sekolah lain.
Mading super keren punya Fikruna
Beberapa kru mading Fikruna Matsanda
Pas malam puncak, bersama 2 penghargaan
Oh ya.. Sebenernya gue bukan bagian dari kru mading. Pas School Contest, gue ikutan lomba blog jurnalis, yang sistem lombanya sama persis sama journalist on the spot-nya Sonic Linguistic (bedanya, jurnalis blog di SC satu tim 3 orang, ngga individual kayak JOTS-nya Sonlis). Tapi, sebagai anak Fikruna, gue juga tetep bantu bikin mading. Gue bahkan menjaga mading lebih lama dari kru mading yang laen, karena gue harus stay di gedung tempat lomba itu dari pagi sampe malem, demi memburu berita. Gak kayak kru mading yang bisa gantian jagain mading. Sayang, pas itu blog gue belom menang.
Prestasi Fikruna sebenernya cukup
membanggakan. Tapi entah mengapa, Fikruna menjadi organisasi yang paling
dicampakkan oleh pihak sekolah di antara 5 organisasi besar di MTs. Jelas kita
kesel gara-gara ini. Tapi, gara-gara itu juga kita dipersatukan, dikompakkan. Fikruna
adalah pelarian pertama gue kalo gue bosen ato ada konflik di kelas. Bisa
dibilang, gue cinta sama organisasi yang satu ini.
Gue seneng karena berkesempatan
menularkan bekal yang gue dapet dari Fikruna di kelas. Gue ketua kelas pas
tahun kedua, dan gue pimpin kelas gue dalam lomba mading 2D antar kelas. Ini
adalah satu dari sangat sedikit lomba antar kelas yang kelas gue diizinin buat
ikut. Maklum, kelas aksel. Gue coba memanfaatkan potensi dari semua anggota
kelas (yang kebanyakan dari mereka ngga sadar itu). Alhamdulillah, kelas gue
pun jadi juaranya. Kelas gue ngalahin 9A yang sejak dulu terkenal selalu
memenangkan lomba mading kelas, di lomba mading pertama yg kita ikuti.
Mading berjudul "Kampung Nusantara" bersama bidadari-bidadari The FICTION
Selama MTs, pergerakan gue di
organisasi sangat dibatasi (yah, walau pada kenyataannya gue sering melanggar
batas itu). gue berniat untuk “balas dendam” di SMA nanti. Dan Alhamdulillah,
gue diterima jadi siswa di IC. Dulu, gue berangan-angan untuk melanjutkan
kesibukan gue di bidang jurnalistik. Tapi entah, gue agak kecewa sama ekskul
jurnalis di IC. Jurassic (nama ekskul jurnalis) nggak terlalu kelihatan
performanya. Gak pernah ikutan lomba, anggotanya pada males ngumpul, dan
kelihatan aja kurang berkarya. Jurnalistik dianggep sebagai sesuatu yang nggak
terlalu penting. Hal ini pelan-pelan membuat gue lupa dengan jurnalistik.
Namun, sekarang gue menatap ke
depan. Gue dapet amanah buat jadi koordinator OSIS divisi jurnalistik di kelas
XI ini. Gue jadi merasa diingatkan kembali kepada apa yang dulu gue gemari.
Jurnalistik memang bukan cita-cita gue.
Bakat pun bahkan belom tentu. Ia hanya sebatas minat, kegemaran,
kesukaan, hobi. Namun, dulu gue banyak belajar darinya. Gue dapet banyak teman,
banyak pengalaman, banyak manis-pahitnya hidup, dan banyak cinta. Ya, mulai
sekarang gue akan menatap ke depan.
Haeey, para pembaca setia Raka
Bercerita! Sori, jadwal posting jadi berantakan. Seringkali gue nggak sempet
buat nulis gara-gara sibuk dan susah nyari koneksi internet selama di sekolah.
Nah, mumpung liburan gini, gue sempet-sempetin buat cerita sesuatu buat kalian.
Monggo disekecakaken (silakan menikmati)!
Sebenernya, liburan kali ini pun
gue sibuk banget. Salah satu kesibukan gue adalah dolan alias maen. Bukan maen judi apalagi maen cewek, tapi bermain
bersama teman (kayak apa aja). Yak, gara-gara sekolah gue sekarang jauh,
jarang-jarang gue ketemu sama temen-temen gue di Kediri. Udah satu semester, dan liburan ini
gue baru pulang. Hal itu tentu membuat rasa kangen gue semakin
bertumpuk-tumpuk. Ibarat peribahasa, sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit.
Begitu udah sampe di rumah, rasanya gue pengen langsung meluapkan rasa kangen
gue yg udah membukit itu dengan cara dolan
alias bermain bersama teman.
