Emang kebangetan
gue, masih berani-beraninya ng-update blog ini?!?! Bukannya besok lusa udah UN?
Sadar Raka, sadar...!!! Hmmm... Sebenarnya ini gue lakukan karena gue sayang
sama semua pembaca blog gue. Jadi gue sempet-sempetin waktu buat ng-update nih
blog. Hehehe...
Selain itu, ada
alasan lain mengapa gue ng-pdate blog ini. Ini karena gue memang hobi banget
menulis. Dan entah mengapa, semangat untuk mengerjakan hobi ini sedang
berkobar-kobar. Jadi, tolong izinkan gue untuk meng-update blog ini. Hehehe...
Memang gue
sedang semangat menulis kali ini, dan hal ini gue buktikan dengan sebuah
kegiatan sabotase kecil-kecilan. Beberapa hari lalu, gue menyabotase mading
karya adek kelas gue. Tema mading tersebut adalah “hari-hari spesial di bulan
April” <-- (mungkin). Gue melihat ada satu hal yang kurang di mading
tersebut, yakni artikel tentang ujian nasional. Gue pun memiliki inisiatif
untuk menambahkan artikel mengenai itu. Dan gue rasa kegiatan ini baik, karena
termasuk bagian dari sodaqoh.
Selepas subuh,
gue langsung mengarang ‘artikel sekali jadi’, lalu langsung gue tempelin di
mading milik adek kelas gue. Gue rasa, artikel gue bagus. Tapi nggak tau
kenapa, mereka menolaknya. Ya udah,gue share aja di blog gue ini. Inilah,
artikel yang gue bangga-banggakan tersebut :
Ujian Nasional
Hoi coyy...!!!
Di bulan ini ada juga lho, hal yang sesuatu beudth bagi anak-anak kelas 9
se-Indonesia. Yap, lo semua juga udah tau bahwa yang gue maksud adalah Ujian
Nasional (UN).
UN adalah ujian
yang diadakan oleh negara. UN diadakan untuk mengukur kemampuan siswa-siswi
yang sudah belajar selama 3 tahun di SMP/MTs. Peristiwa ini amat sangat penting
beudth. Saking bermaknanya ujian ini, sampai ada lagu “c.U.N.t.a” yang
dipopulerkan oleh D’Bagindas.
Ada empat pelajaran
yang jadi mata UN SMP/MTs : Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan
IPA. Semua pelajaran itu tentu tak ‘kan terasa sulit jika kita semua mau
belajar dan berusaha keras. Buat kakak-kakak kelas 9 tercinta :
Cememmudth ea
kkq...!
Sukses UN
1220 #plakk
Sukses UN
2012!!!
Nah, itu dia
artikel bikinan gue? Gimana, nggak jelek kan, untuk ukuran artikel mading yang
selesai dalam sekali bikin? Hehehe.
Eh, sekalian
nih, gue mau minta doa dan restunya dari para pembaca blog gue. Besok lusa,
Senin, 23 April – 26 April 1012, gue akan menjalani UN SMP/MTs. So, doain gue
dan temen-temen gue ya, supaya sukses dan diberi kelancaran dalam mengerjakan.
Wah, besok libur nih guys... Gue
nggak tau mengapa besok libur dan gue emang nggak mau ngurusin hal itu. Satu
hal yang penting, gue mau ngasih posting spesial buat kalian semua. Ini adalah
posting cerita bonus. Dinamakan bonus karena ini bukan akhir pekan, tapi gue
kasih sekarang juga. Sebenernya posting ini udah lama jadi draft di buku tulis gue. Berhubung sekarang baru sempet, jadi
sekarang baru bisa gue ceritain ke kalian.
Ini semua tentang salah satu bagian
dari kisah hidup gue yang rasanya mirip gado-gado. Di sana ada manis, pahit,
asem, asin, dan umami. Semua itu bercampur aduk menjadi gado-gado yang tentu
saja gue suka. Namun kadang rasa dari gado-gado itu nggak seenak yang gue
bayangin. Kadang keasinan, kemanisan, keaseman, kepahitan (?), bahkan keumamian
(ngawur!). Ini semua tentang gado-gado cinta.
Berani banget ya, gue ngomongin
masalah cinta di sini? Ya terserah gue donk. Ini blog gue, jadi suka-suka gue.
