Wednesday, October 17, 2018

Andalusia 1437 H dan Segala Hebeh-Hebehnya (Part 1)


Gara-gara nulis cerita yang kemaren, gue jadi nostalgia tentang Andalusia kan. Sebenernya, udah lama banget gue pengen nulis tentang Andalusia. Boleh dibilang, Andalusia menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan selama gue kuliah. Sayang banget kalo gak gue ceritain di sini. Yak, berhubung ini acara udah sekitar dua tahun lalu (lebih wkwk), gue akan coba mengingat-ngingat apa aja yang terjadi selama gue ngurus Andalusia 1437 H.

Semuanya berawal dari musyawarah angkatan 2015 untuk menentukan siapa penanggung jawab atas tiga kegiatan yang diamanahkan ke angkatan kita: Salimpol (penerimaan anggota baru), Andalusia (Idul Adha), dan Latihan Kepemimpinan (LK) 1. Singkat cerita, gue ditunjuk buat pegang Andalusia. Seinget gue, alasan forum waktu itu sederhana, karena gue satu-satunya cowok di forum itu yang pernah ikut Andalusia tahun sebelumnya. Karena sadar betul bahwa gue nggak bisa kerja sendiri, gue pun langsung ngetag Okky jadi partner buat ngurusin Andalusia.

Oiya, sedikit penjelasan tentang Andalusia. Andalusia merupakan akronim dari Antusias dalam Alunan dan Semarak Idul Adha. Sesuai namanya, Andalusia digelar oleh Jamaah Muslim Fisipol (JMF) untuk menyemarakkan Idul Adha, sekaligus wujud pengabdian masyarakat desa. Biasanya, Andalusia diselenggarakan di desa-desa yang terpencil di sekitaran Jogja.

Abis kepilih, gue gercep ngobrol sama beberapa kating, konsultasi bagaimana Andalusia dulu dan bagaimana baiknya gue menjalankan Andalusia sekarang. Dari dua mantan ketua yang gue ajak ngobrol, gue belajar tentang urgensi diadakannya Andalusia, apa aja yang perlu dilakuin, potensi konflik dengan warga desa bahkan konflik internal dan alumni JMF, dll. Gue juga menyadari kalo mereka lebih suka “bekerja sendiri” sebagai ketua panitia.

Ini salah satu yang pengen gue perbaiki dari Andalusia. Gue pengen Andalusia menjadi lebih dari pengabdian JMF kepada masyarakat desa, apalagi cuma sebatas kewajiban menyelesaikan proker. Andalusia sekarang harus bisa menjadi wadah untuk membangun kekompakan internal JMF, khususnya angkatan gue sebagai panitia utama. Gue pun merekrut beberapa temen buat jadi koordinator divisi, terutama mereka yang sehari-harinya jarang kelihatan di JMF. Selain bermaksud buat menggali potensi angkatan dan berbagi SDM dengan dua kegiatan lainnya, gue juga pengen menarik mereka buat makin aktif di JMF kemudian hari.

Singkat cerita, terbentuklah formasi pengurus harian (PH) Andalusia 1437 H sebagai berikut: gue sebagai ketua panitia, Nisa Nur Irina sebagai sekretaris dan Nisa Nur PS sebagai bendahara, Aufi koor acara, Okky koor perkap, Dina koor PDD, Yaya koor humas, Faisal koor PHQ, Anni koor konsumsi, dan Fella koor P3K.

Sebenernya, persiapan kegiatan ini boleh dibilang agak mepet. Kalo ga salah, gue baru mulai panik soal Andalusia itu sekitar akhir Juli, dan itu ga sampe H-2 bulan Idul Adha. Satu setengah bulan berikutnya pun kita hectic mempersiapkan Andalusia ini. Survey lokasi, survey vendor hewan kurban, cari sohibul kurban, merancang acara, publikasi, fundrising, rekrut panitia dan volunteer, dll.

