Saturday, August 10, 2013

Gue dan Sesuatu yang Bernama Jurnalistik

Jurnalistik? Hmm.. Sebenernya udah sejak kecil gue menaruh (?) minat gue di sana. Saat gue mulai mengenal asyiknya tulis menulis. Ketika itu gue masih SD, dan gue sudah menulis di blog yang sekarang gue tinggalkan dengan dua posting di sana. Sayangnya, di SD dulu belom ada ekskul jurnalistik.

Suatu hari, seorang dari alumni berkata padaku, “Di MTs 2 ada organisasi jurnalis lho dek, namanya Fikruna. Kamu ikut aja.” Sejak itu gue jadi pengen cepet-cepet lulus SD biar bisa ikut Fikruna. Alhamdulillah, gue lulus SD dan masuk ke MTs 2. Gue pun join ke Fikruna tanpa pikir panjang. Gue pun mendapat ilmu baru di sana. Gue baru tahu kalo jurnalistik nggak sebatas tulis-menulis artikel doang. Di dalamnya juga ada fotografi, desain grafis, layout-layout gitu, mading, wawancara, dll.

Banyak pengalaman seru gue lalui bareng Fikruna, apalagi pas acara School Contest V yang diikuti oleh SMP/SMA sederajat dari seluruh Karesidenan Kediri. Ada macem-macem lomba, seperti perang mading, jurnalis blog, fotografi, band sekolah, akustik, dance, putri lingkungan, dll.

Fikruna tentu gak mau ketinggalan di lomba-lomba jurnalistiknya, terutama PERANG MADING. Sebelum acara, kita bela-belain nginep di sekolah buat ngerjain mading 3D. Terus, jaga mading di spot lombanya dari pagi sampe malem, selama tiga hari. Selama itu, gue kenalan sama kru-kru mading dari sekolah lain.

Mading super keren punya Fikruna

Beberapa kru mading Fikruna Matsanda

Pas malam puncak, bersama 2 penghargaan

Oh ya.. Sebenernya gue bukan bagian dari kru mading. Pas School Contest, gue ikutan lomba blog jurnalis, yang sistem lombanya sama persis sama journalist on the spot-nya Sonic Linguistic (bedanya, jurnalis blog di SC satu tim 3 orang, ngga individual kayak JOTS-nya Sonlis). Tapi, sebagai anak Fikruna, gue juga tetep bantu bikin mading. Gue bahkan menjaga mading lebih lama dari kru mading yang laen, karena gue harus stay di gedung tempat lomba itu dari pagi sampe malem, demi memburu berita. Gak kayak kru mading yang bisa gantian jagain mading. Sayang, pas itu blog gue belom menang.

Prestasi Fikruna sebenernya cukup membanggakan. Tapi entah mengapa, Fikruna menjadi organisasi yang paling dicampakkan oleh pihak sekolah di antara 5 organisasi besar di MTs. Jelas kita kesel gara-gara ini. Tapi, gara-gara itu juga kita dipersatukan, dikompakkan. Fikruna adalah pelarian pertama gue kalo gue bosen ato ada konflik di kelas. Bisa dibilang, gue cinta sama organisasi yang satu ini.

Gue seneng karena berkesempatan menularkan bekal yang gue dapet dari Fikruna di kelas. Gue ketua kelas pas tahun kedua, dan gue pimpin kelas gue dalam lomba mading 2D antar kelas. Ini adalah satu dari sangat sedikit lomba antar kelas yang kelas gue diizinin buat ikut. Maklum, kelas aksel. Gue coba memanfaatkan potensi dari semua anggota kelas (yang kebanyakan dari mereka ngga sadar itu). Alhamdulillah, kelas gue pun jadi juaranya. Kelas gue ngalahin 9A yang sejak dulu terkenal selalu memenangkan lomba mading kelas, di lomba mading pertama yg kita ikuti.