Kalo emang mau protes, ke bapak lo aja sana! Udah? Oke, inilah kronologinya,
bagaimana hati gue mencicipi berbagai macam rasa dari gado-gado cinta!
Pertama kali gue merasakan suka
sama seseorang adalah saat kelas lima SD. Saat itu gue masih belum pake kaca
mata, bahkan sampai saat ini. Gue emang nggak tertarik untuk pake kaca mata.
Gue beranggapan bahwa kaca mata hanya untuk orang-orang yang memiliki kerusakan
pada matanya. Sedangkan gue merasa bahwa mata gue normal-normal aja (Oke, STOP
bicara tentang kaca mata!).
Ehem... Saat itu memang sedang
zamannya di kelas gue untuk menyukai temen sebaya yang berlawanan jenis
kelamin. Tentu saja saat itu gue belum dewasa banget. Rasa suka itu datang
secara nggak jelas, dan hinggap begitu saja di hati gue. Gue yakin telenovela
yang disiarkan di TV ikut peran serta membuat gue jadi gini. Perasaan ini terus
gue pendam hingga gue lulus SD.
Anak yang gue taksir itu memang cantik
dan dulu dia sekelas sama gue. Kurang beruntung, gue harus merasakan pahit pada
gado-gado pertama gue. Anak yang gue taksir itu menjalin hubungan dengan
seseorang. Seseorang itu adalah temen deket gue sendiri. Lo tau nggak, gimana
sakitnya hati gue saat itu? (sabar.. sabar..). Mereka nggak pacaran sih, tapi
mereka kelihatan mesra banget. Saat rekreasi kelas enam, mereka duduk
berdekatan di bus, bermesra-mesraan. Dan sialnya, gue ada di deket situ.
Perasaan gue tak juga tersampaikan
hingga gue lulus SD. Akhirnya, kita berpisah, gue di MTsN Kediri 2, sedangkan
cewek itu di sekolah lain. Seiring waktu, gue pun melupakan perasaan gue ke
anak itu. Gue mulai menikmati kehidupan baru gue di MTs dan membuka hati gue
kepada orang yang baru. Pada awal MTs ini, gue merasakan gado-gado yang rasanya
asem. Asem gimana, bang?
Gini, gue adalah anak yang punya
pergaulan paling banyak di kelas. Gue yang paling punya banyak kenalan di
setiap kelas dibandingkan dengan temen-temen gue lainnya. Namun, setiap gue
ketemu cewek yang bikin gue tertarik, dan gue ingin PDKT sama dia, selalu aja
direbut sama temen sekelas gue.
Memang kesalahan gue sih. Gue suka
membanggakan cewek-cewek itu di depan temen-temen gue sampai mereka tertarik,
hingga mereka minta dikenalin sama si cewek, lalu mereka yang PDKT, dan
akhirnya gue tersepak gitu aja. Gue pun berkata dalam hati, “ASEM banget nih
anak!” Hal ini sudah terjadi dua kali secara beruntun.
Sesudah gado-gado yang asem itu, gue
merasakan gado-gado rasa umami. Lo tau nggak, umami tuh kayak apa? Gue juga
nggak tau. Rasanya nggak jelas, dan nggak bisa dijelasin. Seperti yang gue
rasakan saat itu. Gue mengalami kekosongan hati, padahal gue ingin merasakan
yang namanya cinta. Saking parahnya, setiap cewek yang gue temui, gue langsung
suka sama dia #parah.
Dalam gado-gado umami inilah
pertama kalinya gue punya pacar. Waktu itu gue ditembak sama seseorang yang
baru gue kenal. Gue baru aja berpapasan sama anak itu satu kali, pas hari terakhir
masuk sekolah, sebelum liburan awal puasa. Selama liburan, dia sms gue terus,
dan lalu nembak gue lewat sms. Tanpa basa-basi, gue langsung terima dia sebagai
pacar gue.
Ternyata gue bener-bener merasa
nggak nyaman pacaran sama orang yang nggak gue sayangi. Akhirnya dia pun gue
putusin di hari kedua kita pacaran. Kejam? Emang. Saat itu gue menjadi anak
cupu korban pacar-pacaran. Namun sejak kejadian itu, gue belajar bagaimana
untuk menjadi lebih dewasa dalam hal ini.