Oiya, gue mau cerita khusus tentang survey lokasi nih. Dalam rangka menentukan lokasi Andalusia, kita beberapa kali survey ke desa-desa di daerah Gunung Kidul. Survey pertama gue berangkat bareng Okky, ditemani oleh Syekh Ali sebagai guide. Survey berikutnya, kita ke Dusun Ngelo, Desa Petir, Kec. Rongkop, Gunung Kidul. Thanks to Kak Dewan, JMF angkatan 2010 sekaligus Kadogama terkece, yang sudah memberikan referensi lokasi dan menemani kita survey beberapa kali. Di Desa Petir inilah nantinya Andalusia bakal digelar.

Kalo ga salah, kita silaturahmi ke sana sebelum acara itu sampe tiga kali. Yang berangkat selalu sama: gue, Okky, Aufi, dan Lintang, kadang ditemenin Kak Dewan. Di sana, kita numpang di rumah salah satu takmir masjid, Pak Tar. Selama tiga kali survey lokasi, survey squad sempet nginep di sana, kulonuwun sama pak dukuh, ikut panen ketela, ikut ngajar ngaji, treking ke bukit-bukit, sampe ada tragedi helm kesemutan dan ban motor pecah pas perjalanan pulang.


Survey Squad: Gue, Aufi, Lintang, Okky, Bang Dewan

Singkat cerita, segala persiapan sudah kita usahakan. Demi meminimalisasi konflik (dalam dua Andalusia sebelum ini, selalu terjadi konflik yang mengakibatkan kegiatan nggak berjalan lancar), gue sampe menunjuk empat “jenderal” yang gue anggep paling ngerti acara ini. Mereka adalah Aufi, Lintang, Okky, dan Yaya. Mereka bertugas buat menggantikan peran gue agar kegiatan tetap berjalan, in case nantinya gue menghilang karena suatu hal.

Kalo diinget-inget, persiapan Andalusia emang mayan hectic, tapi boleh dibilang sangat menyenangkan. Gue jelas nggak hectic sendirian. Ada temen-temen panitia dan kating lainnya yang membantu dengan usaha maksimal demi terlaksananya kegiatan ini. Kalo boleh ngaku, gue justru merasa kerja gue dikit karena antusias dan semangat temen-temen. Semua memberikan kontribusi terbaik sesuai porsinya masing-masing. Special thanks to para PH Andalusia karena udah jadi tim yang super solid, menyenangkan, amanah, dan saling bantu. Salut!

H-2 acara, gue bikin ini dong buat nyemangatin diri gue sendiri dan para koor. Hai, kalian masih pada inget ini ga? Wkwk.


Bersambung ke Part 2...

Friday, October 12, 2018

Yaya


Well, berhubung lama gak update, jadi udah lama banget ya gue nggak ngomongin orang lagi di blog ini. Kali ini, rubrik profile kembali hadir menceritakan sesosok manusia secara subyektif dan semena-mena. Kalo selama ini gue selalu nyeritain tentang temen-temen di IC, kali ini gue bakal mendeskripsikan salah satu temen kuliah gue.

Kenalin, ini yaya.
Heh bukan yaya yang itu -_- Yaya di bawah ini yang gue maksud hehe.


Gue pernah mencoba stalking, kemudian menemukan kenyataan bahwa orang ini sangat susah dicari jejaknya di internet. Jadi, mungkin, tulisan nggak penting ini bisa jadi referensi kalo kalian ada yang kepo sama sosok satu ini. Kalo ada.

Amalia Khusnaya alias Yaya ini adalah mahasiswi Manajemen Kebijakan Publik UGM 2015. Dia berasal dari kalangan Magelang atau Mahasiswa Gemar Pulang. Gue kenal ukhti yang satu ini dari Jamaah Muslim Fisipol (JMF), sebuah organisasi dakwah kampus yang mengizinkan gue menjadi parasit di sana selama ini.

Berhubung seangkatan di JMF, harusnya gue udah pernah ketemu sama dia paling nggak pas Latihan Kepemimpinan (LK) 1. Tapi, waktu itu gue belum terlalu ngeh sama doi. Mungkin dia masih agak pendiem waktu itu. Seinget gue, Yaya belum telalu aktif banget di JMF pas tahun pertama. Dia bukan termasuk anak yang sering nongol di sekre, jadi gue belum terlalu kenal sama dia.