Jadwal dolan pun langsung gue susun. Hari pertama mau istirahat di rumah
dulu, capek habis perjalanan panjang. Besoknya gue langsung maen ke MTs, terus
jalan-jalan bareng keluarga, kumpul sama temen SD, dan laen-laen. Puncaknya
adalah tanggal 31 Desember 2012 malam alias malam 1 Januari 2013, gue nginep di
mahad, asrama gue pas MTs, bareng temen-temen dan adek kelas.
Acara nginep di mahad ini udah gue
dambakan udah sejak lama. Bahkan gue dan temen-temen udah ngerencanain hal ini
sejak baru lulus dari MTs. Berkat ridho Allah, dukungan dari temen-temen,
semangat dari adek kelas, serta dampingan dari wali asrama, acara ini pun
berjalan dengan sukses walau ada beberapa kendala di dalamnya.
Walau diadakan pas malem tahun
baru, namun acara ini sama sekali bukan untuk memperingati hal itu. acara ini
diadakan semata-mata untuk silaturahmi, kangen-kangenan antara alumni, adek
kelas, dan tentunya Mahad Al-Azhar yang penuh kenangan. Acara ini diurus oleh
The FICTION alias The First Acceleration
Generation, kelas akselerasi angkatan pertama yang sekarang udah alumni.
Ini dia orang-orang yang telah berperan dalam panitia kepengurusan acara ini
serta jabatannya :
Sie. jalan pagi: Danik Mahfirotul Hayati (MAN 3 Kediri)
Sie. keamanan: Ilyas Bintang Prayogi (MAN 3 Kediri), Nidya Tri Fitria
Febriola (SMAN 1 Kediri)
Sayangnya, ada beberapa temen gue
yang nggak bisa dateng buat acara ini. Najatul Ubadati (MAN IC Gorontalo) dan
Ahmada Yusril Kadiptya (SMA Ar-Rohmah Malang) masih di sekolah, belom liburan.
Abdil Haq Aqimuddin Qowi (MAN 3 Kediri) dan
Alfin Ardilla (SMAN 7 Kediri) lagi keluar kota.
Sedangkan Novenda Zephi Eka Ardianto (MAN 3 Kediri) lagi malem tahun baruan bareng
keluarga (alesan paling konyol, peace).
Biar rame dan nggak garing, gue
ngundang adek kelas juga. Kelas akselerasi generasi kedua, C-Action dan
generasi ketiga yg masih ACP1 (sori blom tau namanya). Ngajak anak-anak ACP2
untuk ikut sih gampang. Karena kita pernah tinggal seasrama, tentunya kita
saling kangen dan gampang kalo diajak kumpul. Paling-paling ada beberapa anak
yang nggak bisa ikutan. Yang susah itu pas ngajak anak-anak ACP1. Mungkin karena
mereka blom terlalu kenal sama kita. Ngehubungin wakilnya aja susah banget
(semoga orangnya tersindir). Peserta dari ACP2 (C-Action) ada 12 orang dari
jumlah anggota total 14 orang. ACP1 sendiri yang dateng cuma 6 orang dari
jumlah anggota total 20 orang. Bahkan salah satunya nggak ikut nginep. Tapi ya
sudahlah, tak apa.
Sebelum acara dimulai, The FICTION
udah gue suruh kumpul duluan di mahad jam 10 pagi. Kita kangen-kangenan dulu,
maen sepak bola bentar, nyapu mahad biar bersih, trus nyiapin apa aja yang
kurang buat acara nanti. Acara pembukaannya sendiri dimulai habis ashar di
Masjid Al-Azhar MTsN Kediri 2. Hujan rintik-rintik yang turun tidak bisa
mengalahkan hangatnya kebersamaan kami saat itu (asik).
Acara (sok) resmi ini kita mulai
tanpa pendamping karena belom ada guru yang dateng. Pas lagi di tengah-tengah
sambutan ketua panitia, Bu Yosi, guru BK dateng. Langsung cepet-cepet gue
akhiri bacotan gue lalu dioper kepada Bu Yosi untuk memberikan sambutan.
Setelah sambutan dari Bu Yosi, dilaksanakanlah perkenalan. Sebenernya kita udah
banyak yang kenal sih, wong dulu
sempet tinggal seasrama bareng C-Action. Tapi nggak apa-apa lah, biar acara ini
ada acaranya. Perkenalannya pun sederhana, hanya meneyebutkan nama dan SMA/MA
sekarang. Sekalian kita mau ngasih tau pesebaran alumni sekarang lagi pada
sekolah di mana. Adek kelas juga pada memperkenalkan diri mereka, biar kita tau
mereka pada mau sekolah kemana nanti.