Gado-gado umami ini berakhir saat
gado-gado yang asin dateng. Kali ini gue mengalami ‘cinta pada pandangan
pertama’ dengan seorang gadis. Gue nggak tau alasan apa yang bikin gue bisa
suka sama tuh cewek. Pas pertama kali ketemu di tukang es buah, gue langsung
naksir dia. Setelah gue telusuri, ternyata dia juga merupakan anak Fikruna,
organisasi yang gue ikuti di MTs. Sekarang, cewek itu malah udah jadi salah
satu orang penting di Fikruna.
Kala itu, gue menyimpan perasaan
gue cukup lama. Gue memang belom punya keberanian untuk menyatakan perasaan gue
ke cewek. Gue juga selalu salting (salah tingkah) setiap ketemu sama dia. Rasanya
asin beuth...
Hal ini jelas mengganggu banget
buat gue. Gue jadi sering kepikiran si dia, ngelamun tentang dia, dan
lain-lain. Apalagi gue tau, kalo dia udah punya pacar. Sakit banget tauk, hati
gue! Gue jadi sering galau. Padahal, gue harus belajar dengan lebih giat karena
saat itu kelas gue udah mulai ikut try out - try out. Karena nggak tahan,
akhirnya gue beranikan diri untuk menyatakan perasaan ke anak itu.
Gue merasa lega dan bisa lebih
enteng untuk melupakan segala perasaan gue tentang cewek tadi. Kita tetep
berteman. Dia dengan kehidupan yang dia miliki, gue dengan kehidupan yang gue
miliki. Kini piring hati gue kosong tanpa ada gado-gado di atasnya. Bener-bener
kosong karena nggak ada siapa pun yang mengisi hati gue.
Lalu gue merasakan ada seseorang
yang sayang sama gue, lebih dari seorang teman. Dia adalah adek kelas gue, dan
dia juga anak kelas akselerasi. Sebenernya, gue udah kenal dia cukup lama. Saat
itu, gue punya misi untuk mengenal adek kelas akselerasi lebih duluan dari
temen-temen gue. Gue pun menjelajahi dunia maya untuk mengetahui facebook,
twitter, dan nomer hp dari setiap anak, terutama yang cewek. Dari semua anak
yang gue kenal, ada seseorang yang care
banget ke gue. Kita sering banget sms-an, chatting-an, curhat-curhat, dll. Dia pernah
ngasih coklat ke gue. Bahkan dulu kita sempet tukeran HP.
Gue mulai merasakan perasaan itu
saat piring hati gue sedang kosong, sesudah gue mencicipi gado-gado yang asin. Dia
selalu ada untuk menemani gue bagaimana pun keadaan gue saat itu. Nggak sekadar
suka, gue sudah sayang sama dia. Gue ingin dia bisa jadi milik gue untuk
mengisi hati yang kosong ini. Akhirnya kita jadian, tepat di hari jadi MTsN
Kediri 2.
Dia merupakan pembaca blog gue yang
paling setia yang gue kenal. Nama dia pernah gue tulis pada beberapa posting
sebelumnya. Dalam posting itu, gue nge-bego-begoin si dia. Tapi kini, dia
adalah seseorang yang spesial, yang mengisi hatiku saat kosong, yang menawarkan
kepadaku gado-gado cinta yang manis.
Minggu depan ada Ujian Akhir Madrasah, tapi mengapa gue masih sempet-sempetin meng-update blog ini?!? Pertama, lagi-lagi gue mau minta doa kepada kalian semua, supaya gue diberi kesuksesan dalam UAM dan UAMBN (UAM Berstandar Nasional) kali ini. Kedua, gue mau cerita sama lo semua tentang hari Jumat, 16 Maret 2012 yang baru saja gue alamin. Hari itu gue kasih nama “Jumat Pelangi.”
Lo tau nggak, kenapa hari kemarin gue kasih nama “Jumat Pelangi”? Tentu saja karena hari itu adalah hari Jumat. Alasan lainnya, pada hari itu gue merasa bahagia banget. Hari itu bener-bener terasa seperti pelangi. Segala macam warna yang indah bersatu menjadi satu, lalu membentuk sebuah perpaduan yang indah. Dan hal itu membuat gue bahagia.