Mading berjudul "Kampung Nusantara" bersama bidadari-bidadari The FICTION

Selama MTs, pergerakan gue di organisasi sangat dibatasi (yah, walau pada kenyataannya gue sering melanggar batas itu). gue berniat untuk “balas dendam” di SMA nanti. Dan Alhamdulillah, gue diterima jadi siswa di IC. Dulu, gue berangan-angan untuk melanjutkan kesibukan gue di bidang jurnalistik. Tapi entah, gue agak kecewa sama ekskul jurnalis di IC. Jurassic (nama ekskul jurnalis) nggak terlalu kelihatan performanya. Gak pernah ikutan lomba, anggotanya pada males ngumpul, dan kelihatan aja kurang berkarya. Jurnalistik dianggep sebagai sesuatu yang nggak terlalu penting. Hal ini pelan-pelan membuat gue lupa dengan jurnalistik.

Namun, sekarang gue menatap ke depan. Gue dapet amanah buat jadi koordinator OSIS divisi jurnalistik di kelas XI ini. Gue jadi merasa diingatkan kembali kepada apa yang dulu gue gemari. Jurnalistik memang bukan cita-cita gue.  Bakat pun bahkan belom tentu. Ia hanya sebatas minat, kegemaran, kesukaan, hobi. Namun, dulu gue banyak belajar darinya. Gue dapet banyak teman, banyak pengalaman, banyak manis-pahitnya hidup, dan banyak cinta. Ya, mulai sekarang gue akan menatap ke depan.

Saturday, June 29, 2013

Cewek Harus Seksi

Hei, semuanyaaah... Sori ya, udah lama banget gue nggak posting. Biasa, orang sibuk. Hehehe. Nah, sekarang kan lagi liburan. Gue mau ngasih posting spesial liburan, nih. Ya, POSTING SPESIAL LIBURAN... *prokprokprok*. Terima kasih, terima kasih.

Ehem. Selama ini gue terkurung dalam “penjara suci”. Di sana, gue terisolasi dari dunia luar dan segala perkembangannya. Sebenernya sih, ada celah-celah untuk tetap gaul dan update tentang perkembangan zaman. Tapi, gue lebih memilih untuk jadi prisoner yang, yah, beginilah gue. Nggak update.

Dhuarrr.... Ini liburan! Gue bebas dari penjara itu untuk beberapa hari. Dan gue kaget. Kaget setengah hidup. Ternyata dunia luar makin alay *plakk*. Tapi emang bener, kan? Oke, gue tau lo semua setuju sama pemikiran gue, bahwa dunia sekarang makin alay.

Tapi tenang, gue nggak akan bahas tentang ke-alay-an di dunia yang makin menjadi-jadi ini. Mungkin topik yang akan gue angkat kali ini udah sering dibahas di mana-mana dan udah dikemas dalam berbagai bentuk pembicaraan. Tapi, topik yang bakal gue angkat ini sebenernya CUKUP SENSITIF buat dibicarain. Kalo misalkan lo udah kebelet muntah pas baca judulnya, atau kalo lo punya penyakit jantung, kanker paru-paru, impotensi, gangguan kehamilan dan janin, gue saranin lo stop membaca di sini. Kecuali lo emang merasa kuat buat lanjut membaca.

Ini tentang suatu opini, yang secara sadar ataupun nggak, mayoritas masyarakat setuju dengannya. Opini ini jika dituliskan dalam kalimat akan berbunyi : Cewek harus seksi. Ya, CEWEK HARUS SEKSI..!

Mari kita perhatikan dunia ini, dunia yang makin edan gara-gara kita, manusia yang tinggal di dalamnya. Media seakan tak ada henti-hentinya memproklamasikan opini bahwa cewek itu harus seksi. Iklan-iklan shampo yang memamerkan rambut hitam, kuat, lebat, gaada ketombe, dan semacamnya. Iklan celana jeans yang iuhhh.. -__-. Belom lagi pentas-pentas yang artis ceweknya selalu pake baju ketat, kelihatan ketek dan pahanya. Apalagi iklan sabun mandi yang modelnya pasti telanjang, cuma beberapa bagian tubuhnya aja yang ketutupan busa sabun.

