Friday, May 10, 2019

Bukber Astonjog Uhuy

Yuuhuuu~

Ceritanya, kemaren Astonic Jogja alias Astonjog abis bukber. Sangat gemas kalo mengingat bahwa momen ini terjadi berkat Firda yang pertama usul Astonjog buat bukber sambil masak-masak. Ga banyak fafifu di grup, Selasa diwacanakan, Rabu kita langsung bukber.

Sempet agak pesimis sih apakah bukbernya bakal rame apa nggak. Pasalnya, yang ngerespon dan ngisi list di grup cuma sedikit anak awalnya. Pas menjelang sore, baru temen-temen pada konfirmasi mau dateng.

Singkat cerita, di sore yang dijanjikan.

Gue dan Azzam baru balik dari skripsian di perpus tuh sekitar jam setengah tiga sore. Pas sampe di kontrakan gue, kita langsung kontak-kontakan sama Firda butuh belanja apa aja. Gue sempet panik karena sampe jam segini kok belom ada yg belanja bahan-bahan sama sekali. Lumayan mahal juga kalo harus belanja di supermarket karena kita gaada yang tahu pasar mana yang masih available jam segini.

Untungnya, beberapa detik kemudian Ikbar dateng membawa informasi penting tentang pasar yang masih buka. Gue dan Ikbar pun cus ke pasar kolombo buat belanja bahan-bahan kayak ayam, sayur, buah, dan bumbu-bumbu. Azzam dan Firda juga belanja beberapa keperluan lain ke Mirota. Sementara itu, anak-anak di kontrakan cewe bertugas buat masak nasi. Setelah urusan belanja-belanja selesai, kami mulai mengeksekusi bahan-bahan yang ada. Kupas-kupas, potong-potong, masak-masak!



Temen-temen yang lain pun mulai pada berdatangan, menambah ramai suasana. Semua mengambil “porsi kerjaan” masing-masing. Sebenernya sempet agak panik sesi kedua gara-gara udah sangat mepet maghrib, tapi masakan baru sepertiga jadi. Untung temen-temen di dapur sangat cekatan, sehingga pas kelar sholat maghrib semua makanan udah siap. Ayam mentega, capcay jamur, dan sop buah siap disantap!


Makanannya enak banget. Sumpah beneran enak banget. Tapi, kayaknya ini bukan cuma soal rasa yang dikecap lidah. Mungkin, lebih kepada betapa nyamannya menghabiskan waktu bersama orang-orang yang kau takkan pernah bisa berhenti jatuh cinta kepada mereka.

Gue kehabisan kata-kata buat menggambarkan betapa syahdunya suasana sore itu. Sebuah atmosfer sempurna yang lahir dari perpaduan antara gayeng dan romantis. Sejauh pengalaman gue, cuma kumpul bareng Astonjog yang mampu menciptakan hype kayak gini. Makin bahagianya lagi, boleh jadi ini adalah kumpul ter-lengkap kami setelah sekian lama. 19/25 Astonjog plus 2 Astondung plus Ifa wkwk. Terbaik memang.


Kamu pernah ikut bukber yang acaranya bentar, banyak diem-dieman, dan pesertanya pada sibuk main hape sendiri-sendiri? Sini, kamu perlu coba bukber sama kita ;)

Monday, April 8, 2019

Akhirnya Juara!

Semua berawal dari Vira yang tbtb ngajakin gue ikutan ini lomba. Gue langsung iya aja. Pertama, gue sedang relatif gabut waktu itu. Paling cuma lagi nggarap skripsi sama part time. Kedua, gue pikir gaada salahnya menerima ajakan buat ikut lomba. Mengingat ini udah tahun terakhir kuliah dan mungkin ga banyak kesempatan lagi di depan. So, I’ll take the chance. Gue,Vira, dan Depay pun team-up buat ikutan Komfiest cabang mata lomba PResco di UKWM Surabaya.

Proses ngerjain brief pertamanya cukup menantang. Mengingat Vira masih menjalani magang di Jakarta dan Depay dengan segala kesibukannya di Jogja. Gue sendiri waktu itu lagi masanya bolak-balik Jogja-Kediri untuk urusan skripsi. Alhasil, kita ga pernah ketemuan secara langsung dan lebih banyak diskusi jarak jauh lewat WA.

Qodarullah, kami lolos final. Kami berangkat ke Surabaya dari lokasi masing-masing, Vira dari Jakarta, Depay dari Jogja, dan gue dari Kediri. Kami pun berproses bareng selama lomba, menghadapi berbagai drama, semaleman hampir ga tidur buat nggarap brief 2, presentasi dengan konsep yang gokil abis, dsb dsb. Gue pribadi merasa belajar banyak dari para juri dan peserta lain. Sebuah pengalaman yang sangat berharga bagi gue.

Presentasi lomba public relations
Ekspektasi: pake kemeja formal rapi berjas.
Realita: pake batik dan sarung yang warnanya ramashook blass!

Setelah presentasi, gue harus balik ke Kediri karena ada acara keluarga. Gue pun pamit balik duluan dan gabisa ikutan buat awarding keesokan harinya. Dan, rencana Allah memang sangat indah. Kami juara pertama!

Congrats, fellas!

Alhamdulillah Ya Allah. Akhirnya, setelah 21 tahun hidup tanpa prestasi, sekarang gue bisa nulis sebiji prestasi di CV atau formulir apapun itu. Makasi ya gengs :’)

Wkwk oke abaikan.

Btw, gue mau flashback dikit nih. Gue inget banget, dulu pas masih maba gue pertama kali ikut lomba juga diajak sama Vira, bareng sama Ranisa. Waktu itu kita ikut lomba PR Vaganza-nya Pekom UI. Kami bertiga ngedeadline sampe pagi di Platinum. Sangat nekat. Mengingat kami yang saat itu masih maba dan tidak tahu apa-apa seputar lomba public relations, malah ikutan Pekom yang saingannya sejagat raya. Tentu saja kami ngga lolos final waktu itu.