Pas udah selesai perkenalan, Pak
Ulum, guru matematika baru datang. Langsung deh sie. acara mempersilakan beliau
untuk memberikan sambutan. Nasehat yang paling gue inget dari beliau adalah
tentang sukses semuda mungkin lalu langsung berdakwah. Udah selesai sambutan
dari beliau, acara pembukaan ini pun ditutup.
Habis ditutup, Bu Yosi mengajak
kita foto bareng. Langsung deh, nampak wajah anak-anak narsis bebinar-binar
saat itu, tak kuasa menanti jepretan kamera menangkap wajah mereka yang alay.
Acara yang dimulai sekitar pukul empat sore ini pun berakhir pada jam setengah
enam sore. Hujan masih rintik-rintik saat itu, dan kita mulai pada balik ke
mahad untuk ngantri mandi, bagi yang mau mandi.
Adzan maghrib berkumandang. Anak-anak pun
segera berangkat ke masjid untuk melaksanakan sholat maghrib berjamaah. Agenda
setelah sholat maghrib adalah tausiyah dari seorang ustad yang terkenal. Beliau
adalah Habib Syekh Ustadz Afi Tarim, sahabat kami semua. Namun, tausiyah kali
ini lebih cocok jika kita sebut sebagai diskusi. Ya, Tarim mengajak kami
berdiskusi mengenai ayat-ayat Al-Quran yang justru bisa melemahkan iman kita
jika hanya dipahami secara tertulis, tanpa mempelajarinya lebih dalam. Bahkan
sempat terjadi perdebatan hebat antara gue dan dia dalam Masjid Al-Azhar itu.
Dia mengakhiri tausiyahnya dengan memberikan kesimpulan serta solusi untuk
memahami ayat-ayat seperti itu. Acara ini pun ditutup setelah kita mendengarkan
komentar dari Pak Ulum.
Selesailah kegiatan ba’da maghrib.
Kami semua balik ke mahad untuk dinner.
Menu malem ini adalah soto ayam yang dipesan khusus dari warung terdekat.
Selesai makan, anak-anak langsung berangkat ke masjid lagi untuk mendirikan
sholat isya berjamaah. Setelah sholat, kita balik ke mahad lagi untuk mengikuti
rangkaian malam puncak dari acara ini : Bakar-bakar mahad! Eh, salah…
Bakar-bakar jagung!
Kami langsung bagi-bagi tugas. Ada yang ngupasin jagung,
nusuk-nusuk jagung pake bambu, dan nyiapin pembakarnya. Bahan olesannya pun
sederhana, hanya mentega dan saos sambel. Pas semuanya sudah siap, anak-anak
langsung mendandani jagung mereka dengan mentega untuk segera dibakar. Ngantri?
Ya pasti. Media pembakaran yang disediakan cukup kecil untuk jumlah peserta
yang lapar akan jagung dan arang. Untung aja gue cepet-cepet dan dapet kloter
pertama, jadi bisa bakar duluan. Gue sendiri berhasil menggilas dua buah jagung
manis bakar.
Sambil nunggu antrian, anak-anak
ada yang pada ngobrol, maen gitar, maen catur, maen poker, dan maen laptop.
Panasnya bara api dari tungku pembakar kecil buatan sendiri, serta hangatnya
suasana kebersamaan membuat dinginnya malam yang habis diguyur hujan itu tak
dapat menembus kulit kami. Suasana malam itu begitu hangat dan bersahabat.
Habis bakar-bakar jagung,
sebenernya ada agenda untuk nonton film bareng. Namun, gara-gara kita lupa
nggak nyiapin proyektor, jadi acara ini hampir dibatalin. Tapi, karena gue
bener-bener antusias pengen nonton, akhirnya acara nonton bareng ini tetep
dilaksanakan dengan segala keterbatasan. Bermodal sebuah netbook dan speaker, diputarlah film berjudul Hunger Game pada
sekitar pukul setengah sebelas malam. Kita nonton di teras, dekat tungku bekas
bakar-bakar jagung yang masih menyala-nyala apinya.
–peserta nobar yang akan
berkurang dengan sendirinya hingga tersisa 2 orang-
Peserta yang antusias juga cuma dua
orang, yakni gue dan seorang adek kelas dari C-Action, Rafly. Yang laen pada
sibuk sendiri. Ada
yang maen laptop, maen poker, maen gitar, maenin alat bekas pembakar jagung,
tidur, dan yang paling ngeselin adalah nonton film di kamar. Sesekali gue juga
ikut-ikutan mainin tungku pembakar itu bareng anak-anak cewek dari ACP1 dan
beberapa anak laen. Dengan tungku itu, kita bakar kripik ubi, oreo, rambutan,
dan benda-benda lain yang fitrahnya bukan untuk dibakar di tungku bekas
pembakar jagung. Tapi lumayan, buat meghangatkan diri. Hehe…
Di tengah-tengah nonton, tiba-tiba
terdengargemuruh suara kembang api dari
arah perkampungan. Gue menatap ke atas dan mendapati langit yang indah banget,
penuh bunga-bunga api. Temen-temen yang di dalem kamar juga pada keluar, nggak
ingin ketinggalan keindahan ini. Gue langsung lihat jam di HP temen (kenapa
harus HP temen?). Oh, ternyata sepuluh menit lagi udah jam 12 malem. Bentar
lagi tahun baru, men!