Gue baru beneran kenalan sama dia tu pas acara kultural angkatan di rumah Fella. Metode kenalan gue waktu itu lumayan nggak biasa. Gue melihat sebuah jaket JMF dengan tulisan Amalia Khusnaya tergeletak di sebuah kursi. Berhubung gue penasaran mana sih yang namanya Amalia Khusnaya, gue pake jaket itu dan muter-muter di rumah sambil nyebut-nyebut nama itu. Dan di situlah kita akhirnya kenalan.

Sampai saatnya gue dapet amanah buat ngurusin Andalusia, kegiatan Idul Adha JMF. Gue gerilya mencari temen-temen JMF 2015 yang bersedia bantu gue jadi koordinator divisi buat acara ini. Waktu itu, gue punya keinginan buat narik temen-temen gue yang sehari-harinya jarang kelihatan di JMF. Maksudnya buat menggali potensi kader di angkatan gitu. Yaya pun gue tarik jadi koordinator divisi humas berkat saran dari Aul.

Yaya menjadi salah satu koor yang paling gue andalkan selama ngurusin Andalusia. Dia yang ngurusin kontak sana-sini, cari sohibul qurban, fundrising, oprec panitia, dll. Selain menjalankan tugas humasnya dengan sangat baik, doi juga menyumbangkan tenaga dan pikirannya buat acara, sampe hal-hal kecil kayak woro-woro di grup panitia. Oiya, gue inget banget pernah hampir berantem sama dia di sekre karena suatu hal haha.

Habis kelar Andalusia, Yaya pun jadi lebih aktif di JMF sampe dapet amanah di pengurus harian sebagai Kadept Humas. Sejak itu, Yaya gue kenal sebagai salah satu akhwat yang jadi temen baik di JMF. Nogkrong di sekre, partner nitip batagor, sering makan sama jalan bareng nakanak JMF, dan sempet jadi panitia inti bareng lagi di RDF.

Jalan-Makan-Foto pasca RDF

Masa-masa persiapan KKN pun tiba. Singkat cerita, gue sama Yaya sepakat buat jadi tim pengusul bareng di Randangan, Pohuwato, berkat referensi dari Mbak Sekar. Mulailah kita nyari temen tim pengusul lain, konsul sama kating pendahulu, mampus gue ditunjuk jadi kormanit, kontak DPL, oprec anggota, merencanakan program, sambat, sampe berangkat dan selesai KKN.

Yaya gue tunjuk jadi sekretaris, tapi dalam perjalanan berasa dia yang jadi kormanit wkwk. Dia banyak bantu ngurus administrasi (hampir semua dia yang ngurus bahkan), ngingetin ini itu, teman curhat dan sambat, dll. She’s really my partner.


Sekian kronologi pertemanan kita. Sekarang, saatnya masuk ke sesi ghibah.

Bagi gue, Yaya ini orang yang profesional dalam kerja. Meski kadang baperan, tapi dia selalu berusaha melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik. Dia orang yang pintar, teliti, kritis, dan mayan perfeksionis. Kadang lo bakal menemukan momen-momen di saat dia terlihat galak. Meski begitu, Yaya adalah teman yang sangat menyenangkan buat siapa saja.

Anyway, semangat menyelesaikan tugas akhir Yaya! Utang gue buat nulis tentang lo di blog gue lunas ya wkwk. Inget pesan gue buat memperbanyak khusnudzon dalam menghadapi segala masalah. Stay true on yourself, tetap lakukan apa menurut lo bener dan bermanfaat. Oiya, jangan bosen jadi temen gue ya ;)

Wednesday, October 10, 2018

Sheila On 7 - Terima Kasih Bijaksana


Wow, udah lama banget gue ngga nulis di blog ini ya ._. Gue mau sambat nih. Gak penting-penting amat sih sebenernya. Tapi daripada cuma ngendep sendiri, mending gue tulis aja yaps.

Tumblr mana tumblr. Duh biasanya kalo cerita kek gini ini tempatnya di tumblr haha. Sayang udah diblokir ya :’)

Well, cerita di sini juga gapapa. Berkat kegabutan yang sangat, belakangan ini gue jadi suka galau mikirin jodoh gitu deh. Di mana dia, siapa dia, semua masih misteri. Fase yang wajar menurut gue, jadi dinikmatin aja wkkw.