Setelah dari situ, Vira masih getol ikutan lomba-lomba dan kegiatan-kegiatan komunitas PR di kancah nasional. Doi sampe dapet cemewew dari aktivismenya di dunia PR itu (dan ga pernah cerita ke gue :p). Gue yang lebih suka umek di dalam kampus pun cuma bisa menatapnya yang sering juara-juara lomba di luar sana. Tidak pernah menyangka kalo di saat lomba terakhirnya, di PResco Komfiest ini, doi malah ngajak gue gabung dalam timnya.

Yah, gue cuma mau bilang. Makasih banyak karena udah menyeret gue, Vir! Buat Depay juga yang super rajin dan teliti. Thanks a lot for the opportunity, the teamwork, and the lesson. Gue seneng banget bisa nyicipin gimana rasanya jadi juara, bareng kalian. Maaf juga kalo gue lebih banyak ga bergunanya di tim ini. Wkwk.


Friday, March 22, 2019

Mengukir Aksara, Merawat Makna


Aloha!

Kali ini gue mau nulis random aja sih. Gue cuma pengen selebrasi aja, karena akhirnya blog ini perlahan mulai terisi dengan cerita-cerita baru. Yeeyy!

Meletakkan foto secara random dan tidak nyambung dengan isi konten, bcs y not

Yah. Gue akui, gue memang sempet semi-vakum nulis blog dalam jangka waktu yang lumayan panjang. Padahal selama di IC gue lumayan rajin nulis cerita-cerita, mulai dari yang ga penting sampe yang sangat ga penting. Hampir semua kejadian dan memori bersama teman-teman tertuang di blog ini. Dengan segala keterbatasan akses laptop dan internet waktu itu, gue malah semangat buat terus menelurkan kisah-kisah baru.

Alhasil, banyak banget kenangan yang terekam di blog ini. Sekarang kalo pas lagi suntuk, kadang gue buka blog ini dan baca-baca tulisan lama gue. Banyak banget kenangan sejak MTs sampe IC yang terukir di sini. Suka sampe senyum-senyum sendiri kalo ngebaca ulang postingan lama.

Baru-baru ini gue sadari juga. Ternyata gue sempet memberikan inspirasi bagi temen-temen dan orang-orang di luar sana lewat blog ini. Bahkan mereka yang nggak gue kenal. Blog ini nggak cuma terkenal di kalangan anak MAN ICS, tapi dibaca juga sama adek-adek kelas di MTs 2 Kediri. Bahkan konon blog ini sampai viral di MAN IC Gorontalo.

Sayangnya, sejak kelas XII akhir dan menjelang kuliah, gue mulai males nulis lagi. Masuk kuliah, makin males nulis dah tuh. Sangat miris ketika mengetahui bahwa di tahun 2016 hanya ada satu postingan dan di tahun 2017 hanya dua postingan.

Padahal, selama kuliah ini, banyak banget cerita yang bisa dibagikan. Gue menemukan rumah-rumah baru, berkawan dengan banyak teman yang menyenangkan, mengalami banyak hal yang bikin gue belajar, menapaki perjalanan-perjalanan yang mengesankan, dan banyak lainnya.

Yah, mungkin sekarang nggak semua orang masih baca blog. Orang-orang jelas lebih suka update di Instagram dan mulai meninggalkan blogspot model begini. Tapi gapapa. Tujuan utama gue nulis disini bukan biar dibaca orang dan jadi terkenal. Apalagi nyari duit dari sini. Oke, dulu eksistensi memang jadi tujuan utama gue nulis blog. Tapi sekarang, mungkin tujuan itu sudah sedikit bergeser.

Gue nulis karena gue pengen merawat makna. Gue ingin merekam kenangan-kenangan selama kuliah ini untuk bisa dibaca ulang di kemudian hari. Intinya, lebih kepada menulis untuk diri sendiri. Menulis untuk menulis.

Karena itulah, belakangan ini gue mulai nulis lagi. Perlahan, satu per satu memori coba gue gali lagi. Kemudian coba gue tuangkan dalam kata-kata, aksara demi aksara. Meski nggak semuanya bisa terdeskripsikan dengan sempurna, tapi gue lega banget. Gue puas, karena akhirnya blog ini terisi lagi. Mungkin bisa dibilang ini semacam Raka Bercerita: Reborn.

Wkwk apasi gaje.

Oiya. Gue baru nyadar juga kalo ternyata ada beberapa follower baru di tengah-tengah masa vakum kemaren. Entah apakah di antara kalian ada yang beneran ngebaca atau ngga, but I’m glad to know that you’re here. Oh, dan hai juga, buat semua pembaca yang sempat mampir kemari. Selamat datang di Raka Bercerita!

Saturday, March 9, 2019

Komunikasoleh


Hellaawwww!

Masih dalam suasana nulis tentang JMF, kali ini gue mau ghibahin empat temen gue sekaligus dalam satu posting. Mereka adalah Okky, Mail, Ridho, dan Rama.

Abaikan tiga mbak-mbaknya. Gue cuma mau cerita tentang lima perjaka.

Anw, sebenernya judul posting ini bukan karena kami mendaku diri sebagai anak komunikasi yang paling soleh. Nggak gitu. Menurut gue, manusia tidak berhak menilai kesolehan seseorang, apalagi diri sendiri. Itu adalah haknya Yang Maha Kuasa. “Komunikasoleh” sendiri merujuk pada grup Line yang isinya cuma kami berlima. Begitu adanya, mungkin karena label “JMF” yang dilekatkan pada kami berlima.

Yaps. Kami pertama kali bertemu di Constellation, angkatan 2015-nya Departemen Ilmu Komunikasi UGM. Tapi, kami baru mulai terikat saat mendapati bahwa kami sama-sama sering bercengkrama di musola Fisipol. Setelah sama-sama masuk JMF, kami mulai sering nongkrong di sekre. Di saat kebanyakan temen-temen jurusan lain menghabiskan waktu jeda kuliah di sansiro atau selasar BA, kami otomatis langsung menuju sekre. Mereka pun jadi lingkaran pertemanan pertama gue di kampus. Temen makan, temen jalan, temen duduk di kelas, temen nongkrong di musola atau sekre, sampe temen meracau tentang masa depan.

