Friday, January 3, 2014

Predator Itu...

Hai pembaca setia gue yang ganteng-ganteng dan cantik-cantik.. Sekarang gue mau cerita tentang PREDATOR, sebuah acara makan besar yang diadakan oleh anak ikhwan Astonic.  Acara ini diadakan setiap setelah ujian akhir atau tengah semester. Sampai sekarang, Predator sendiri sudah lima kali diadakan.

Predator selalu diadakan di malam hari, umumnya di atas jam 10. Biasanya, menu predator adalah mi instan yang dimasak dengan metode barbar. Puluhan bungkus mi instan dimasak di ember, lalu di-tumplek-kan di atas papan tulis yang dilapisi plastik-plastk laundry (sudah disterilkan, tentu). Setelah berdoa, kita seangkatan menyambar papan tulis penuh mie itu. Masaknya pun membutuhkan cukup banyak orang. Namun, tidak semua predator sedemikian rupa. Penasaran untuk menilik sejarah Predator? Check it out!

Predator pertama kali diadakan di sebuah kamar yang terletak di salah satu pojok terjauh gedung I, yakni 308 I. Penghuni kamar saat itu adalah gue, Novri, Reyhan, dan Qori. Ditambah Eky yang sangat membantu  dalam proses masak-memasak, maka terbentuklah Boardmembers of Predator dari lima orang tersebut, alias pengurus inti dari acara nggak jelas ini.

Predator sebenarnya terbentuk secara nggak sengaja. Berawal dari keisengan untuk makan mi bareng-bareng, dan ternyata pesertanya membludak ratusan persen. Predator pertama ini belom bisa disebut acara angkatan, karena baru beberapa puluh orang saja yang ikut. Selain itu, cara memasaknya masih belom tersistem dan mi-nya masih campur-campur (karena pakai seadanya, tergantung sumbangan orang yang dateng).

Predator yang kedua kembali diadakan di kamar 308 I, masih dengan anggota kamar yang sama. Predator yang sekarang bisa dibilang lebih tersistem dengan ditemukannya metode memasak emberisme (metode memasak ini digunakan sampai predator yang keempat). Mi yang dimasak pun lebih banyak. Namun, peserta kali ini tidak sebanyak yang diharapkan. Mungkin karena diadakannya terlalu malam, sehingga banyak manusia sudah tertidur.

Predator III bisa dibilang menjadi titik balik dari acara ini. Jauh-jauh hari sebelumnya, poster acara tertempel di pintu living untuk menarik perhatian massa. Pesertanya bertambah makin banyak, yakni seangkatan (cuma dikit anak yang nggak ikut). Mi yang dimasak pun bertambah, jauh lebih banyak. Saking banyaknya, sampai harus menggunakan papan tulis sebagai alasnya. Dapurnya kali ini terletak di kamar 303 I, sedangkan eksekusinya di living room lantai 3.

Sampailah pada Predator ke-IV, predator terbesar dengan jumlah mi paling banyak, 60 bungkus! Padahal jumlah anak angkatan cowok cuma 56. Predator IV ini sistemnya nggak jauh beda sama yang ke-III.

Diurus oleh kepengurusan angkatan yang baru, Predator kelima ini bisa dibilang “banting setir” karena berganti menu, yakni nasi goreng. Dipesankan beberapa belas bungkus nasi goreng, lalu kita seangkatan makan bareng di living room. Per bungkus dibagi untuk lima sampai enam orang.

Apa salahnya diadakan acara seperti Predator ini? Selain kenyang, kita juga sekalian konsolidasi angkatan. Hei, Astonic?!

Saturday, December 28, 2013

Goes To Jatim Park

Wah, udah lama banget ya gue nggak nulis di sini lagi. Maklum lah, sekolah minim fasilitas dan padat kegiatan itu (MAN IC S,red) membuat gue cuma bisa sekali-kali posting, atau bahkan nunggu liburan buat ngisi blog. Liburan? Ya, sekarang  lagi libur akhir semester satu.