Btw, di tengah-tengah usaha untuk mulai memikirkan nasib skripsi, gue menemukan lagu ini: Sheila On 7 - Terima Kasih Bijaksana. Berdasarkan terjemahan gue yang tidak mendasar, lagu ini seperti bercerita tentang betapa beruntungnya seorang pria karena mendapatkan seorang wanita yang mau memahaminya dan mencintainya, apa adanya. Pria yang liar dengan egonya ini telah roboh oleh pesona sang wanita. Kemudian, ia menuliskan lagu ini. Sweet mampus sih menurut gue.

Here’s the lyrics~

Percaya apapun yang akan terjadi nanti
Kau tetap pesona rahasia di lagu ini
Tak peduli berapakah berat badanmu nanti
Kau tetap yang termuach di hati

Kuakui ku tak hanya hinggap di satu hati
Kutakuti ku terlalu liar tuk dimiliki
Walau begitu semua hanya persinggahan egoku
Dan sikapmu tlah merobohkan aku

Dan waktu pun terus berlari
Dan aku pun semakin mengerti
Apa yang akan kuhadapi
Apa yang akan aku cari

Aku tuliskan lagu sederhana
Untuk dirimu yang sangat bijaksana
Memahamiku dan mencintaiku apa adanya
Apa adanya

Dan waktu pun terus berlari
Dan aku pun semakin mengerti
Apa yang akan kuhadapi
Apa yang akan aku cari

Aku tuliskan lagu sederhana
Untuk dirimu yang sangat bijaksana
Memahamiku dan mencintaiku apa adanya

Aku goreskan lirik sederhana
Untuk dirimu yang sungguh mempesona
Memahamiku dan mencintaiku apa adanya
Apa adanya


Saturday, March 24, 2018

Candu Itu Bernama Kumpul, Sama Kalian.


Tumblr mana Tumblr ._. Awsyit udah diblokir ya. Kalo galau-galau gini biasanya di Tumblr nih -_- Yaudah deh di blog aja gapapa yak wkwk.

Tepat pagi ini, aku membuka obrolan di chatroom Astonic Jogja. Niatnya mau ngajak kumpul. Buat mencuri perhatian, aku sampe harus bohong segala kalo ada hal penting yang mau kuomongin. Padahal mah ya ga ada apa-apa. Cuma pengen kumpul aja. Rasanya, udah lama banget Astonjog kagak ada kumpul-kumpul. Mumpung ada momen menjelang UTS, jadi bisa sekalian doa bareng.

Rencananya aku mau ngajak makan siang gitu, soalnya sore sampe malem aku jadi panitia acaranya Paguyuban KSE UGM di desa mitra dan jadi moderator sosialisasi. Tapi, ternyata anak-anak pada bisanya malah malem. Oke, di titik ini aku berharap temen-temen bisa tetep jadi kumpul meski, meski, (hiks), meski aku yang ngajak sendiri gabisa ikut.

Gara-gara paket dataku habis, sejak habis Ashar aku mulai gabisa buka medsos. Singkat cerita, abis acaranya kelar sekitar jam 10 malem, aku balik ke Fisipol buat ambil sepeda. Memanfaatkan wifi kampus, aku mulai buka Line dan menemukan foto-foto begini di grup Astonjog:


And it feels like :’)


Aku mendadak baper. Tolong. Kenapa ini wkwk.

Jujur sebenernya aku seneng. Seneng banget. Seingetku udah lama Astonjog kagak kumpul sebanyak ini. Apalagi orang-orang yang biasanya jarang nongol, tadi pada ikut kumpul. Alhamdulillah, kumpulnya angkatan SMA di tahun ketiga ini sungguh merupakan sebuah karunia yang luar biasa mahal.

Tapi aku juga sedih, gengs, karena gabisa ikut kumpul bareng kalian :”))

Padahal bagiku, kumpul sama kalian tuh udah kayak kebutuhan. Kayak narkoba, candu. Sial, aku melewatkan satu dosis di saat aku lagi butuh-butuhnya. Makin sakitnya, belum tentu aku bisa dapet kesempatan kayak gini untuk berbulan-bulan ke depan. Tapi, ya mau gimana lagi. Toh aku juga ikut seneng kok liat kalian kumpul tadi :’)

Jadi inget potongan lirik lagunya Alan Walker: “You’re the drug that I’m addicted to, and I want you so bad. But I’ll be fine.”