Oiya. Ada cerita menarik nih. Pada suatu masa saat masih maba, kami pernah jalan-jalan naik sepeda bareng ke ke daerah Sendowo. Gue nggak inget pasti, waktu itu kami lengkap berlima apa nggak. Sambil bersepeda, kami meracau tentang mimpi-mimpi kami. Tentang akan jadi apa kami setahun atau dua tahun ke depan di kampus.

“Ntar kayaknya kamu yang bakal jadi mas’ul JMF.”

“Gue jadi pimpinan Dema deh.”

“Udah, kamu mas’ul di JS aja. Ntar kita hajar pas musyak.”

“Yang di Komako siapa dong?”

“Liat aja, nanti aku bakal jadi presma!”

Gue nggak inget pasti siapa berkata apa. Namun, kurang lebih seperti itulah ungkapan-ungkapan polos yang terlontarkan. Kami masih maba saat itu. Siapa yang menyangka bahwa setahun, dua tahun, tiga tahun setelahnya, kami benar-benar berada di sana. Minimal sangat dekat lah dengan posisi-posisi itu.

Time goes fly. Nggak nyangka aja kalo masa-masa masih selalu barengan kemana pun itu udah berlalu lama sekali. Masuk semester tiga, kami berpencar ke empat peminatan yang berbeda. Gue dan Mail di public relations, Okky di advertising, Ridho di journalism, dan Rama di entertainment. Seiringan dengan itu, kami juga mulai berpencar ke wadah gerak masing-masing.

Ada yang berkarir di Komako, ada yang jadi mas’ul dan kadept di JMF, terus pimpinan Dema, kadept di JS, MWA-UM (yang ini ga nyangka banget sih wkwk). Tanpa janjian, tiga dari kami jadi kormanit KKN di daerah yang berbeda. Bahkan sampe tahun akhir kayak gini aja masih ada yang jadi Menko BEM KM. Ga cuma di kampus, ternyata mereka berempat pada aktif juga di luar. Entah itu organisasi mahasiswa ekstra, komunitas skala nasional, gerakan sosial kemasyarakatan, lomba-lomba, dll dll. Gue? Kalo gue sih sibuk nyantai di kontrakan wkwk.

Meski dengan kelas dan kesibukan yang berbeda-beda, kami masih sering bersua. Mau bagaimana lagi. Kami bertemu di rasi bintang yang sama, dibesarkan di rumah yang sama pula. Meski berkarya dan bersinar di belantara yang berbeda-beda, hakikatnya kami masih anak komunikasi JMF. Namun, di tahun akhir kuliah begini, mulai kerasa kalo kesibukan masing-masing membuat kami jadi lebih jarang bertegur sapa.

Yah, mungkin semua memang ada masanya.

Well.

Walaupun kami satu squad, tapi gue punya kesan unik lho buat masing-masing dari mereka. Nih, gue ceritain satu-satu ya.

1. Okky


Okky Tria Kurniadi. Anak pesisir Tulungagung ini emang udah dangdut dari sononya. Hafal lagu-lagu dangdut sejak jaman Sagita Asolole sampe Nella Kharisma (termasuk dangdut banyuwangian dan campursari). Piawai bermain kendang. Kalo naik motor ngebutnya Naudzubillah. Dibalik sikap cueknya, sebenernya dia peduli dan agak baper (hehe peace). Suka ngereceh, tapi seringkali terlalu garing sampe gue sendiri bingung mau ngerespon apa. Dia masuk komunikasi dan mengambil peminatan advertising.

Kalo diinget-inget, Okky adalah temen terdekat pertama gue di bangku perkuliahan. Mungkin karena sama-sama dari Jawa Timur, jadi gue paling gampang konek sama doi. Saat diberi amanah buat pegang Andalusia, gue langsung nge-tag ini anak buat jadi partner gue. Dia nemenin gue survei pas awal-awal, nyusun konsep awal, cari-cari tim inti, sampe jadi jenderal perkap dan akotrans.


Okky juga sangat gayeng di kultural JMF. Demi mewadahi aspirasi dan keresahan yang ia rasakan, JMF sampe pernah bikin forum berkeluh kesah antar dua angkatan (2015 dan 2014) di mushola lama. Hingga di kemudian hari, Okky terpilih menjadi Mas’ul JMF. Cie.

Mari kita bahas dia aktif di mana aja (setahu gue ya). Tahun pertama aktif di JMF divisi IMF dan staff BEM KM. Tahun kedua jadi Mas’ul JMF, ketua semacam paguyuban alumni PPB (Pelatihan Pemimpin Bangsa), ketua panitia PPB #11, dll (mampus sibuk banget wkwk). Selanjutnya dia aktif di suatu gerakan sosial yang entah gue kurang faham, plus kormanit KKN di Bengkulu. Sekarang, dia masih aja sibuk jadi Menteri Koordinator (Menko) BEM KM Bidang Kemasyarakatan. Dan mungkin ada beberapa lainnya yang terlewat. Wow, berderet-deret!

Bisa dilihat bahwa dari semua organisasi dan kesibukannya yang sangat bejibun itu, nyaris gaada yang beririsan sama gue. Kecuali JMF mungkin. Teman terdekat pertama, sekaligus yang pertama juga mengambil persimpangan jalan berbeda. Biarpun begitu, kami masih rajin berdangdut ria setiap kali ada kesempatan. Ky, jangan lupa lulus ya! Wkwk.

2. Mail


Ismail Yusuf. Lulusan SMK Pelayaran dari Purworejo. Anak ini sempat viral karena semboyannya “kuy mangkat” dan “santay kayak di pantay”. Dia emang anak salah satu anak paling easy going yang gue kenal. Pejabat dan terkenal seantero kampus. Gara-gara dia, gue jadi bisa main gitar dan naik motor kopling. Sebenernya, dia merasa kesasar masuk jurusan komunikasi. Dia semakin kesasar lagi karena masuk ke peminatan public relations bareng gue.

Gara-gara satu peminatan, gue jadi deket banget sama mail dari semester tiga sampe semester lima. Bareng Rara, kita bertiga hampir selalu barengan dalam banyak tugas kelompok di matkul PR. Gue ngerasa cocok aja sekelompok sama mereka. Mungkin karena frekuensi di otak kita sama: kesibukan di luar lebih penting daripada akademik, menjadikan kami bisa saling memaklumi saat ada deadline tugas kelompok wkwk.