Kisah “Jumat Pelangi” ini bermula ketika apel pagi di lapangan sekolah gue. Hari itu adalah hari jadi MTsN Kediri 2 yang ke-34. Pak Nursalim, kepala madrasah gue memberikan wejangan-wejangannya buat para penghuni madrasah. Beliau juga menceritakan sejarah MTsN Kediri 2 sejak awal kelahirannya sampai sekarang ini. Kebetulan, Pak Nursalim memang salah satu “pelaku sejarah” yang sampai sekarang masih berada di MTs. Dan sekarang beliau adalah kepala madrasah yang ke-9.
Masih dalam kegiatan apel pagi di lapangan, sekolah mengumumkan juara-juara dari perlombaan “kelas terpadu” dan yel-yel kelas. Lomba kelas terpadu adalah perlombaan kebersihan antar kelas yang berlangsung beberapa minggu lalu. Sedangkan yel-yel kelas dilombakan saat jalan santai MTsN Kediri 2 tepat seminggu yang lalu. Setiap kejuaraan diambil 3 juara, dan kelas gue memenangkan juara pertama untuk kedua kejuaraan tersebut. JUARA PERTAMA sodara-sodara! Untuk semua perlombaan! Ini namanya SAPU BERSIH! Hahaha...
Sesudah apel, kami semua digiring menuju aula untuk mendengarkan pengajian dan disyuting oleh Dhoho TV. Sebenernya gue nggak mood buat mendengarkan pengajian hari itu. Gue lebih banyak ngobrol bareng temen-temen gue di pojokan aula (Jangan dicontoh! Nggak baik). Lagian pengajiannya kebanyakan membahas tentang kamar mandi yang merupakan habitat gue.
Pulang pengajian, gue tidur-tiduran sebentar di asrama gue, lalu berangkat sholat jumat. Habis sholat jumat, gue bantuin anak-anak Fikruna yang lagi pada ngerjain mading. Mereka kelihatan serius banget ngerjain madingnya. Maklum, sebentar lagi ada perang mading antar sekolah se-Karesidenan Kediri. Tentu saja, mereka juga ingin membanggakan madrasah gue dengan meraih juara pada lomba perang mading itu. Sebagai bentuk simpati, gue juga ikut membantu mereka walau gue lebih banyak ngabisin konsumsi daripada kerja. Gue bantu-bantu di sini sampe Maghrib.
Malemnya, ada kejadian yang bikin gue plong banget. Sesuatu pencapaian yang luar biasa yang bisa diraih oleh anak seculun gue. Dan sesuatu ini masih gue rahasiakan! Jadi lo semua nggak akan tau sekarang. Mwahahaha...!!! (SELESAI)
Endingnya jelek ya? Udah, nggak usah protes. Gue mau serius belajar dulu ya. Kapan-kapan deh, gue buatin cerita yang lebih asyik dan menarik lagi. Insyaallah…
Hei, yang ada di sana! Ya, lo yang lagi baca tulisan gue. Lo tau kan, kalo gue ini adalah anak yang bentar lagi lulus MTs? Semoga elo tau, supaya lo bisa doain gue biar sukses dalam ujian kali ini. Hehehe...
Kira-kira, itulah hal yang sering gue lakukan. Gue sering minta doa ke setiap orang yang gue temui. Setiap sebelum masuk ke ruangan try out, gue selalu minta doa ke setiap anak, mulai dari yang gue kenal, sampe yang nggak kenal. Kata ibu, gue harus banyak-banyak minta doa ke orang-orang. Gue sih manut aja. Gue percaya, bahwa kekuatan doa itu nggak ada bandingannya.
Ngomong-ngomong masalah “mau lulus sekolah” ini, kadang gue jadi galau sendiri. Kalau udah lulus nanti, gue akan meninggalkan temen dan sahabat gue selama di MTs. Apalagi niat gue untuk merantau ke Serpong, Jawa Barat. Gue harus meninggalkan temen-temen gue di Kediri, Jawa Timur. Dan itu jauh banget.
Jangan lo pikir ninggalin temen itu gampang! Pasti banyak banget kenangan indah yang bakalan kita tinggalkan. Lo semua pasti juga udah pernah ngerasain kan? Nah, bentar lagi gue akan ngerasain itu!