NB: Btw, maaf aku harus nulis ini. Biar lega wkwk. Bahaya kalo masih ada yang ngeganjel padahal ada paper dan resume buku menanti untuk diselesaikan ._.v


Thursday, March 1, 2018

Minta Maaf Aja Terus

Bismillah...

Setelah posting sebelumnya aku minta maaf gara-gara udah lama ga update blog, maka di posting kali ini aku harus minta maaf lagi ._.v Udah hampir delapan bulan blog ini ngga diupdate, dan aku sendiri malah lebih seneng update di tumblr wkwk.

Posting kali ini ingin menandakan niat kuatku buat kembali ngisi blog ini. Atau paling ngga, posting ini menandakan adanya sedikit perubahan pada blog ini, kayak perubahan tema blog dan perubahan bahasa. Kalo biasanya pake gue-gue-an, maka mulai posting kali ini aku pake aku-kamu biar lebih hehe. Hehe.

Sekian.

Oiya ini ada bonus kata-kata mutiara biar hidup kalian makin semangat ^_^)9

Monday, July 3, 2017

Wonder Woman dan Kebangkitan DC di Jagat Perfilman

Oke, pertama-tama gue minta maaf dengan sangat karena membiarkan blog ini terbengkalai, hampa tanpa tulisan-tulisan baru sejak begitu lama. Mungkin gue nulis beberapa kali, tapi gue sadar itu terlalu sedikit. Hehe. No excuse, gue cuma males nulis-nulis meski sebenernya banyak banget hal menarik yang gue alami semasa kuliah sampai tuntas semester 4 ini. Semoga tulisan tidak penting dan receh ini bisa agak mengisi kehampaan tersebut.

Btw gue udah lama nggak nonton film yang bisa bikin gue sedemikian terkesan. Tulisan ini cuma cerita biasa yang mungkin mengandung sedikit spoiler. Yang belum nonton dan nggak suka di-spoiler-in, gue udah ngingetin ya hehe.

Beberapa hari setelah lebaran, akhirnya gue nonton Wonder Woman berdua sama bapak. Awalnya gue nggak begitu tertarik nonton film yang satu ini, mengingat kicauan-kicauan audiens yang kurang mengenakkan dari beberapa film DC sebelumnya. Gara-gara si bapak ngajakin, akhirnya gue googling dulu dan menemukan bahwa rating Wonder Woman cukup tinggi, dengan lusinan pujian atas film tersebut. Oke, mangkat!


Eh, maaf salah upload gambar. Tadinya mau ngupload gambar ini:


Ternyata, gue bener-bener menikmati film ini. Perpaduan antara keseriusan jalan cerita, humor, dan rasa romantisnya sangat pas. Tidak seperti film-film DC lain yang dikenal super-serius dan kelam, Wonder Woman menurut gue berhasil meramu jalan cerita yang sangat enak buat dinikmati. Selain ceritanya yang memang oke, gue juga seneng banget sama theme song yang digunakan. Ditambah lagi, aktris yang memerankan Diana emang cakep banget. Bikin gue jadi betah nonton film ini dari awal sampe akhir. Hehe.

Tapi gue serius di sini. Salut banget sama Mbak Gal Gadot yang sukses memerankan peran sebagai Wonder Woman, alias Diana Prince, alias Diana of Themyscira daughter of Hippolyta. Mengingat bahwa berperan sebagai Diana dalam film ini tidaklah sederhana. Diana digambarkan sebagai wanita yang sangat tangguh dan pemberani, sekaligus peduli dan penyayang. Diana juga polos-polos blo’on gimana gitu ketika apa yang ia ketahui berbenturan dengan realita dunia perang modern. Berkat terlalu naifnya Mbak Diana, gue sempet meragukan keberadaan Ares sebagai musuh utama dalam film ini, yang ternyata di akhir muncul juga.