Menge-squad bcs sekelompok mulu di kelas.

Di masa-masa itu, gue jadi sering banget nginep di kontrakan Mail, dan dia juga sering nginep di kontrakan gue. Kemana-mana gue juga hampir selalu nebeng dia. Oiya, kami punya suatu hobi “oportunis” yang sama. Kami rajin berburu acara-acara seminar atau workshop yang gratis dan ada makan siangnya. Prasmanan adalah terget utama kami saat itu.

Tapi, di luar kelas, derajat gue beda jauh lah sama dia. Udah aktif di BEM KM dan Dema Fisipol sejak tahun pertama. Terus, belum selesai amanah jadi kadept di JMF, dia udah melompat jadi pejabat kampus sebagai MWA-UM. Mail emang terkenal di lingkup universitas. Saking terkenalnya, tiap gue jalan bareng dia, selalu aja ada yang nyapa, “Mas Mail.” Membuat gue ngerasa jadi remahan cheetos.

Terakhir gue banyak berurusan sama doi itu pas ngurus Kelas Harmoni, sebuah kegiatan sosial yang mempertemukan mahasiswa dengan difabel. Kegiatan ini di bawah naungan SP2KM. Saat itu dia jadi ketua panitia dan gue jadi koor perkap. Berkat acara ini, gue dan Mail jadi pernah bermalam di parkiran wisdom park UGM buat jagain barang-barang kayak panggung, sound system, tenda, dll.


Setelah tiga semester penuh Mail entah di kelas maupun di luar kelas, kami pun mulai mengambil persimpangan jalan dengan arah yang berbeda. Sibuk dengan KKN masing-masing, dia jadi kormanit di Lampung, gue di Gorontalo. Meski intensitas ketemu udah berkurang, tapi kita masih tetep gayeng kok. Pas gue sempro kemaren, Mail sama Rara malah dateng tanpa gue suruh, bawain biskuit-biskuit lucu gitu :’)

3. Ridho


Mochamad Ridha. Berasal dari suatu daerah di Padang yang konon katanya sangat syahdu dengan padang rumput, danau, senja, dan sayup-sayup adzan suraunya yang khas. Orangnya selalu ngegas, pokoknya nggak sah jadi Ridho kalo nggak ngegas. Berpikiran terbuka, tapi awas dia agak licik (wkwk). Sedang terobsesi dengan pola hidup sehat setelah menyadari dia menggendut secara tidak wajar jika dibandingkan dengan awal kuliah dulu. Fyi, dia ngefans Blackpink. Di komunikasi ngambil peminatan Jurnalisme.

Dia adalah salah satu orang yang paling bertanggung jawab atas majunya gue di pemilihan Ketua Komako (Korps Mahasiswa Komunikasi). Oleh karenanya, gue seretlah dia jadi kadiv Litbang di kabinet gue. Sehingga dia harus berpisah dengan mimpinya buat jadi Mas’ul JMF (haha mampus). Kami pun melangkah bersama para pengurus harian dan staff Komako lain untuk mewujudkan Komako yang representatif, memfasilitasi minat keilmuan dan kreatif, serta nyaman untuk semua. Ridho banyak banget bantuin gue di Komako, bikin gebrakan-gebrakan, hingga membawa divisinya jadi divisi terbaik versi grand closing kabinet.

Kabinet Langkah Bersama Komako 2017

Selain di Komako, gue dan Ridho juga menjadi saksi hidup dari pasang surutnya Sintesa, lembaga pers mahasiswa fakultas. Kami juga masih sama-sama rajin ngerecokin JMF kabinetnya Okky. Bedanya, dia juga aktif di BEM dan Dema, kayak Mail. Tahun selanjutnya, dia jadi Pimpinan Dema (Dewan Mahasiswa) Fisipol dari komunikasi. Dan segala kesibukan lainnya yang kebanyakan gue nggak faham wkwk. Sekarang, katanya doi lagi meraba-raba dan mempersiapkan kehidupan pasca-kampusnya.

Masih kurus.

Entah mengapa, di antara tiga anak lainnya, gue ngerasa jadi paling deket sama dia di tahun terakhir ini. Dia jadi sering main ke kontrakan numpang main game online. Kadang sarapan atau olahraga bareng. Teman sambat masalah skripsi, masa depan, asmara (ups), dan gejolak masa muda lainnya. Kebetulan, gue dan dia juga magang di suatu start-up yang sama.

4. Rama


Rama Shidqi Pratama. Anak Sleman asli. Anaknya ceroboh dan suka halu. Meski begitu, dia cerdas dan wawasannya bisa dibilang sangat luas. Di antara kami berlima, dialah yang paling jago masalah desain, fotografi, dan urusan multimedia lainnya. Anak-anak jurusan lain sering salah manggil gue Rama entah mengapa. Di komunikasi, dia ambil peminatan media entertainment.

Sejujurnya gue nggak terlalu inget apakah punya pengalaman personal yang mendalam sama doi. Pas tahun pertama kami satu departemen di JMF, bareng Mail juga. Terus, yang paling berkesan adalah saat kami sama-sama jadi pengurus inti RDF di tahun berikutnya. Agak sweet ketika tiba-tiba dia ngasih surat elektronik buat para pengurus inti RDF yang intinya berisi ucapan berterima kasih. Oiya, dulu Rama punya peran penting sebagai tim kreatif dalam timses gue pas maju Komako.

Rama sempat menggantikan Mail sebagai kadept di JMF. Lalu, karirnya melejit ke tingkat univ setelah ia purna dari amanahnya tersebut. Masih di dunia dakwah kampus, Rama jadi kadept media center Jamaah Salahuddin (JS). Mungkin berkat Rama, akun medsos JS jadi lebih (sok) asik sekarang wkwk. Entah apa kesibukannya kini, sampe sekarang doi masih rajin nge-share postingan medsos JS di grup.

Udah? Yaudah gitu aja.