Bisa disimpulkan bahwa syarat-syarat untuk jadi cewek seksi VERSI MASYARAKAT adalah sebagai berikut :
- cewek yang seksi itu pamer rambut
- cewek yang seksi itu pamer ketek
- cewek yang seksi itu pamer paha
- cewek yang seksi itu pamer lekuk tubuh

Intinya, pamer aurat!

ASTAGHFIRULLAH...

Pemikiran yang sungguh jahiliyah -_______-

Sebenernya, gue setuju sih, sama opini bahwa cewek harus seksi. Ya, CEWEK HARUS SEKSI. Tapi, gue sama sekali nggak setuju sama syarat-syaratnya. Jadi, gue akan kasih tau syarat-syarat untuk jadi cewek seksi VERSI GUE :
- cewek yang seksi itu menutup rambutnya dengan jilbab
- cewek yang seksi itu pake baju lengan panjang
- cewek yang seksi itu pake celana/rok panjang
- cewek yang seksi itu pakaiannya lebar, nggak ketat

Intinya sih, menutup aurat.

Nggak cuma itu. Biarpun gaul dan asik, cewek seksi VERSI GUE harus bisa jaga diri. Yang kayak gimana tuh? Cewek seksi kudu bisa menjaga hubungannya sama cowok, nggak asal deket-deketan sama sembarang orang. Terus, tutur katanya enak dan kerasa sejuk di hati *eeaaa. Nggak mendesah, tapi juga nggak nyolot. Dan tentu saja, tebar senyum kapan pun dan di mana pun.

Untuk menjadi cewek seksi VERSI GUE emang butuh perjuangan. Nggak kayak cewek seksi VERSI MASYARAKAT, yang asal pamer sana pamer sini, udah dianggep seksi. Emang sih, kalo mau jadi orang baik tuh butuh perjuangan.

Gue punya dua pertanyaan, satu buat cewek dan satunya buat cowok.

*Buat cewek, lo mau jadi cewek seksi yang mana, VERSI MASYARAKAT atau VERSI GUE?


*Buat cowok, lo mau dapet cewek seksi yang mana, VERSI MASYARAKAT atau VERSI GUE?

Something "Kediri" In IC

IC adalah lingkungan yang multikultural. Berbagai macam ras dan kebudayaan berkumpul jadi satu di sini. Mulai orang Minang, Betawi, Sunda, Jawa, gaul, alim, alay, dll (yang merasa disebut atau ngga disebut, mohon jangan tersinggung yaa...). Gue jadi tahu kalo Indonesia bener-bener luas dengan berbagai macam budayanya. Berhubungan dengan hal ini, maka bermunculan komunitas-komunitas kedaerahan di IC. Tujuannya tentu bukan untuk membuat perpecahan, dan tentu lebih dari sekedar “ngumpul bareng”. Komunitas-komunitas ini umumnya bergerak saat Romadhon dengan mengadakan buka puasa bareng, bahkan beberapa ada yang mengadakan pulang bareng komunitas pas libur lebaran.

Sebelumnya, gue mau minta maaf kalo ada salah sebut atau semacamnya. Mereka adalah HORAS (himpunan orang-orang rantau asal Sumatra), MEGAKOM (megapolitan community alias orang2 Jabodetabek), PARAHYANGAN atau GBF (gabisa bilang “f “alias orang2 Sunda), SEJATI (Sentral Java community), dan JATMIKO (Jawa Timur community). Lima nama itu adalah lima komunitas kedaerahan raksasa di IC. Tentu gue tergabung dalam JATMIKO.

Nah, gue berangkat ke IC juga nggak sendiri. Gue punya temen-temen seperjuangan dari Kediri. Mereka adalah Mirza, Opi, Ica, Nida, dan Bintang. Pas MTs, mereka adalah kakak kelas gue. Jadi, sampe sekarang gue masih manggil mereka pake sebutan “mas” dan “mbak”. Tapi, sekarang kita jadi seangkatan karena dulu gue aksel. Ya, kita ber-6 sekarang sedang memperjuangkan keadilan kehidupan agar tetap bertahan di IC, dan tentu saja berusaha membawa nama baik almamater MTsN Kediri 2 tercinta.