Ada satu adegan yang paling gue suka dan lumayan bikin gue tersentuh. Bagian tersebut yakni pas Diana berteriak histeris mengetahui pria kesayangannya, Steve Trevor, tewas dalam ledakan pesawat. Kemudian ada flashback dikit ke adegan ketika Steve berbicara pada Diana sebelum ia naik ke dalam pesawat. He said, “I wish we had more time. I love you,” sambil ngasih jam tangannya (yang sempet dijadiin bahan lawakan di awal film). Aw, so cute af XD

Wonder Woman adalah film keempat dari rangkaian DC Extended Universe (DCEU). Film pertamanya, Man of Steel rilis pada tahun 2013. Tiga tahun kemudian, rilis Batman v Superman yang dinanti-nanti oleh para penggemar DC comic, namun justru tidak banyak mendapatkan apresiasi positif. Suicide Squad sepertinya juga bernasib tidak jauh berbeda. Setelah film-film sebelumnya dianggap kurang berhasil, Wonder Woman berhasil meraih atensi plus pujian yang lebih dari audiens. Sebagai penggemar film fantasi, khususnya film superhero, gue pribadi puas banget nonton film ini.

Kalo boleh cerita, sebenernya sejak kecil gue lebih familiar sama superhero DC kayak Batman, Superman, Green Lantern, Wonder Woman, dan sebagainya. Jika dibandingkan dengan hero Marvel, mungkin gue cuma tau Spiderman sama Hulk doang. Dulu gue nggak tahu sama sekali tokoh Marvel kayak Iron Man, Captain America, Black Widow, dan lainnya. Namun berkat kesuksesan Marvel Cinematic Universe (MCU) di jagat perfilman, gue malah jadi tergila-gila sama superhero Marvel. Meski begitu, gue terus bertanya-tanya, kapan DC bikin yang beginian? 

Pertanyaan gue terjawab dengan hadirnya Batman v Superman: Dawn of Justice. Sayangnya, sebagaimana kita semua tahu, film tersebut dinilai kurang sukses oleh kebanyakan orang. Gue melihat Wonder Woman sebagai titik terang dari semesta perfilman DC comics. Gue nggak sabar nunggu film-film lain yang bakal dikeluarin ke depannya, berharap DCEU bisa lebih keren dari MCU.


Wednesday, May 3, 2017

Kenapa Harus Ikut Aksi?

2 Mei menjadi hari yang bersejarah bagi bangsa ini. Seluruh masyarakat memperingati Hari Pendidikan Nasional, tak terkecuali di lingkungan kampus Universitas Gadjah Mada. Pada 2 Mei 2017 ini, gue ikut bergerak bareng Aliansi Mahasiswa UGM dalam aksi 2 Mei “Mengheningkan Cipta untuk Pendidikan.” Berhubung gue udah lama banget nggak nulis di blog ini, yaudah cerita ini gue post di blog ini aja. Selamat membaca!

Jujur aja, awalnya gue agak kurang peduli sama aksi kali ini. Jangan-jangan, aksi kali ini hanya bertujuan untuk mengulang romantisme aksi 2 Mei tahun lalu. Jangan-jangan, aksi kali ini cuma digerakkan sama segelintir orang aja. Gue juga mikir kalo aksinya bakal sepi-sepi aja karena wacana yang dibangun sangat mepet sekali dengan hari-H. Gue pun nggak banyak mencari tahu tentang gelaran aksi ini.

Tanggal 1 Mei malem, gue diajak buat dateng teklap aksi sama temen gue. Awalnya gue males. Tapi lama-lama gue penasaran juga, bakal kayak apa sih aksi besok? Gue pun langsung gowes ke tempat teklap digelar.

Gue dateng telat, sekitar jam setengah sepuluhan. Ini adalah teklap terakhir sebelum menggelar aksi. Berhubung gue nggak pernah dateng ke konsolidasi dan teklap sebelum-sebelumnya, dan nggak pernah baca kajian atau rilis dari lembaga-lembaga yang mengawal, gue jadi nggak tahu apa-apa. Di sana, gue sedikit tercerdaskan tentang aksi kali ini.

Ternyata, anggapan gue selama ini salah. Salah besar.