Friday, February 22, 2019

JMF: A Wrap

Kemaren sore, gue abis dateng ke launching kabinet Jamaah Muslim Fisipol (JMF). Yang di-launching kali ini adalah kepengurusan 1440 H, kabinet “Belimbing Madu”, yang dimotori oleh angkatan 2017. Kalo diitung-itung, ini adalah launching kabinet JMF keempat yang gue datengin. Mulai dari Langit Biru, Embun Pagi, Nastar Keju, sampe Belimbing Madu yang sekarang. Wkwk ketauan banget kalo udah mahasiswa tua yak ._.

Maap ya ini angkatan tua malah ngerusuh di acara orang wkwk

Btw, gue jadi pengen cerita dikit tentang JMF nih.

Kalo kalian pernah mendengar suatu organisasi kampus yang menyebut diri mereka rumah, maka JMF adalah definisi rumah yang sebenar-benarnya bagi gue. Oke, setiap orang bisa berbeda pendapat dalam memandang hal ini. Masing-masing pegiat kampus pasti punya definisi yang berbeda-beda dalam memandang wadah gerak mereka.

Namun, gue ngerasain banget betapa JMF adalah rumah tempat kembali. Setiap gue lagi suntuk dengan akademik atau hiruk pikuk kampus lainnya, JMF jadi tujuan pertama gue buat melepas penat. Sekadar ketemu dan bercengkrama sama anak-anak di sekre, itu lebih dari cukup untuk membawa energi gue kembali. Pernyataan “JMF adalah rumah” sama sekali bukan bullsh*t buat gue.

Masih maba ._.

Ini lucu, apalagi kalo mengingat dulu pas gue baru banget masuk kuliah. Dulu, gue gak pernah ada kepikiran buat gabung lembaga dakwah, kerohanian islam, atau semacamnya. Apalagi semasa di IC dulu, gue merupakan salah satu orang yang paling getol “memusuhi” OSIS divisi keasramaan, khususnya Imtaq (not personally, cuma buat seru-seruan aja wkwk). Meski begitu, gue paling doyan ikut sibuk di salah satu hajatan terbesar mereka, yakni gelaran Idul Adha.

Nah, menjelang Idul Adha pertama di jenjang kuliah, gue nanya ke kakak kelas gue apakah di kampus ada yang ngadain kegiatan Idul Adha apa nggak. Terus, dia nyaranin gue buat join jadi volunteer Andalusia 1436 H. Waktu itu, Andalusia diadakan di Batur Kidul, suatu daerah yang super dingin dan susah air di kaki Gunung Merbabu. Selama Andalusia, gue terkesan banget. Gue kenalan sama orang-orang dan kultur baru yang sangat menyenangkan. Ini menjadi awal interaksi gue sama JMF.

Besok-besoknya, gue gak pikir panjang lagi pas ada info oprec JMF, langsung cus daftar. Alesannya sederhana. Selain karena udah pernah ikut kegiatan mereka dan merasa terkesan, gue juga pengen mencari lingkungan yang baik buat ngejaga iman gue #aseq. Gue bergabung dengan Departemen Media dan Opini (MO). Gue ikut serta jadi panitia di beberapa kegiatan, kayak temu alumni, Ramadhan di Fisipol (RDF), seminar, diskusi dan kajian, dll. Selain bergerak secara struktural sebagai staff, gue juga menikmati dinamika kulturalnya. Gue sering ikut ngerumpi di serambi musola, makan bareng, nongkrong bahkan sampe nginep di sekre, jalan-jalan, dll.

Oiya, ngomongin alur kaderisasi, JMF punya Latihan Kepemimpinan alias LK. LK ini ada beberapa tingkatannya, mulai dari LK1, LK2, sampe LK3. LK menjadi salah satu agenda rutin JMF yang paling gue suka. Agendanya mirip sama makrab, kita bermalam di tempat yang agak jauh dari kampus, ada sesi materinya, tapi gak lupa ada sesi main-mainnya. Outbound menjadi salah satu agenda yang paling gue tunggu setiap kali LK. Pokoknya, LK selalu berhasil me-refresh ukhwah antar anggota JMF. Alhamdulillah, gue khatam tanpa absen ikut ketiga LK sebagai peserta.

LK3 ini yang paling seru sepanjang sejarah gue ikutan LK

Sejalan dengan itu, perlahan gue juga mulai berkenalan dengan konsep angkatan. Berawal dari project pertama angkatan kami, yakni Forum Keluarga (Forga) 2015. Terus, gatau gimana ceritanya, gue ditumbalkan jadi ketua angkatan 2015 sama temen-temen. Dari situ, gue semakin mengenal angkatan gue sendiri. Gue berusaha buat bisa menjangkau tiap-tiap individu di angkatan secara personal, sambil berusaha bareng-bareng mengikat persaudaraan di antara kami. Di penghujung tahun, angkatan gue dikasih amanah buat pegang tiga project besar, yakni Salimpol, LK1, dan Andalusia (gue pernah ceritain kisah lengkap Andalusia, klik di sini).

Waktu terus berjalan. Tahun pertama pun berlalu dengan segala dinamikanya. Ada anak angkatan yang ilang-ilangan, ada yang lebih aktif di luar, ada juga yang sebelumnya kurang aktif terus jadi aktif banget. Kita sempet ada ‘slek’ juga sama angkatan atas, padahal di sisi lain kita harus mulai berbaur sama angkatan bawah. Sejalan dengan itu, gue dan beberapa temen pun mulai mewacanakan siapa the next mas’ul dari angkatan kami, sampe siapa bakal jadi kepala departemen apa.