Kali ini gue mau cerita tentang salah satu agenda liburan gue bareng anak-anak Astonic yang berasal dari JATMICO (Jawa Timur Community). Gue iseng ngasih nama acara ini Jatmico Astonic waNna Come To jatimparK yang disingkat JANCTK. Tapi tentu nama ini mengundang banyak kontroversi dan pada akhirnya nggak kepake juga. Sebut saja acara kali ini JATMICO Goes To Jatim Park (Nah, ini lebih baik).

Kalo gue boleh merasa, ada dua manusia pencetus diadakannya acara ini, yakni gue dan Topik. Acara jalan-jalan ini udah diusulin sejak pertengahan semester satu ini. Sejak itu, gue pun rajin berkoar-koar ke setiap anak Jatmico kelas XI yang gue temui.

Rencana ini kelihatan makin terealisasi dengan diadakannya kumpul Jatmico dari Astonic buat ngebahas ini. Kita ngumpul sambil makan siang bareng. Lagi-lagi gue iseng ngasih nama ngumpul kali ini dengan RABIES alias Rapat Biesar (maksa). Oke, kita sepakat buat jalan-jalan ke Malang, tepatnya Jatim Park 1, pada tanggal 26 Desember 2013.

Semuanya udah direncanain, dan akhirnya tibalah waktu liburan. Awalnya sih banyak banget yang mau ikut, bahkan hampir semuanya. Tapi dalam beberapa hari liburan ini (sebelum tanggal 26) banyak yang tiba-tiba mengonfirmasi kalo dia nggak bisa ikut. Gue dan Topik agak takut kalo acara ini bakal batal. Tapi gue masih punya harapan, karena beberapa anak emang semangat banget sama acara ini. Ya, gue masih punya harapan.

Tanggal 25 siang, Topik dateng ke Kediri. Emang udah direncanain Topik mau nginep di tempat gue semalem sebelum ke Malang. Dia pun gue ajak jalan-jalan ke beberapa tempat di Kediri bareng temen MTs gue, Tarim. Besok paginya, anak-anak dari Kediri ditambah Topik ngumpul di halte buat nyegat bis ke Malang. Peserta dari sini ada gue, Bintang, Ica, Topik, Mirza, dan adeknya Mirza.

Kita sampe di Malang sekitar jam delapan (kalo nggak salah). Satu per satu anak berdatangan dan akhirnya terkumpul 14 manusia yang mau jalan-jalan bareng. Mereka adalah gue, Topik, Azzam, Mirza, Jijeh, Ica, Bintang, Zaenab, Alma, Dila, Atik, dan Senda, ditambah adeknya Mirza dan adeknya Atik juga ikutan.

Nah, segitu aja prolognya. Selanjutnya gue jelasin pake foto-foto aja yaa...

Pamer tiket masuk Jatim Park yang berbentuk gelang

Sebelum masuk rute pertama, di depan gong keberuntungan

Rute-rute awal di Jatim Park dipenuhi hal-hal yang berbau teknologi, ilmu pengetahuan, adat dan budaya, sejarah, dll.

Karapan Sapi...

Katrol, pelajarannya anak kelas lima SD

Di atas replika sebuah candi

Di depan ruangan yang penuh diorama sejarah Indonesia


Dan ini dia yang ditunggu-tunggu.. Wahana permainan..!!!

"Flying tornado" menjadi wahana yang menurut gue paling "nggak nyantai"

Gue nggak ikut naik ini, "Colombus". Muka mereka kelihatan masih seger karena ini masih awal-awal

Bendera Astonic ikutan naik "Spinning Coaster"

Habis basah-basahan di "Rumah Pipa"

Basah-basah yang tadi langsung dikeringin pake "Air Swinger"

Entah mengapa gue sangat terkesan sama wahana "Air Swinger" ini. Bukan karena menjadi wahana terakhir yang gue naikin, tapi karena suasana di atas yang amat sangat romantis. Gimana enggak? Kita diputer-puterin di udara dengan santainya dan kita ngga bisa denger suara lain selain suara orang yang duduk di sebelah kita. Sayang, sebelah gue waktu itu bukan seorang cewek, melainkan Azzam -_____-

Ada banyak wahana lain yang nggak kefoto karena fotographer-nya juga ikut maen. hahaha. 