Anak-anak mahad yang pada dasarnya
memang aneh langsung berinisiatif untuk melakukan hal-hal gila selama “setahun”.
Ada yang mau
kentut selama setahun, pup selama setahun, pipis selama setahun, nonton film
selama setahun, melek selama setahun, dan tidur selama setahun (biasa deh). Gue
pun memilih untuk pipis selama setahun, dan berhasil. Gue pipis dari tahun 2012
samapi 2013. Lama kan?
Bisa nggak lo?
Udah selesai merasakan euphoria-nya tahun baru, gue pun ngelanjutin
kencan gue bareng Rafly di depan netbook
yang berlayar kecil, sambil mbakar kripik ubi di tungku yang apinya mulai kecil
itu.
Film berakhir sekitar jam setengah
satu. Api pun sudah padam ditelan dinginnya malam. Gue beresin
perangkat-perangkat elektronik itu, lalu masuk ke kamar. Di dalem kamar, masih
banyak anak-anak yang belom tidur. Ada
yang maen poker dan ada yang ngantri buat maen PES di laptop. Gue pun join sama
anak-anak yang maen poker. Cukup lama gue ikutan maen, sampe akhirnya gue
ketiduran pas pembagian kartu, entah jam berapa itu.
Besok paginya, anak-anak (terutama
cowok) banyak yang telat bangun. Salah satu acara pun ada yang dibatalkan,
yakni jalan pagi. Untuk gantinya, anak-anak cowok pada maen bola, sedangkan
cewek yang rajin pada nyapu halaman mahad. Ada beberapa anak laen yang memilih
untuk ngelanjutin molor di kasur. Tentu gue ikutan maen bola dong.
Udah pada capek maen, anak-anak
balik dari lapangan dan langsung menyambar sarapan yang sudah tersedia, NASI
PECEL yang pedesnya MASYAALLAH... Keringet gue gara-gara maen bola aja nggak
sebanyak pas lagi makan pecel setan ini. Dengan tabah gue tahan rasa membakar
di lidah dan bibir, demi ngabisin sarapan yang dibayar pake duit ini. Akhirnya gue
berhasil ngabisin nasi pecel itu.
Setelah itu, gue masuk ke kamar. Terus,
ada adek kelas yang nanya gini, “Mas, kapan acaranya selesai?” Mampus, gue
belum nyiapin agenda apa-apa buat nutup acara ini. Dengan ngasal gue jawab
pertanyaan dia, “10 menit lagi, dek. Habis ini kita mau closing ceremony.” Seketika itu juga gue langsung mikir, mau
diapakan closing ceremony-nya?
Ya udah, akhirnya closing ceremony pun gue desain sangat
jauh dari kesan “upacara”. Semua peserta, pendamping, serta panitia ngumpul di
teras mahad. Ada kata-kata terakhir dari ketua acara, kesan-pesan dari
ustadzah, dan pembacaan doa. Itu semua kita lakukan dengan santai sambil
duduk-duduk, makan, bahkan maen catur. Dengan upacara penutupan yang ngasal
namun penuh arti ini, maka resmilah acara kami ditutup. Berhubung duit iuran
masih sisa, kita beliin lagi es krim buat tiap anak.
Itulah pengalaman berharga gue pas
liburan ini. Gue bangga bisa mengajak temen-temen gue yang sebagian nggak
bermodalkan jiwa organisasi ke dalam sebuah kepanitiaan acara. Tentu bukan
sempurna jadinya, namun menjadi pengalaman buat kita semua. Gue berharap, acara
silaturahmi seperti ini nggak akan pernah terputus dengan diadakannya kembali
di tahun depan. Tentu bukan The FICTION lagi yang jadi panitianya, tapi penerus
kami, C-Action. Semoga saja...
Halo semuaaa...! Pagi hari tadi gue
habis acara perpisahan kelas 9 nih. Rasanya sedih, harus meninggalkan madrasah
tercinta dengan kenangan-kenangan yang sudah tercetak dalam hati ini. Pasti akan
sulit untuk melupakan semuanya.