Hingga tiba saatnya angkatan gue harus siap untuk menerima estafet kepemimpinan selanjutnya. Qodarullah, di titik yang genting ini, gue justru berpindah haluan. Gue yang udah ancang-ancang buat menerima salah satu peran di pengurus harian (PH), malah banting setir ke himpunan. Well, ga masalah karena waktu itu gue juga udah menimbang-nimbang urgensinya. Yang lucu sekaligus nyesek, gue malah dapet chat kayak gini dong dari salah satu anak angkatan gue :’)


Jajaran Kabinet Embun Pagi pun menerima amanah sebagai roda penggerak utama kepengurusan JMF 1438 H. Meski gue nggak aktif lagi sebagai pengurus di JMF, gue masih sangat cair dengan kegiatan-kegiatan kulturalnya. Gue masih sering ikut ngerumpi di serambi musola, makan bareng, nongkrong bahkan sampe nginep di sekre, jalan-jalan, dll. Gue juga kadang ikut bantuin ngerusuh di sesi outbound LK. Dan gue sangat berterima kasih sama Embun Pagi, khususnya para steering committee RDF, yang ngasih gue kesempatan buat sibuk sebagai koor perkap di RDF 1438 H. Benar-benar suatu kehormatan bisa ikut berkontribusi lagi dalam salah satu hajatan besar di rumah sendiri.

Grand Closing RDF 1438 H yang pecah banget!

Waktu terus berjalan, hingga tiba waktunya estafet kepemimpinan diserahkan kepada penerus selanjutnya. Gue lengser di himpunan, Embun Pagi juga lengser di JMF. Kebanyakan dari angkatan gue mulai sibuk masing-masing dengang urusan selanjutnya. Ada yang melanjutkan berkarya di jenjang fakultas bahkan univ, ada yang aktif di luar kampus, dll. Gue sendiri mulai ngurusin KKN waktu itu.

Namun, itu bukan berarti akhir dari ukhwah di antara kita. Nyatanya, kita masih beberapa kali menyempatkan buat kumpul bercengkrama, menghadiri acara-acara JMF, ngerusuh di LK, jalan-jalan bareng, makan bareng, dll. Gue juga seneng banget karena kita masih sering nyempetin buat foto bareng tiap ada kesempatan, entah momen sekecil apapun. Bagi gue, ukhwah di antara kita masih sangat kental terasa.

Hingga sampailah pada masa sekarang, gue dan temen-temen seperjuangan sedang berada di penghujung masa kuliah. Semuanya mulai sibuk dengan skripsi masing-masing. Intensitas ketemu di kampus pun semakin berkurang. Dulu kan kalo ketemu mungkin biasa aja gitu ya. Sekarang, setiap kali ga sengaja di papasan di kampus, senengnya bukan main. Gue nggak nyangka aja kalo ternyata waktu berjalan secepat ini.

Hiks.

Tisu mana tisu.

Sekalian gue mau ngucapin makasih yang sedalam-dalamnya buat JMF, baik angkatan 2015 maupun yang lainnya. Makasih banyak karena udah menjadi tempat pulang yang paling nyaman sekaligus menyenangkan. Makasih banyak karena udah menjadi salah satu bagian penting yang mewarnai kehidupan kuliah gue. Makasih juga karena udah mau nampung gue yang sangat gaje ini bersama kalian. Gue nggak ngerti gue bakal jadi kayak apa sekarang kalo tanpa kalian guys. Thanks for being this meaningful for me :’)

Tisu lagi tolong :”)

Oke, balik lagi soal launching kemaren sore. Gue bangga banget sama angkatan 2017 yang sekarang sedang memulai langkah mereka untuk berkarya sebagai roda penggerak utama kepengurusan JMF 1440 H. Setiap kali ngelihat angkatan mereka, gue selalu merasa kayak ngelihat cermin. Entah mengapa, gue ngerasa kalo angkatan mereka tuh mirip banget sama angkatan gue 2015. Sama beragamnya, sama ramenya, sama kompaknya, sama baperannya juga (wkwk), dan sama-sama punya kader terbaik yang siap mengabdi untuk mengurus rumah tangganya, pun juga untuk terjun berkarya di luar. Bedanya, gue yakin kalo mereka jauh lebih baik dan lebih siap menghadapi tantangan zaman maupun tantangan lingkungan Fisipol.

Well, selamat berkarya, generasi penerus! Semoga Allah senantiasa menguatkan pundak kalian sampai tuntas masa kepengurusan nanti. So proud!

.
.
.
.
.
.
.

BONUS FOTO!!!

Ada yang bilang kalo JMF itu singkatan dari Jalan-jalan Makan-Makan Foto-Foto. Yah, memang itulah kerjaan kami sehari-hari wkwk. Gue mau share beberapa foto JMF yang gue punya nih. Sebenernya masih banyak momen-momen yang lain, tapi udah banyak foto yang ilang huhu :"

Ini acara makan-makan perdana angkatan 2015, masih pada culun gitu mukanya 

Berawal dari gue, Mail, dan Rara yang kelasnya mendadak kosong, kami pun menyeret anak-anak gabut di sekre buat main ke Museum Dirgantara 

Salah satu acara kemping chapter pantai ala JMF

Sunrise bareng untuk merayakan suksesnya RDF 1438 H

Awalnya niat mau jalan-jalan ke (m)Batu khusus JMF cabang Jatim, eh malah jadi jalan-jalan ICS feat. M3M wkwk 

Kumpul-kumpul angkatan 2015 bertajuk FOSIL IKAN (FORum SILaturahmi sambIl maKAN) 

Numpang foto di wisudaan orang, berharap biar bisa segera nyusul wisuda juga

Kalo numpang foto di nikahan orang, berharap biar bisa apa hayo


Thursday, January 24, 2019

Motor Firda dan Pantai Pertama Astonjog

Gue bakal memulai tulisan kali ini dengan cerita yang amat sangat gak penting. Ini semua tentang motor Firda yang udah gue bawa selama hampir tiga minggu belakangan ini. Lho, bagaimana bisa?


Ceritanya bermula sejak sebelum libur semester. Firda kan berangkat KKN sejak Desember kemaren sampe Februari besok. Di samping itu, liburan ini gue pengen lebih banyak menghabiskan waktu di Jogja karena beberapa hal. Nah, pas banget kan. Gue melihat peluang buat pinjem motor Firda demi nasib akomodasi yang lebih bermartabat selama menghabiskan masa libur di Jogja. Gue pun izin pinjem motor Firda sebelum doi berangkat KKN.

Ternyata, motornya udah ditag duluan sama Oom. Terjadilah sebuah negosiasi yang sengit dan berdarah-darah antara gue, Firda, dan Oom (lebay ah wkwk). Singkat cerita, gue sama Oom sepakat buat gantian bawa motor Firda. Oom yang bawa motornya duluan, terus motor itu ditransfer ke gue selama Oom pulkam.