Dan sekarang waktunya makaaaann....


Gaya anak-anak pas makan di food court

Dan akhirnya jam menunjukkan pukul setengah lima sore. Orang-orang di dalam mulai diimbau untuk meninggalkan Jatim Park karena sebentar lagi mau tutup.

Suasana habis keluar Jatim Park


Masih ada foto-foto lain lagi nih...


Tetep narsis pas lagi ngantri

Gue, Azzam, dan topi kebo (sapi, deh) baruya

Gue dan topi barunya Azzam yang imut bukan main

Meratapi kehidupan?

Anak Neo-Maxis yang tergabung dalam perjalanan ini

Kedua "project officer"

Souvenir bertuliskan "Astonic Jatmico"

Habis keluar Jatim Park, gue nggak langsung pulang. Ada enam anak pendatang yang bakal nginep semalem di Malang. Mereka adalah gue, Topik, Azzam, Zaenab, Ica, dan Jijeh. Zaenab nginep di rumah Alma, Ica dan Jijeh nginep di rumah Atik, sedangkan gue, Azzam, dan Topik nginep di masjid deket rumah Atik.

Enam manusia pendatang yang akan bermalam di kota apel ini 

Terima kasih gue ucapkan kepada ketiga bidadari-bidadari Astonic dari Malang ini, yang telah bersedia menjadi tuan rumah dan mengorbankan segalanya demi kelancaran acara jalan-jalan ini.

Atik, Dila, dan Alma

Ya, inilah cerita tentang jalan-jalan liburan kali ini. Kalo jalan-jalannya sih mungkin udah biasa buat beberapa anak, dan pasti ada tempat yang jauh lebih seru buat dikunjungi daripada Jatim Park. Tapi, kebersamaannya itu lho, yang bikin jalan-jalan kali ini bener-bener spesial. Sangat mengesankan bagi gue, bisa jalan-jalan bareng temen-temen Astonic se-Jawa Timur. Pokoknya rugi banget deh buat yang nggak bisa ikutan. Mwehehehe...

Sunday, October 20, 2013

The Sweet Seventeen


Apa yang lo pikirkan pas denger kata “sweet seventeen”? Seseorang sedang berulang tahun yang ke-17? Seseorang yang mulai beranjak dewasa? Seseorang sedang mengalami masa paling labil dalam hidupnya? Yak, nggak ada yang salah. Dan coba tebak, berapa umur gue? 15 tahun!

Apa hubungannya? Nggak ada sih.

Dialah MAN Insan Cendekia Serpong, sekolah tempat gue dipenjara sekarang, yang pada tanggal 21 September 2013 lalu merayakan sweet seventeen-nya.

Entah karena temanya sweet seventeen atau karena kebetulan aja, tapi gue merasa kalo acara milad IC tahun ini jauh lebih meriah dari yang tahun kemaren. Panitia dari pihak guru diterjunkan, kerja keras luar biasa dari temen-temen OSIS dan angkatan, serta kontribusi dari para penampil, membuat acara ini bener-bener kerasa kayak milik seluruh civitas MAN IC.

Oh ya, persiapan acara ini juga seru banget loh. Malem sebelum acara, banyak banget manusia berkeliaran di sekitar GSG. Ada yang nggelar terpal, latihan buat tampil, dan nge-dekor GSG.

Dekor? Wuih, dekor yang kali ini bener-bener ngingetin gue sama BINGO. Kain warna-warni, ornamen-ornamen darikertas karton, balon-balon, dan wow, meriah banget intinya. Iya sih, emang nggak “separah” BINGO. Tapi, bagaimana “cara” nge-dekor itulah yang bikin gue inget sama acara supermegah tadi. Emang nggak semuanya ikut terjun, tapi sebagian besar kelas XI dengan bantuan beberapa kelas X ikut bantuin dekornya.