Salah satu kenangan terbaik yang
gue miliki adalah bersama teman-teman sekelas gue saat di asrama. Di
tengah-tengah waktu santai ini, gue ingin bercerita kepada kalian semua tentang
asrama yang gue tempati selama di MTs ini. Gue inget pernah posting tentang
ini. Namun penulisan posting yang lama cukup berantakan. Jadi gue putuskan
untuk me-remake posting tentang
asrama gue. Selamat membaca...
Kalo lo mengikuti posting-posting
gue sebelumnya, lo pasti tahu kalo gue adalah anak Acceleration Class Program
alias ACP. ACP mewajibkan bagi para siswanya untuk tinggal di asrama agar lebih
fokus belajar. So, selama dua tahun ini gue tinggal bersama temen-temen gue di
asrama.
Asrama tempat gue tinggal lebih
dikenal dengan nama ‘Mahad Al-Azhar’.
Program di asrama memang bukan hanya untuk memforsir para muridnya
dengan pelajaran-pelajaran tambahan, namun juga memberikan pendidikan islami layaknya
pondok pesantren, seperti kitab kuning, kitab gundul, dan kitab-kitab lainnya.
Oleh karena itu, asrama ini diberi nama ‘mahad’ agar terkesan islami.
Mungkin kedengarannya elit banget.
Gue anak kelas akselerasi, dan gue mendapatkan fasilitas boarding school alias asrama
atau mahad. Namun, dibalik semua itu ada banyak hal absurd yang tak nampak.
Semua itu berasal dari para penghuninya, terutama para cowok.
Salah satu contohnya datang dari
seorang cowok yang punya tampang keren. Dia memiliki banyak fans hampir di
setiap kelas di MTs. Namun, anak itu suka ngentut. Dan hal ini hanya diketahui
oleh penghuni mahad. Seringkali kentutnya nggak bersuara, namun baunya lebih nggak
enak dari kentut beruang. Mungkin dia memang sengaja menyamarkan suara
kentutnya, agar ketika semua anak sedang lengah, ia bisa membuang gas
beracunnya itu tanpa diketahui, hingga ia bisa membunuh hidung milik temannya.
Namun, ada juga anak yang nggak
suka buang-buang kentut. Dia sayang banget sama kentutnya. Saat kepepet akan
meledak, dia langsung mencari seorang temannya. Dia tempelkan pantatnya ke
pantat orang lain, lalu melakukan semacam ‘transfer kentut’. “Daripada
mubadzir, lebih baik diberikan kepada teman,” begitu katanya.
Kalo menurut gue, asrama gue ini
lebih pantas disebut rusun (rumah susun). Gimana nggak? Keadaan di Mahad
Al-Azhar emang bener-bener absurd dan nggak jelas, persis rusun. Ada
handuk-handuk yang dijemur sembarangan, ada ustadzah yang galak banget dan
lebih mirip penagih uang sewa rusun, ada banyak kucing liar yang doyan gangguin
anak-anak pas makan, ada anak yang suka ngambil celana dalem temennya terus
dilempar-lempar ke teras, ada anak pacaran, bahkan ada beberapa anak yang maho
di sana.
Masalah anak yang maho, ada kisah
unik dari ‘sepasang’ lelaki. Dua anak tersebut mesra banget. Setiap kali mereka
berpapasan pasti peluk-pelukan dan cipika-cipiki. Mesra banget, dan itu menjadi
salah satu hiburan tersendiri bagi kita yang melihatnya.
Suka duka telah gue lalui di Mahad
Al-Azhar selama dua tahun ini. Bagaimana pun juga, gue sedih harus meninggalkan
ini semua. Banyak hal yang sudah gue lalui di sini, dan itu membuat gue menjadi
lebih berpengalaman. Di sini pertama kalinya gue main layangan, ngerusak laptop
temen, pacaran sama cowok, dan banyak lainnya.
Hanya satu harapan gue buat mahad.
Gue berharap, mahad bisa jadi lebih baik dari sekarang. Gue ingin generasi penerus
gue menjadi orang baik-baik. Nggak kayak kita, kakak-kakaknya yang absurd
begini.
Dan jangan lupa, nantikan cerita
berikutnya ya..!!!
Halo, teman-teman semua. Udah lama
banget ya, gue nggak posting. Gue jadi kasihan sama kalian, udah kelamaan
nungguin cerita dari gue. Kalian kok pada pasang wajah melas ya? Eh, lo yang
dipojokan sana jangan nangis dong. Udah, sini deh.. Semuanya dapet *pukpuk*
gratis dari gue. Gue baik kan? So pasti dong, gue gitu loh.
Oke, cukup basa-basinya dan mari
kita mulai cerita hari ini.