Momen tercapainya resolusi setelah negosiasi sengit antara pihak gue, Firda, dan Oom. Azzam sebagai notulen.

Kenapa cuma urusan pinjam-meminjam motor Firda aja sampe gue ceritain di sini? Itu semua karena motor Firda bukanlah motor sembarangan buat gue.

Gue kuliah nggak dibawain motor. Sebagai mahasiswa tunakendaraanbermotor, gue biasanya nebeng atau pinjem motor temen kalo mau menempuh perjalanan jauh. Gue udah pernah pinjem berbagai macam motor dari berbagai jenis temen yang gue punya di Jogja. Tapi, di antara semua motor yang pernah gue pinjem dan tebengin, motor matic hitam berplat B milik Firda adalah yang paling spesial buat gue.

Interaksi pertama gue sama motor Firda, sekaligus momen paling berkesan gue sama itu motor, adalah ketika pertama kali Astonic Jogja (Astonjog) main ke pantai. Peristiwa ini udah terjadi lebih dari tiga tahun yang lalu. Waktu itu, kami masih baru semester pertama kuliah. Gue dan beberapa anak Astonjog meresahkan suatu hal. Masa udah beberapa bulan di Jogja, tapi belom pernah main ke destinasi wisata yang jauh. Akhirnya, kami berwacana buat main ke pantai bareng.

Suatu hari di pertengahan November 2015, kami bertekad untuk merealisasikan wacana tersebut. Tujuan kami adalah kawasan wisata pantai di Gunung Kidul. Squad yang berangkat kali ini ada gue, Ikbar, Kukun, Mufid, Firda, Cahya, Uun, dan Farida. Jujur aja, waktu itu gue bener-bener excited karena ini adalah pengalaman pertama gue motoran jauh ke arah pantai. Dan gue kebagian bawa motor Firda, sebuah motor matic hitam berplat B.

Kami pun berangkat. Kukun sebagai pemimpin rombongan jalan paling depan, sedangkan gue paling belakang. Kami sempat mampir ke masjid buat sholat Dhuhur. Setelah menempuh sekitar 2 jam perjalanan, kami pun sampai di Pantai Kukup. Selain kami, ada beberapa pengunjung lain yang juga sedang main di sana. Tapi tidak terlalu ramai karena bukan sedang musim liburan.


Setelah menemukan sebuah gubuk yang pw buat berteduh dan naruh barang, para cowok langsung berhamburan ke laut. Kami jelas tidak bisa menahan hasrat untuk basah-basahan mengingat ini adalah trip pertama kami ke pantai Gunung Kidul. Bodo amat yang akhwat kita tinggalin di gubuk.

Karena brutalnya hasrat para cowok untuk menjelajah, kami berjalan menyusuri bibir pantai ke arah barat, melalui tebing dan karang-karang. Lalu, kami menemukan sebuah pantai kecil yang amat sangat sepi. Rasanya seperti pantai privat karena di sana benar-benar gaada orang selain gue, Ikbar, Kukun, dan Mufid. Pemandangannya juga lebih oke. Kami pun bermain dengan sangat bebas di sana.


Ya Allah, waktu itu kayak bahagia banget ya :')

Gue sampai lupa kalo ada para akhwat dalam rombongan ini. Sampai sebuah insiden bodoh terjadi.

Para akhwat ternyata menyusul kami ke kawasan ini. Mereka berjalan melalui tebing dan karang sambil menenteng tas milik rombongan. Mereka teriak-teriak karena kebasahan kena ombak. Kami para cowok, yang pekanya agak telat, menghampiri mereka untuk misi penyelamatan.

Setelah insiden yang memacu adrenalin tadi, kami pun cekikian, menertawakan kebodohan demi kebodohan. Bagaimana tiba-tiba ombak besar menyapu bibir pantai di saat para akhwat sedang berusaha menyusul kami ke kawasan pantai ini. Di tengah insiden tadi, ada cerita kocak tentang Uun yang lebih mementingkan menyelamatkan pop mie daripada tas yang ia bawa. Alhasil, beberapa tas yang tidak beruntung jadi basah kena ombak.


Tapi yang jelas, sekarang semuanya udah kepalang basah. Kami pun lanjut menikmati pantai, menari bersama ombak dan merasakan lembutnya pasir. Kami sempat mendaki bukit karang untuk berjemur, mengingat hampir semua anak gaada yang bawa baju salin. Setelah baju-baju kami agak kering, kami pun berjalan ke arah parkiran dan mampir mushola untuk sholat Ashar. Sore sudah menjelang, waktunya pulang.


Perjalanan pulang, gue masih bersama motor matic hitam berplat B. Perjalanan kali ini menjadi sedikit lebih menantang mengingat langit mulai beranjak gelap. Tentu saja kami sempat mampir ke masjid untuk sholat Maghrib. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan lagi.

Perjalanan makin menantang lagi karena hari benar-benar sudah gelap. Belom lagi ada sedikit rasa ngantuk karena terpapar semilir angin jalanan, plus kelelahan setelah tadi di pantai. Dengan kondisi kayak gitu, kami masih harus melewati jalanan berkelok naik turun ala Gunung Kidul. Kalo sekarang sih, mungkin gue udah biasa ya sama kondisi kayak gitu. Tapi, dulu itu adalah pengalaman pertama bagi gue, dan mungkin yang lainnya. Waktu itu, gue bertahan dari rasa kantuk dengan terus melanjutkan ghibah bersama penumpang gue.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba Kukun belok ke masjid. Kami mengikuti langkah sang ketua rombongan. Dengan bijaknya, Kukun berkata, “Cuy, gue ngantuk banget.”

Tentu saja itu mewakili persaan sebagian besar dari kami. Kami pun istirahat sekalian sholat Isya. Setelah sholat, istirahat, dan stretching, kami pun melanjutkan perjalanan pulang. Alhamdulillah, kami semua selamat sampe kosan masing-masing.