"Face Morpher" sedang latihan buat tampil


  

Suasana ketika mendekor GSG

Lihat, Sersan Hilman sedang beraksi!

Hari itu, Sabtu, 21 September 2013, sekolah libur. Semua kegiatan terfokus di gedung serba guna (GSG). Kita semua merayakan milad IC yang ke-17 ini dengan menonton performances, lomba menghias nasi tumpeng per kelas, tuker kado tiap angkatan, dan mendengar semacam seminar dari seorang alumni IC yang juga penulis buku Notes From Qatar, Kak Muhammad Assad. Seminggu sebelum itu, divisi gue, divisi jurnalistik juga ngadain lomba bikin puisi dan poster dengan tema “Sweet Seventeen IC”. Hasil-hasil karya dipajang pas acara hari Sabtu itu.

Gue dan poster/puisi hasil karya dari tiap kelas

"Goreskan Ungkapanmu" dipasang di dekat pintu masuk GSG

Betapa megahnya panggung dengan para penampil

Kak Muhammad Assad sedang bertausiyah

Ngambil nomer togel dalam tuker kado Astonic

Suasana GSG saat lomba menghias tumpeng dimulai, diiringi penampilan-penampilan

Lomba ngehias tumpeng...


Finally, makan-makan tumpeng sekelas..!!
(Kelihatan banget kalo cara makan cewek sama cowok itu beda)


Keren loh, divisi jurnalistik (namanya Nano Nano) jadi satu-satunya divisi OSIS yang “menyelip” di acara Sweet Seventeen IC ini (nggak penting). Lomba ini juga menjadi lomba pertama yang diadain sama Nano Nano.

Berhubung gue dari divisi jurnal, beberapa hari sebelum acara gue dapet tawaran dari salah seorang guru buat mewawancarai Kak Assad. Wow, jelas gue seneng banget. Bisa dibilang, Kak Assad adalah salah satu inspirasi dalam hidup gue. Lewat bukunya juga gue mendapat motivasi yang besar buat masuk ke IC. Dan sekarang gue bisa ngobrol dengannya. Dia orangnya baik banget, asik lagi. Gue juga dapet tanda tangannya buat salah satu bukunya yang gue punya, Sedekah Super Story. Yah, gue merasa ini adalah suatu pencapaian besar, baik bagi gue secara pribadi maupun bagi divisi gue.


Nano Nano with Kak Assad

Moga-moga acara kayak gini selalu mengingatkan kita dan memotivasi kita semua untuk tetap berprestasi, berinovasi, dan berkarya untuk memajukan MAN IC Serpong.

Sunday, August 18, 2013

Mereka, C-Action!

Bayangkanlah, lo sedang tinggal di sebuah rusun kecil di daerah terpencil, di pinggiran hutan bambu dan persawahan. Sumber cahaya cuma ada di sekitar lo aja. Lo nggak bisa ngelihat beberapa meter lebih jauh ke dalam kegelapan. Suara-suara mencekam terdengar dari kejauhan, bahkan tak jarang terdengar dekat. Seakan-akan sesuatu yang nggak diketahui wujudnya ingin menghantui lo.

Kejadian-kejadian janggal sering membuat tidur lo ngga nyenyak. Bawaannya jadi takut ke kamar mandi sendirian pas malem-malem. Dan setiap kali lo boker di tengah malam, selalu ada suara orang memakai sendal, lalu berjalan di atas tanah, dan suara itu terjadi berulang-ulang sampai lo keluar dari kamar mandi. Padahal saat itu semua orang di rusun sedang tidur.