Gue ingin berbagi kisah tentang
kesan-kesan yang pernah gue tinggalkan di MTsN Kediri 2 selama gue sekolah di
sana. Yang gue bicarakan di sini adalah kesan yang (mungkin) baik bagi
orang-orang. Soalnya, kalo gue cerita tentang kesan yang buruk, itu namanya
membuka aib. Kata ibu itu nggak boleh dilakukan, walau gue sering juga sih,
buka-buka aib pada posting lainnya.
Kesan yang gue bicarakan di sini
berkaitan dengan sifat ke-PD-an gue yang berkembang secara abnormal dalam jiwa
gue. Itu semua berkaitan dengan ‘kreasi’, ‘panggung’, dan ‘banyak orang’. Dengan
kata lain, ini semua berkaitan dengan pengalaman gue saat tampil di muka umum selama
gue ada di MTsN Kediri 2.
PD alias percaya diri udah
merupakan harga mati dalam hidup gue. Saking PeDenya gue, sifat itu bagaikan
sudah mendarah daging hati jantung otak pundak lutut kaki dan lain-lainnya.
Bahkan nggak main-main, saat hari pertama masuk MTs, gue sudah berani maju ke
muka umum. Waktu itu masih matrikulasi. Yang masuk sekolah hanya calon murid
kelas excellent dan akselerasi. Saat itu, kita semua masih pake seragam dari SD
masing-masing.
Matrikulasi adalah pelajaran yang
harus diambil oleh calon siswa kelas excellent dan akselerasi. Matrikulasi
bertujuan untuk memperdalam materi bahasa inggris dan bahasa arab, agar tak
kesulitan saat mulai sekolah nanti. Jumlah calon siswa yang ada sekitar 80 itu
dibagi menjadi enam kelompok. Kegiatan ini berlangsung selama beberapa minggu,
dan gue sangat enjoy menjalaninya.
Saat itu adalah jam pelajaran
bahasa arab. Di hari pertama ini, semua kelompok dikumpulkan jadi satu di aula.
Kita diajarkan sebuah lagu berbahasa arab yang judunya ‘Assalamualaikum’. Habis
diajarin, sang tutor meminta seorang anak untuk maju dan menyanyikan lagu tadi.
Gue tengok kanan kiri. Gue melihat anak-anak pada pasang wajah khawatir. Dari
wajah cemas mereka, terpancar kata-kata “Gimana kalo gue yang dipilih?”
Entah bagaimana ceritanya, gue jadi
kasihan sama mereka. Tanpa basa-basi lagi, gue langsung acungkan jari tangan
gue dan langsung maju. Gue nyanyi dengan PD-nya di depan banyak anak. Gue tetep
pasang wajah nggak berdosa, padahal banyak salahnya. Yang penting gue bangga bisa
membuat kesan pertama, dan membuat orang-orang kenal gue. Mungkin gara-gara
itu, gue dijadikan ketua kelompok oleh temen-temen.
Pernah juga gue tampil bareng
temen-temen gue sekelas pada perpisahan kelas 9 tahun lalu, di aula MTs. Waktu
itu kita menampilkan drama berjudul ‘Andhe-Andhe Lumut’. Pasti lo sudah banyak
yang tahu, kalo kisah ini bercerita tentang seorang pangeran yang sedang
mencari cinta. Pangeran itu akhirnya jatuh cinta pada seorang gadis yang
merupakan anak tiri dari seorang janda. Gadis yang dicintai pangeran itu selalu
dicaci maki dan disuruh-suruh layaknya pembantu oleh saudara-saudara tirinya.
Namun karena kekuatan cinta, gadis itu pun bisa menikah dengan pangeran.
Begitulah kurang lebih ceritanya
(seinget gue). Kisah di atas bisa dibilang cukup epic. Namun, dengan bantuan dari guru bahasa indonesia dan guru
bahasa jawa, kelas kami berhasil mendaur ulang cerita rakyat tersebut menjadi
lakon yang lucu. Di dalam ceritanya, terdapat juga seorang lelaki yang
berperilaku layaknya perempuan (baca : banci) bernama Klenting Ganyong.
Sialnya, gue lah yang harus memerankan tokoh itu.
Awalnya, gue takut kejantanan gue
sebagai laki-laki akan memudar jika menerima peran itu. Namun, apa daya gue?
Hanya gue anak yang bisa berperan menjadi apa pun di atas panggung. Lagipula
jika gue nggak mau memerankan tokoh itu, gue terancam nggak akan tampil dalam
lakon ini. Akhirnya, dengan berat hati gue menerima peran ini.
Namun, akhirnya gue nggak nyesel.