Perjalanan tersebut bukanlah kali terakhir gue berinteraksi sama motor Firda. Dalam beberapa kesempatan, gue juga pernah pinjem motor Firda lagi. Sama seperti sesi ghibah dan curhat gue dengan si penumpang, yang masih berlanjut hingga sekarang. Ya ga ;)

Friday, January 18, 2019

Pantai Tolong


Di tengah-tengah kebingungan gimana buat mulai ngerjain proposal, gue malah mlipir nostalgia ke album foto jalan-jalan di grup Astonjog.

Gue jadi tersadar, selama ini gue nggak pernah cerita tentang main bareng Astonic Jogja (Astonjog). Padahal, kalo urusan main, gue paling sering jalan bareng sama mereka. Terus, kalau boleh klaim sepihak, Astonjog sempat menjadi region yang paling sering jalan-jalan (mungkin sampe sekarang masih wkwk). Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya album jalan-jalan di grup. Itu belum termasuk sekian kali kumpul-kumpul atau makan-makan yang tidak terdokumentasikan. Ditambah dengan seringnya anak-anak Astonic region lain yang mampir atau sengaja main ke Jogja. Well, Jogja memang istimewa.

Dari sekian kali jalan-jalan, pantai menjadi salah satu destinasi yang lumayan sering kita kunjungin. Pas masanya sering jalan dulu, dalam satu semester kita bisa main ke pantai sampe dua atau tiga kali. Dan, dari sekian kali main ke pantai, ada satu perjalanan yang menurut gue paling berkesan. Perjalanan yang penuh dengan kebodohan, tapi berbuah kenangan yang sangat manis.

Waktu itu awal Agustus 2016. Kalo ga salah, pas awal masuk kuliah semester tiga. Kita berinisiasi untuk jalan-jalan di awal semester ini. Keinginan tersebut memang terkesan agak kurang terencana. Yang penting hari itu kita harus berangkat, kemana pun. Ada para akhwat, gue, Kukun, dan Azzam. Setelah berdebat panjang di kontrakan akhwat, kita pun memutuskan buat jalan ke air terjun Sri Gethuk di daerah Gunung Kidul.

Kita berangkat sangat telat dari rencana awal. Sebenernya, rencana awal kita berangkat agak pagi, sekitar jam 9 atau 10 pagi. Kenyataannya, kita berangkat setelah dhuhur. Itu pun habis dhuhur kita ga langsung berangkat, masih nunggu-nungguan. Hikmah dari keterlambatan ini adalah bergabungnya Mufid ke dalam geng. Akhirnya, kita berangkat sekitar hampir jam 2 siang. Gue kebagian bawa motor dan ngebonceng Tia.

Di saat sudah dekat dengan destinasi, gue melihat papan petunjuk arah menuju Sri Gethuk. Di situ, tertulis juga jam bukanya mulai jam 8 pagi sampai jam 4 sore. Gue mbatin, ini bukannya udah sore banget ya. Gue bisik-bisik ke Tia, nanya jam. Ternyata udah jam setengah 4 lewat. Wah, bakal bentar banget dong kita di sana. Di tengah keresahan kita berdua, Kukun sebagai pemimpin rombongan di depan pun berhenti.

“Eh, tadi aku lihat plang. Katanya Sri Gethuk tutup jam 4,” kata dia.

Ternyata keresahan yang sama. Kita sempet berunding di pinggir jalan, jadi mau lanjut apa nggak. Sebenernya Sri Gethuk tinggal sepelempar batu lagi, amat sangat dekat. Kita bisa saja sampe ke sana sebelum jam 4. Tapi, tinggal menghitung menit destinasi wisata itu bakal tutup.

Di tengah rundingan, muncul suatu kebodohan yang menjadi awal dari plot twist acara jalan-jalan kali ini.

“Gimana kalo kita ke pantai aja,” sebuah celetukan samar terdengar.
“Gengs, Alma usul. Gimana kalo kita ke pantai aja,” Firda dengan kejamnya mengulang, memperjelas.

Kita semua ketawa. Menganggap itu cuma becanda.

“Tapi pantai kan masih mayan jauh,” ada yang menanggapi, seperti menganggap celetukan itu serius.
“Nggak kok, paling tinggal setengah perjalanan lagi kita sampe pantai.”
“Bentar lagi keburu malem lho.”
“Atau kita ke pantai terus nginep.”
“Tapi kita kan ga persiapan apa-apa.”

Singkat cerita, kita memutuskan buat melanjutkan perjalanan ke pantai. Berawal dari celetukan bodoh yang dianggep becanda, berubah menjadi sebuah opsi yang dibicarakan secara serius. Bahkan jadi keputusan. Gue yakin, semua orang di rombongan ini masih ga percaya kalo kita beneran jadi mau ke pantai. Bahkan, di tengah perjalanan, Tia dengan polosnya masih nanya ke gue, “Rak, ini beneran jadi ke pantai?”

Kita sampai di Pantai Krakal sekitar jam 6 sore. Melihat kondisi yang sudah menjelang gelap kayak gini, kita pun memutuskan buat cari penginapan. Di sektar sini, penginapan yang ada sangatlah sederhana, model bangunan semi permanen. Setelah tawar menawar dengan pemilik warung dan penginapan, akhirnya kita dapat dua kamar di lantai atas seharga 150 ribu.

Sesudah maghriban, kita makan malam. Makan malam kali ini ditemani dengan suara deburan ombak dan siulan angin pantai. Kita makan sambil menertawakan kebodohan kita seharian ini. Tidak ada yang menyangka kalo akhirnya kita bakal terdampar di pantai kayak gini. Setelah makan, kita lanjut bermain werewolf sampai larut malam.

Besok paginya, kami sempat foto-foto di pantai, lalu sarapan, lalu pulang.


Begitulah kisah jalan-jalan terbodoh ala Astonic Jogja. Niatnya mau ke air terjun, malah jadinya ke pantai. Awalnya sama sekali gaada rencana bakal nginep, akhirnya malah bermalam. Belum lagi insiden-insiden kayak kehujanan, kesasar gara-gara gmaps, kesorean, dll. Tapi, siapa peduli? Selama bersama mereka, melakukan hal sebodoh apapun akan terasa menyenangkan :)