Gue nggak mengada-ngada. Gue pernah mengalami itu semua bareng temen-temen gue, The FICTION, dulu pas masih tahun pertama (kelas 7) di MTs. Di MTs gue, anak akselerasi tinggal di asrama, yang lebih dikenal dengan nama MAHAD. Mahadnya sendiri terletak di salah satu pojokan madrasah, dibangun di atas bekas hutan sekolah. Di depan mahad adalah tempat parkir sekolah, yang menjadi jalan menuju masjid kalo pas lagi hujan. Di belakang mahad ada kebon. Gak tau itu kebon apa, pokoknya bukan milik madrasah dan jarang terlihat dikunjungi oleh manusia.

Kalian pasti bisa bayangin, gimana rasanya hidup dalam suasana mencekam seperti itu. Apalagi suasana MTs pas malem-malem, angker, gelap, dan cuma bagian asrama doang yang terang benderang. Apalagi kuadrat, gue sering tidur paling malem, atau kadang-kadang kebelet boker pas tengah malem. Yah, ini hanyalah satu dari sekian derita yang gue alamin bareng temen-temen seperjuangan gue di kelas aksel.

Selama setahun, malam-malam seperti itu pun kita lalui, di pojokan MTsN Kediri 2 tercinta. Hingga pada saatnya kita naik kelas. Ini adalah suatu pertanda. Pertanda bahwa The FICTION bakal punya adek kelas. Yeyyy......!!!

Ya, memang inilah yang sudah kita tunggu-tunggu, bahkan sejak sebelum tahun ajaran baru. ADEK KELAS..! Selama setahun ini, rasanya cuma kita sendiri yang merasakan penderitaan menjadi anak aksel, entah secara sistem pembelajaran maupun secara mental (jadi inget hinaan cercaan yang dilontarin sama anak kelas laen -___-). Akhirnya, kita akan punya saudara seperjuangan. Yeah!!

Gue inget, bahkan pas adek kelas masih MOS, anak kelas gue udah berani masuk-masuk ke kelas mereka dan kenal-kenalan. Kita juga ngajakin mereka main ke mahad alias asrama, calon tempat tinggal mereka nanti. Singkat cerita, kini mereka jadi temen kita di mahad. Mereka menamai diri mereka C-Action.

Ibarat sang surya yang menyinari dunia, mereka datang membawa semacam “pencerahan”. Segala angker yang dulu dirasa kini menghilang, diskriminasi atas kelas aksel berangsur-angsur berkurang sampai nggak ada lagi, makanan makin hari makin enak, kucing-kucing lucu berdatangan, dan ustadzah wali asrama berubah jadi baik (iyakah?). Tapi lebih dari semua itu, kita jadi merasa punya teman tinggal di mahad. Ya, kini kita memiliki saudara, adek kelas.

Gue nggak tau apa yang terjadi di cewek. Tapi kalo di cowok, The Fiction dan C-Action bener-bener deket. Gaada yang namanya kakak kelas – adek kelas. Semuanya sama-sama bareng. Main sepak bola bareng, main Dota bareng, makan bareng, tidur bareng (?).

Buat yang ceweknya, gue secara pribadi juga lumayan deket sama mereka. Dulu gue bertekad bakal menjadi anak cowok pertama yang hafal semua cewek C-Action. Sebagai anak paling gaul di kelas, tentu gue berhasil. Gue dan beberapa temen gue juga sering godain mereka. Seringkali iseng ngetok pintunya, terus kabur. Bahkan kadang-kadang sengaja buka pintu, terus kabur. Yah, masa-masa kelam ya begini ini -__-” (Maaf ya, buat yang merasa sering dikerjain. Hehe).

Adek-adek kelas gue yang satu ini emang punya banyak perbedaan sama kita, kakak-kakak kelasnya. Bisa dibilang, gue sering merasa iri sama mereka. Mereka memulai hidup mereka di mahad ketika sistem sudah mulai stabil (maklum, gue kan angkatan pertama, jadi kayak kelinci percobaan gitu).  Mereka juga kelihatan lebih kompak, nggak terlalu banyak konflik. Nggak kayak kelas gue yang cowok sama ceweknya hampir ga pernah akur. Mereka kayaknya sering foto lengkap sekelas, yang mana kelas gue cuma pernah melakukan hal itu sekali. Mungkin anak-anak kelas mereka lebih narsis daripada anak kelas gue. Haha...