Selama di MTs, gue nggak pernah deket sama orang-orang ini. Bahkan ada di antara mereka  yang baru gue kenal gara-gara mau tes masuk ke IC. Tapi, sekarang mereka justru jadi temen-temen deket gue. Kita lumayan sering ngumpul kalo dibandingkan sama anak-anak kota/daerah lain. Pas ngumpul, kita biasanya ngobrol-ngobrolin gitu lah. Biasa, anak muda. Hehe banyak hal. Misalnya, masa lalu, temen-temen di MTs, cerita-cerita selama liburan, masalah angkatan, kegiatan di kelas masing-masing, kakak kelas, guru, dan masih banyak deh. Terus, kita juga selalu sempetin waktu buat poto bareng tiap kali ada kegiatan.

Oke, sekarang kita udah punya komunitas orang-orang Kediri di IC. Sempet ada yang ngusulin nama Nagh Kediri Community, yang kalo disingkat jadi Naked Community. Awalnya kita sepakat dengan nama keren itu (kecuali singkatannya). Tapi akhir-akhir ini kita mulai nggak srek sama nama ini. Yah, mungkin pikiran kita udah mulai menjernih.

Hmmm... Kita di IC ini gak cuma sekolah. Dan, bisa dibilang anak Kediri rata-rata aktif dan berprestasi, baik di kelas, angkatan, sampe OSIS. Nah, gue mau langsung nampilin poto-poto eksis anak Kediri di IC. Beberapa di antaranya nggak lengkap, tapi selalu ada gue di sana. Yah, gue nggak tau anak-anak Kediri pernah poto tanpa gue ato nggak. Yang penting, inilah poto-poto yang gue punya...

Pas lagi kunjungan ke istana negara seangkatan. Mana istananya? Ga kelihatan, ini pas lagi di tempat parkirnya.
(dari kiri atas) Ica, Opi, Nida, Bintang, Mirza, gue

Nah, ini pas lagi jadi panitia Sonic Linguistic 2013.
Opi, Nida, Mirza, gue

Studi kolaboratif Astonic... Di salah satu spot di villa di puncak.
Mirza, Bintang, Opi, Ica, Nida, gue

Di Monas, sebelum ke Stasiun Gambir buat pulang libur kenaikan kelas. Oh ya, ini adalah sore sebelum malam HUT Jakarta loh...
Bintang, Nida, gue, Mirza

Yak, ini pas liburan puasa, Anak ICS-ICG angkatan gue ngumpul di MTs buat silaturahmi sekalian cerita-cerita.
(ICS) Mirza, gue, Ica, Opi, Bintang. (ICG) Naja, Rahma

Tuesday, May 28, 2013

MEI !

Mei ini mungkin bakal menjadi bulan tersibuk buat hampir semua orang di IC. Di dalemnya ada salah satu acara gede OSIS, I-Care. Terus banyak acara OSIS lain dan yang non-OSIS dipegang sama anak kelas X. Mulai dari acara Titan, Mabit, Legionnaire, simulasi kampanye parpol dan pemilu, serta Bingo. Belum lagi banyak pe-er, tugas, hafalan, ulangan, remed, dan semua itu ada di bulan ajaib ini. Gue adalah salah satu dari orang yang berhasil dibikin stres sama bulan ini. Oh ya, para guru juga pasti pada sibuk nyiapin Penerimaan Siswa Baru. Ckckck...

Ya, acara-acara di bulan ini emang udah selesai, dengan Bingo sebagai puncaknya, Sabtu kemaren. Tapi, SENEN DEPAN UAS BROO..!!! Belum sampe situ, minggu ini aja masih banyak ulangan, remed, pe-er, tugas, hafalan... Yah, kehidupan di IC. Statis, namun sangat dinamis.