Ternyata aksi ini memang digelar untuk memperjuangkan sesuatu, melawan kedzaliman. Gue makin percaya hal itu, karena ada orang-orang baik yang gue kenal hadir di teklap itu. Gue lihat tokoh-tokoh kampus kayak Retas, Alfath, Caca, dan temen-temen gue yang lain kayak Revina, Fawwaz, Tio, dan lain-lain juga hadir di sana. Tidak hanya hadir, namun juga ikut serta menggerakkan. Gue merasa malu, kenapa sebelum ini gue nggak berusaha ikut mengawal isu yang bakal diangkat di 2 Mei ini.

Untuk mengejar ketertinggalan gue, pulang dari teklap (sekitar jam 12-an malem) gue langsung buka OA Line beberapa lembaga yang ikut mengawal aksi ini. Gue nanya-nanya ke beberapa temen gue yang gue kira faham dengan isu yang bakal diangkat dalam aksi ini. Gue juga berusaha untuk menghidupkan wacana aksi ini di grup-grup komunikasi.

Payah banget lah, masa wacana aksi ini sangat sedikit dibicarakan di lingkungan komunikasi. Kayaknya memang cuma segelintir kecil anak komunikasi yang peduli sama aksi ini. Tengah malem gitu, gue langsung ribut di grup-grup, terutama grup PH-Kadiv gue. Mencoba mengajak temen-temen buat sadar meskipun sebenernya udah telat banget. Di samping itu, gue juga nggak bisa maksain juga sih. Orang memiliki haknya untuk peduli atau tidak terhadap sebuah isu. At least I tried..

Besok paginya, gue berangkat ke kampus sekitar jam 7 pagi. Kampus belom terlalu rame, hanya ada beberapa anak yang sejak semalem nginep di Fisipol buat nyiapin banner-banner propaganda. Gue mulai bergabung dengan orang-orang di taman sansiro. Nggak lama kemudian, massa aksi dari fakultas-fakultas lain mulai berdatangan meramaikan taman sansiro Fisipol. Sama kayak tahun lalu, tempat ini jadi titik kumpul massa dari seluruh kluster soshum dan agro.

Sedikit pemanasan, yel-yel dan orasi, massa pun berangkat ke arah rektorat. Di sebelah Perpusat, massa kampus sisi timur bertemu dengan massa aksi dari kampus barat UGM. “Datang dari barat, datang dari timur, mahasiswa!” Aksi tahun ini memang nggak serame tahun lalu. Namun, gue rasa jumlah massa yang ada sudah cukup banyak untuk bisa menekan rektorat.


Sebenernya, gue nggak ikut seluruh rangkaian aksi. Gue bolak-balik kelas-rektorat-kelas-rektorat karena ada tanggungan akademik yang harus diselesaikan. Gue sempet ketinggalan beberapa hal substansial kayak pemaparan kajian dari mahasiswa dan tanggepan dari Prof Iwan sendiri.

Singkat cerita, hari pun menjelang sore. Mahasiswa memberikan ultimatum, apabila sampai pukul 18.00 seluruh dekan dan rektor belum menandatangani tuntutan yang diajukan, mahasiswa akan menduduki rektorat malam ini. Dan begitulah jadinya, ‘Makrab se-UGM Raya’ pun digelar. Say no more, I’m in!


Habis isya, gue cabut dulu ke kontrakan temen gue Ismail buat nggarap tugas psikom. Sekitar jam setengah sebelas malem, kita balik lagi ke rektorat. Di sana, gue langsung gabung sama anak-anak yang lagi ngebahas evaluasi dan bagaimana kelanjutan aksi ini di lapangan rumput balairung.

Gue bisa merasakan betapa syahdunya malam ini. Anak-anak dengan latar belakang pemikiran dan gerakan yang berbeda saling bahu-membahu, melepaskan jubah identitas dan kepentingan mereka, demi memperjuangkan keadilan. Gue hanya bisa takjub melihat mereka, Alfath, Retas, Jalu, Hikari, Syahdan, Josu, Wikan, Badrul, Ainun, dan lainnya yang belum gue kenal. Mereka saling bersintesis untuk menggerakkan aksi ini.