Yah, semua itu hanyalah “kelihatannya”, “kayaknya”, dan “mungkin”, alias apa yang gue lihat tentang mereka. Gue sendiri nggak tau bagaimana mereka memandang diri mereka sendiri. Yang jelas, rasa iri gue sebenernya adalah rasa bangga, karena mereka punya banyak hal yang nggak dimiliki The Fiction. Selain itu, mereka juga baik-baik dan asik-asik. Bahkan sesekali gue lebih merindukan mereka daripada kelas gue sendiri, The Fiction. Karena jujur saja, gue pernah punya suatu urusan dengan kelas ini, yang itu menjadi salah satu kenangan paling penting dalam hidup gue.

Mereka beranggotakan 14 anak manusia, dengan komposisi 5 cowok dan 9 cewek. Bagus, David, Iggoor, Syahrul, Rafly, Tira, Ima, Dea, Indah, Qila, Risma, Monica, Salsa, dan Bella. Dua di antara mereka, Rafly dan Ima, menjadi penerus gue di MAN ICS.


Ini semua terjadi sudah cukup lama, ketika The Fiction dan C-Action masih tinggal dalam satu asrama, satu mahad. Setelah lulus, gue nggak terlalu banyak tahu tentang hubungan mereka dengan adek kelas yang baru, Antiction (angkatan ketiga). Yang jelas, di awal tahun ajaran baru ini, gue sempet merasa kaget, “Wow, perasaan kemaren mereka baru masuk MTs deh. Kok sekarang udah pada SMA ya?” Yak, tahun ini mereka baru lulus dari MTs. Tapi, mereka akan tetep menjadi adek kelas gue yang paling imut sedunia :3

Beberapa The Fiction dan semua C-Action pas perpisahan angkatan gue

Wednesday, August 14, 2013

Haeyy..Gue mau share sebuah gambar nih~

Yak, mumpung liburan, gue iseng-iseng pengen belajar desain grafis. Yang sederhana aja sih, cuma desain kaos. Tapi gue seneng banget, karena menurut gue karya pertama ini nggak sejelek yang diperkirakan.


Sebenernya ini adalah kali kedua gue ngotak-ngatik corel draw buat bikin kayak beginian. Percobaan pertama menghasilkan sesuatu yang bahkan gue nggak tau itu apaan. Nah, pas gue di IC, gue sering ngelihatin temen gue yang lagi desain kaos angkatan. gue jadi ngerti beberapa tombol baru, dan bisa gue coba pas liburan sekarang.

Saturday, August 10, 2013

Gue dan Sesuatu yang Bernama Jurnalistik

Jurnalistik? Hmm.. Sebenernya udah sejak kecil gue menaruh (?) minat gue di sana. Saat gue mulai mengenal asyiknya tulis menulis. Ketika itu gue masih SD, dan gue sudah menulis di blog yang sekarang gue tinggalkan dengan dua posting di sana. Sayangnya, di SD dulu belom ada ekskul jurnalistik.

Suatu hari, seorang dari alumni berkata padaku, “Di MTs 2 ada organisasi jurnalis lho dek, namanya Fikruna. Kamu ikut aja.” Sejak itu gue jadi pengen cepet-cepet lulus SD biar bisa ikut Fikruna. Alhamdulillah, gue lulus SD dan masuk ke MTs 2. Gue pun join ke Fikruna tanpa pikir panjang. Gue pun mendapat ilmu baru di sana. Gue baru tahu kalo jurnalistik nggak sebatas tulis-menulis artikel doang. Di dalamnya juga ada fotografi, desain grafis, layout-layout gitu, mading, wawancara, dll.

Banyak pengalaman seru gue lalui bareng Fikruna, apalagi pas acara School Contest V yang diikuti oleh SMP/SMA sederajat dari seluruh Karesidenan Kediri. Ada macem-macem lomba, seperti perang mading, jurnalis blog, fotografi, band sekolah, akustik, dance, putri lingkungan, dll.