BINGO

BINGO... BINGO? BINGO..!

Sunday, April 14, 2013

Berusaha Mencintai


Gue sempet berpikir. Ya, mikir. Jarang-jarang gue bisa mikir kayak gini. Emang gue mikirin apa sih? Gak tau deh. Gak jelas.

Wow, ternyata sekarang gue udah jadi anak IC bro! Dipikir-pikir, aneh juga. Padahal, ada banyak hal yang mendukung suatu opini, opini bahwa gue gak bakal ada di sini sekarang.  Namun, sepertinya Allah “berserikeras” untuk menjebak gue agar menghabiskan "masa-masa SMA" di “penjara suci” ini. Semoga memang begitu, dan semoga tetap begitu. Amin.

Gue bersyukur. Kalo bukan karena ada di IC, mungkin gue gak akan selamat dari perputaran dunia yang makin alay. Selain itu, gue bisa ketemu sama ratus-ribuan macam karakter yang berasal dari berbagai macam daerah. Gue jadi tau, ternyata ada golongan manusia yang kalo ngobrol pake “lo gue”-an. Dan ternyata golongan itu menganggap orang yang pake “aku kamu” sebagai orang homo. Wow.

Ya, gue belajar banyak hal di sini.

Memang, nggak bias serta-merta gue langsung menerima semua keadaan baru di sini. Gue butuh adaptasi. Dan, acara yang bernama PTS alias Pekan Ta’aruf Siswa benar-benar cukup membantu dalam proses ini.  Gue (hampir) bisa hafal semua nama lengkap cowok seangkatan hanya dalam seminggu. Hebat.

Untuk mencintai lingkungan baru ini (IC tentunya), gue mulai dari yang kecil dulu. Maksudnya? Gue merasa kesulitan kalo harus langsung mencintai IC yang begitu kompleks ini. Jadi, gue mulai mencintai kelompok-kelompok kecil yang gue tergabung di dalamnya. Ya, tentu.

Habis PTS ada kelas matrikulasi. Gue kebagian kelas M-1. Menurut mitos, para penghuni M-1 adalah anak-anak yang jago bahasa arab. Nggak salah sih, kebanyakan temen gue di sini berasal dari pondok dan pada jago bahasa arab. Satu hal yang masih bikin gue bingung. Kenapa gue kok bisa masuk kelas ini? Oh, mungkin kepiawaian gue di bidang laen lebih jongkok. Haha.

Kelas ini adalah hal mengasyikkan pertama yang gue punya di IC. Orang-orangnya asyik-asyik, cepet akrab, hampir gak pernah sepi, dan semacamnya. Kita juga punya tradisi, yakni bagi-bagi makanan. Walau masa matrikulasi udah lama berakhir, namun tradisi itu masih berjalan sampe sekarang. Kita sering ngumpul  cuma buat makan-makan. M-1, satu-satunya kelas matrik di tahun ini yang punya nama dan motto. Neo-Maxis #makansehat.

Beranjak ke tahap berikutnya, yakni kelas sungguhan. Gue “ditaruh” di kelas X-2 dengan absen yang sama seperti pas matrik, 11. Menurut legenda, dari tahun ke tahun X-2 selalu berisi anak-anak yang PD dan asyik. Kerennya mantan ketua kelas X-2 tahun lalu dan dua tahun lalu, keduanya menjadi ketua OSIS. Asik.