Selesai forum, kami menggelar aksi mengheningkan cipta. Mengheningkan cipta atas perjuangan para pejuang pendidikan. Mengheningkan cipta atas matinya nurani para birokrat kampus. “Ilmu kami adalah ilmu yang memiliki keberpihakan. Ilmu kami adalah ilmu perlawanan!”


Setelah mengheningkan cipta, gue sempet ngobrol dan main kartu sama orang-orang yang baru gue kenal hari itu juga. Anak-anak lainnya ada yang udah tidur, ada yang nyanyi-nyanyi di lapangan, ada yang nggarap opini dan propaganda, ada yang baru dateng, ada juga yang internetan. Kata temenku, internetnya kenceng banget sampe bisa download 300 MB kurang dari semenit!

Nggak lama kemudian, gue pun berangkat tidur di selasar rektorat. Kebetulan, JMF bawa karpet dari sekre jadi tidurnya nggak di ubin banget. Beberapa anak lain juga ada yang tidur di lapangan rumput balairung, ada juga yang masih melek sampai pagi. Subuh pun tiba dan salah satu anak (yang nggak tidur) ngebangunin kita buat sholat subuh. Kita sholat di mushola rektorat lantai dua. Keren ga sih, subuh-subuh gini bisa kelayaban di rektorat.

Sekitar jam enam, gue balik ke kontrakan buat mandi dan lanjut tidur lagi. Hari ini rencananya gue mau ikut seminar anti napza di Fapet. Pas mau berangkat, gue sempet ngechat Kak Retas menanyakan gimana kelanjutan aksi ini. Mengetahui dia lagi nongkrong di kantin Fisipol, gue pun mlipir dulu kesana.

Breakfast ganteng bareng petinggi-petinggi UGM

Setelah sedikit obrolan ringan, gue pun cabut ke Fapet. Dan di sinilah akhir cerita gue tentang aksi 2 Mei. Untuk gimana kelanjutannya, gue juga kurang faham karena gue nggak berada di ring dalam aksi ini. Gue hanya mahasiswa biasa yang bergerak jadi massa aksi, banyak teriak sedikit mikir hehe. Lah terus, kenapa gue harus ikut aksi kayak gini? Mungkin gue bisa jelasin dalam tiga poin singkat:

1. Aksi kali ini bertujuan baik
Jujur saja, sebenernya kadang gue bingung kalo diminta berpihak. Biasanya gue lebih suka ambil jalan tengah, atau berpihak pada ego gue sendiri. Tapi untuk aksi ini, gue yakin bener, bahwa aksi ini memang memperjuangkan kebaikan. Menyuarakan aspirasi mereka yang harusnya disuarakan, menekan kedzaliman. Gue sempet ngobrol dengan salah satu pegawai UGM, “Pejabat emang harus didemo mas. Kalo nggak, suara kita nggak bakal didenger. Tukin saya saja belum dibayar sejak demo tahun lalu.” So, nggak ada kata lagi selain LAWAN!

2. Aksi massa butuh massa aksi
Mengetahui aksi ini memiliki tujuan baik, sudah cukup membuat gue untuk ikut bergerak di sana. Gue sadar betul bahwa aksi ini membutuhkan massa untuk menekan. Dan gue faham betul, sudah banyak kawan-kawan se-antero UGM yang mampu mengorganisasikan aksi ini. Sama kayak tahun lalu, kali ini gue kembali memposisikan diri gue sebagai massa aksi, banyak teriak sedikit mikir hehe.

3. Gue memang menikmatinya
Maaf kalo kesannya egois banget, tapi sebenernya inilah yang menjadi alasan utama gue gabung sama gerakan ini. Gue memang menikmatinya. Jujur saja, gue bukan orang yang mudah tertarik ikut-ikutan aksi kalo nggak ada ‘rasa kedekatan’ dengan gue. Namun di sini, gue tahu betul apa yang diperjuangkan, gue merasa dekat dengan apa yang diperjuangkan. Gue pun menikmati segala gerak dan teriak dalam aksi ini. Rasanya tak jauh beda dengan tahun lalu.


Sekian? Sekian. Mari kita tegangkan!