Fikruna tentu gak mau ketinggalan di lomba-lomba jurnalistiknya, terutama PERANG MADING. Sebelum acara, kita bela-belain nginep di sekolah buat ngerjain mading 3D. Terus, jaga mading di spot lombanya dari pagi sampe malem, selama tiga hari. Selama itu, gue kenalan sama kru-kru mading dari sekolah lain.

Mading super keren punya Fikruna

Beberapa kru mading Fikruna Matsanda

Pas malam puncak, bersama 2 penghargaan

Oh ya.. Sebenernya gue bukan bagian dari kru mading. Pas School Contest, gue ikutan lomba blog jurnalis, yang sistem lombanya sama persis sama journalist on the spot-nya Sonic Linguistic (bedanya, jurnalis blog di SC satu tim 3 orang, ngga individual kayak JOTS-nya Sonlis). Tapi, sebagai anak Fikruna, gue juga tetep bantu bikin mading. Gue bahkan menjaga mading lebih lama dari kru mading yang laen, karena gue harus stay di gedung tempat lomba itu dari pagi sampe malem, demi memburu berita. Gak kayak kru mading yang bisa gantian jagain mading. Sayang, pas itu blog gue belom menang.

Prestasi Fikruna sebenernya cukup membanggakan. Tapi entah mengapa, Fikruna menjadi organisasi yang paling dicampakkan oleh pihak sekolah di antara 5 organisasi besar di MTs. Jelas kita kesel gara-gara ini. Tapi, gara-gara itu juga kita dipersatukan, dikompakkan. Fikruna adalah pelarian pertama gue kalo gue bosen ato ada konflik di kelas. Bisa dibilang, gue cinta sama organisasi yang satu ini.

Gue seneng karena berkesempatan menularkan bekal yang gue dapet dari Fikruna di kelas. Gue ketua kelas pas tahun kedua, dan gue pimpin kelas gue dalam lomba mading 2D antar kelas. Ini adalah satu dari sangat sedikit lomba antar kelas yang kelas gue diizinin buat ikut. Maklum, kelas aksel. Gue coba memanfaatkan potensi dari semua anggota kelas (yang kebanyakan dari mereka ngga sadar itu). Alhamdulillah, kelas gue pun jadi juaranya. Kelas gue ngalahin 9A yang sejak dulu terkenal selalu memenangkan lomba mading kelas, di lomba mading pertama yg kita ikuti.

Mading berjudul "Kampung Nusantara" bersama bidadari-bidadari The FICTION

Selama MTs, pergerakan gue di organisasi sangat dibatasi (yah, walau pada kenyataannya gue sering melanggar batas itu). gue berniat untuk “balas dendam” di SMA nanti. Dan Alhamdulillah, gue diterima jadi siswa di IC. Dulu, gue berangan-angan untuk melanjutkan kesibukan gue di bidang jurnalistik. Tapi entah, gue agak kecewa sama ekskul jurnalis di IC. Jurassic (nama ekskul jurnalis) nggak terlalu kelihatan performanya. Gak pernah ikutan lomba, anggotanya pada males ngumpul, dan kelihatan aja kurang berkarya. Jurnalistik dianggep sebagai sesuatu yang nggak terlalu penting. Hal ini pelan-pelan membuat gue lupa dengan jurnalistik.

Namun, sekarang gue menatap ke depan. Gue dapet amanah buat jadi koordinator OSIS divisi jurnalistik di kelas XI ini. Gue jadi merasa diingatkan kembali kepada apa yang dulu gue gemari. Jurnalistik memang bukan cita-cita gue.  Bakat pun bahkan belom tentu. Ia hanya sebatas minat, kegemaran, kesukaan, hobi. Namun, dulu gue banyak belajar darinya. Gue dapet banyak teman, banyak pengalaman, banyak manis-pahitnya hidup, dan banyak cinta. Ya, mulai sekarang gue akan menatap ke depan.