Gue tetep butuh waktu untuk bisa cinta sama kelas gue ini. Entah, bahkan dalam beberapa saat gue masih cinta sama Neo-Maxis. Perlahan tapi pasti. Segala pe-er, ulangan, pelajaran, kegiatan, canda, tangis, dan tawa (lebay deh -_-) gue jalani bareng mereka. Gue masih inget gimana kelas gue  mempersiapkan perform dramanya, bupalas (buka puasa kelas)nya, bupatitan (buka puasa tiga angkatan)nya, CIVIC Pedulinya, video klipnya, dan wah, masih banyak lagi. Oke, waktu awal-awal dulu kita emang belom terlalu kompak sih. Namun…

“Terima kasih,” kata ini untuk salh satu acara OSIS yang bernama GAKIC. Gue makin cinta sama kelas seiring dengan makin kompaknya kelas. Dan hal ini bener-bener kerasa pas pertandingan basket cowok lawan XI NS 1 di hari terakhir GAKIC. Semua anggota kelas bisa hadir di pertandingan kelas yang terakhir itu. Perasaan tegang dari tiap anak bersatu pas ngeliat skor yang kejar-kejaran. Namun, kelas kita belom bisa mengungguli kelas yang emang terkenal “kuli” itu. Kita kalah.

Persetan dengan medali yang diperoleh maupun letak di ranking hasil akhir. Kita sudah mencurahkan semuanya untuk acara ini. Lucunya, kita hampir nggak pernah sekompak ini pada acara-acara OSIS lainnya. Aneh.

Alma, Alya, Anggia, Kokom, Nafis, Hani, Hilman, Atik, Cahyani, Lulu, gue, Tika, Aldo, Ihsan, Oya, Aun, Hanif, Sita, Wafi, Ian, Salman, Savira, Syifa, dan Topik. Radixivous Avisenna, Raxivenn.

Sekarang gue lagi dalam masanya mencintai yang lebih besar lagi. Angkatan. Padahal gue sering ngingetin temen-temen untuk solid di angkatan. Ya, gue ketua angkatan yang payah. Gue nggak bisa cerita banyak-banyak tentang angkatan gue. Takut sombong. Gue juga nggak bisa cerita yang aneh-aneh tentang angkatan gue. Takut nyebarin aib. Gue cuma bisa ngasih tau namanya. Astonic Dralen Relaston.

Udah? Udah..

Thursday, April 11, 2013

Happy Satu-Dua Day! (part 1)


12-12-12. semua orang mungkin berpikir kalo itu adalah tanggal yang unik. Namun, itu belum tentu merupakan hari yang spesial. Kecuali bagi kita, anak X-2. Kombinasi angka yang mantep itu bisa kita baca satu dua-satu dua-satu dua. Dan itulah mengapa kita sebut tanggal itu special. Satu-dua, kelas kita sekarang. Oh, bukan. Keluarga kita selamanya.

Kita sudah sadar mengenai tanggal itu beberapa minggu sebelumnya. Tentu kita nggak mau melewatkan momen yang cuma terjadi dalam 100 tahun sekali ini. Inisiatif dan ide-ide mulai bermunculan. Salah satunya langsung kita sepakati, bikin acara 3 angkatan!

Namun, kita menemukan suatu kendala. Tanggal 12 Desember itu ada dalam masanya kita lagi UAS. Okelah, kita sepakat nggak jadi bikin acara di tanggal itu, kita pindah setelah UAS. Walau begitu, kita tetep pengen ngerayain Hari Satu-Dua di hari itu juga. Okelah, lagi-lagi kita sepakat untuk bikin suatu merchandise bertemakan Satu-Dua Berjaya. Kita akan bikin gantungan kunci! Desainnya udah dibikin, terus di-print… Beberapa hari sebelum tanggal 12, bareng-bareng kita guntingin kertas print2an-nya dan kita laminating dengan cara disetrika *(agak primitif ya -_-).

Gantungan kunci itu kita bagikan ke anak-anak kelas X-2 dan kakak-kakak kelas mantan X-2 pas tanggal 12-nya. Benda mungil nan imut ini pun dinobatkan sebagai salah satu atribut kelas Raxivenn. Selain tebar merchandise, malam harinya keluarga Satu-Dua Berjaya juga kita kumpulkan di kiri masjid. Ngumpulnya pun agak gaje. Dengerin Si Topik ngoceh, salam-salaman, diusir Pak Oji, udah. Maklum, besoknya masih ada ujian. Hehehe… (Tentu semua proses itu kita lakukan pas masa UAS).