Setelah itu, semakin banyak orang yang mengenal gue. Bisa dibilang, gue semakin
terkenal gara-gara ini. Selain itu, gue jadi ngerti tentang satu hal. Jika
berdandan seperti cewek, gue benar-benar terlihat cantik. Gue sampai jatuh
cinta sama diri gue sendiri! Gile, sodara-sodara!
Semua tadi gue lakukan saat kelas
satu. Setelah berganti tahun pelajaran, gue naik jadi kelas dua. Pas kelas dua
ini, gue menjadi ketua kelas berdasarkan hasil voting. Awalnya gue takut jadi
ketua kelas, karena tanggung jawabnya yang besar benget. Namun lama-kelamaan
gue enjoy juga, karena kerjanya ketua kelas ternyata lebih enteng daripada
sekretaris. Bagaimana gue bisa tahu? Karena saat kelas satu, gue lah yang
menjadi sekretarisnya. Protes?!
Selama gue memimpin ACP2, bisa
dibilang kita lebih sukses daripada tahun lalu. Tahun ini kita berhasil meraih
juara pertama pada setiap perlombaan antar kelas yang kita ikuti. Yang pertama
adalah lomba mading antar kelas, kita mendapat juara 1 untuk kategori kelas 9.
Yang kedua dan ketiga adalah lomba kelas terpadu alias kelas terbersih dan
lomba yel-yel saat jalan santai, kita juga mendapat juara 1 mengalahkan seluruh
kelas tujuh sampai sembilan.
Semua itu tak lepas dari peran
seluruh anggota kelas yang sudah mau bekerja dengan sungguh-sungguh untuk
mencapai yang terbaik. Terutama anak cewek, yang paling banyak kerjanya,
membersihkan kelas dalam lomba kelas terpadu. Selain itu, wali kelas kami, Bu
Eka yang rajin menemani, memberi dukungan, dan memasakkan makanan yang sehat
untuk kami semua. Juga Pak John, pengurus program akselerasi yang baru, yang
mengizinkan kami mengikuti berbagai macam lomba. Kesempatan ini tak banyak kami
jumpai pada tahun pertama, karena memang pengurus akselerasi yang lama nggak
memperbolehkan kita ikut banyak kegiatan sekolah.
Kembali ke topik pertama, gue juga
pernah tampil pidato dadakan saat buka puasa bersama kelas 8. Ceritanya nih,
sebelum buka puasa, anak-anak disuruh mendengarkan pidato seputar islam dari
seorang siswi kelas 8I, namanya Risma. Pas dia sudah selesai ngomong di depan
anak-anak, masih ada waktu beberapa belas menit sebelum waktu berbuka.
Tiba-tiba, seorang guru menantang anak cowok ACP2 untuk pidato secara spontan
di depan semua anak. Katanya, beliau ingin mengetahui kemampuan anak-anak kelas
kita. Semua anak langsung menunjuk ke arah gue.
Busyet, kenapa harus gue?! Si Risma
sih enak, dia udah latihan selama beberapa minggu. Sedangkan gue, harus tampil
spontan! Terpaksa deh, gue mikir-mikir sebentar, lalu mendapat ide untuk pidato
tentang silaturahmi. Ya udah, gue maju ke depan anak-anak dan ngomong
ceplas-ceplos aja. Biarpun agak gugup juga sih, tapi gue seneng dan bangga
banget. Hehe.
Setelah sekian lama menjalani tahun
kedua ini, mental gue semakin terasah. Gue semakin PeDe dan pemberani. Hingga
tibalah hari peringatan HUT Matsanda (MTsN Kediri 2). Sebenernya, hari jadinya
sih masih tanggal 16 Maret. Namun sebelum itu, pada hari Minggu, 11 Maret 2012
Matsanda mengadakan jalan santai untuk memeriahkan HUT-nya. Pada jalan santai
kali inilah, ada lomba yel-yel terbaik. Dan kelas gue lah yang mendapat juara
pertama.
Seperti biasanya, selalu ada pentas
dan pembagian doorprize sesudah jalan
santai. Kebanyakan anak-anak sih menampilkan band dan karaoke lagu dangdut.
Namun gue berani menampilkan hal yang berbeda dan baru, yakni stand up comedy.
Memang, waktu itu gue baru mengenal stand up comedy, dan gue langsung tertarik
untuk mencobanya. Saat mendengar ada seleksi untuk tampil saat pentas HUT
Matsanda, gue langsung mendaftarkan diri gue untuk menampilkan stand up comedy.
Bisa dibilang, gue adalah orang
pertama yang menampilkan wujud stand up comedy dalam sejarah pentas di MTsN
Kediri 2 ini. Untuk percobaan pertama, gue tampil dengan materi jiplakan dari
Raditya Dika, namun dengan gaya gue sendiri (maaf ya Bang!). Tampaknya
penampilan gue cukup memuaskan, karena bisa membuat banyak orang tertawa. Bahkan
Pak Nur Salim, kepala madrasah pun sampai terpingkal-pingkal, karena ada salah
satu lawakan khas beliau yang gue pakai. Namun, gue masih mendapat beberapa
kritik, seperti terlalu cepat, kurang jelas, dan materi yang copas Raditya
Dika.
Untungnya, gue sempet memperbaiki
penampilan gue saat perpisahan kelas 9, beberapa minggu yang lalu di aula MTs.
Kali ini gue membuat materinya sendiri, dan mencoba memperbaiki gaya bicara
gue. Namun sayang banget, dari sekian materi yang gue buat, beberapa di antaranya
terasa nggak layak untuk ditampilkan saat momen perpisahan. Terpaksa gue
hilangkan, dan durasinya jadi sedikit. Namun gue cukup puas karena bisa
memperbaiki penampilan pertama gue.
Ya, itulah wujud dari ke-PD-an gue
yang bisa dibilang abnormal. Sebenarnya masih ada beberapa lagi. Gue pernah jadi
anggota paskib MTs, tampil maen rebana, dan laen-laen. Namun itulah yang paling mengesankan dan
membekas di hati gue.
Jadi siswa akselerasi, memang
memiliki banyak tuntutan dalam hal pelajaran. Namun hal itu nggak bisa
menghadang gue untuk tetap berkreasi dan berinovasi, serta meninggalkan
kenangan yang mengesankan agar selalu diingat sampai kapan pun.
Emang kebangetan
gue, masih berani-beraninya ng-update blog ini?!?! Bukannya besok lusa udah UN?
Sadar Raka, sadar...!!! Hmmm... Sebenarnya ini gue lakukan karena gue sayang
sama semua pembaca blog gue. Jadi gue sempet-sempetin waktu buat ng-update nih
blog. Hehehe...
Selain itu, ada
alasan lain mengapa gue ng-pdate blog ini. Ini karena gue memang hobi banget
menulis. Dan entah mengapa, semangat untuk mengerjakan hobi ini sedang
berkobar-kobar. Jadi, tolong izinkan gue untuk meng-update blog ini. Hehehe...
Memang gue
sedang semangat menulis kali ini, dan hal ini gue buktikan dengan sebuah
kegiatan sabotase kecil-kecilan. Beberapa hari lalu, gue menyabotase mading
karya adek kelas gue. Tema mading tersebut adalah “hari-hari spesial di bulan
April” <-- (mungkin). Gue melihat ada satu hal yang kurang di mading
tersebut, yakni artikel tentang ujian nasional. Gue pun memiliki inisiatif
untuk menambahkan artikel mengenai itu. Dan gue rasa kegiatan ini baik, karena
termasuk bagian dari sodaqoh.
Selepas subuh,
gue langsung mengarang ‘artikel sekali jadi’, lalu langsung gue tempelin di
mading milik adek kelas gue. Gue rasa, artikel gue bagus. Tapi nggak tau
kenapa, mereka menolaknya. Ya udah,gue share aja di blog gue ini. Inilah,
artikel yang gue bangga-banggakan tersebut :
Ujian Nasional
Hoi coyy...!!!
Di bulan ini ada juga lho, hal yang sesuatu beudth bagi anak-anak kelas 9
se-Indonesia. Yap, lo semua juga udah tau bahwa yang gue maksud adalah Ujian
Nasional (UN).
UN adalah ujian
yang diadakan oleh negara. UN diadakan untuk mengukur kemampuan siswa-siswi
yang sudah belajar selama 3 tahun di SMP/MTs. Peristiwa ini amat sangat penting
beudth. Saking bermaknanya ujian ini, sampai ada lagu “c.U.N.t.a” yang
dipopulerkan oleh D’Bagindas.
Ada empat pelajaran
yang jadi mata UN SMP/MTs : Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan
IPA. Semua pelajaran itu tentu tak ‘kan terasa sulit jika kita semua mau
belajar dan berusaha keras. Buat kakak-kakak kelas 9 tercinta :
Cememmudth ea
kkq...!
Sukses UN
1220 #plakk
Sukses UN
2012!!!
Nah, itu dia
artikel bikinan gue? Gimana, nggak jelek kan, untuk ukuran artikel mading yang
selesai dalam sekali bikin? Hehehe.
Eh, sekalian
nih, gue mau minta doa dan restunya dari para pembaca blog gue. Besok lusa,
Senin, 23 April – 26 April 1012, gue akan menjalani UN SMP/MTs. So, doain gue
dan temen-temen gue ya, supaya sukses dan diberi kelancaran dalam mengerjakan.