Buat menghilangkan galau dalam diri gue, gue menganalogikan perpisahan itu seperti aliran sungai. Bisa saja kita berasal dari sebuah sumber yang sama. Namun dalam perjalanan, bisa jadi akan terpisah juga. Ada yang akan bertemu kembali dalam waktu dekat, ada yang akan bertemu lagi dalam waktu yang lama. Namun, entah berapa jarak rentang waktu itu, kita pasti akan bertemu lagi di sebuah tempat, yakni laut.
Dengan penganalogian (susah banget sih, ngomongnya) seperti ini, gue harap orang-orang yang akan mengalami perpisahan, termasuk gue, bisa mengerti bahwa selama apa pun kita berpisah, sejauh apa pun itu, kita bisa saja bertemu kembali di hari lain. Like two rivers flow to the open sea...
Sori banget ya, buat para pembaca setia Raka Bercerita. Sori, gue telat posting dan nggak bilang-bilang dulu. Belakangan ini gue mulai disibukkan macam2 kesibukan sekolah yang dateng silih berganti. Maklum, gue kan udah kelas 9. Jadi bentar lagi gue bakalan lulus... Yeeei...!!! (bergaya cheerleader habis nelen linggis).
Tapi sebelum bisa lulus, gue mesti melewati serangkaian gue harus bisa melewati segala kesibukan yang dateng silih berganti itu. Tugas-tugas yang numpuk, Try Out (TO), ujian praktek, Ujian Akhir Madrasah (UAM), Ujian Akhir Maadrasah Berstandar Nasional (UAMBN), dan puncaknya adalah Ujian Nasional (UN). Banyak banget ya? Memang inilah ujian-ujian yang harus dilalui para siswa madrasah. Kadang gue juga ngeri sendiri sih, kalo inget-inget ini. Tapi gue harus tetep berjuang biar bisa membanggakan ortu gue.
Sebenernya gue nggak terlalu niat buat posting malem ini. Perhatiin aja, bahasa yang gue pake lebih berantakan dan gak karuan. Tapi gue mikir, lewat posting ini gue bisa minta bantuan doa kepada lo semua, para pembaca blog gue. Jadi tanpa basa basi lagi...
DOAIN GUE SUPAYA SUKSES PADA UJIAN KALI INI YA...! DOAIN JUGA SUPAYA GUE BISA LULUS DAN MASUK KE SMA YANG GUE TUJU. Oke?
Jangan lupa doain kakak-kakak kalian yang lainnya juga ya. Entah itu kelas 6 SD, 9 SMP, atau 12 SMA. Sekian postingan gue kali ini.
Durian... Siapa yang nggak kenal buah satu ini? Buah yang lebih enak kita panggil ‘duren’ ini adalah buah yang mendapat julukan ‘King Of Fruit’ alias raja buah. Buah ini benar-benar terkenal, sampai-sampai di setiap kardus air mineral aja ada gambar durennya. ‘Jauhkan dari bau yang menyengat,’ itu katanya. Memang, duren memiliki bau khas yang sangat menyengat. Radius dari bau duren bahkan mencapai 1.000 centimeter (baca : 10 meter). Bahkan lebih jauh dari itu.
Ada beberapa hal yang menurut gue pantas dijadikan alasan mengapa duren menyandang gelar “King Of Fruit”. Pertama, duren itu termasuk gede banget untuk ukuran buah. Bentuknya juga jauh lebih keren kalau dibandingkan dengan buah laen. Mirip rambutnya si Naruto.
Selain itu, ada hal unik lain yang menyebabkan duren mendapat julukan ‘King Of Fruit.’ Percaya atau nggak, silakan saja. Bapak gue pernah cerita begini ke gue saat kita berdua lagi makan duren bareng:
“Rak, kamu tau nggak, kenapa duren ini dapet julukan raja buah?” tanya beliau.
“Kan bentuknya sangar Pak,” jawab gue polos.
“Selain itu ada lagi tauk.”
“Emang kenapa Pak?” gue jadi penasaran.
“Duren ini makanan kesukaannya raja hutan lho. Di Sumatera sana, harimau itu doyan banget makan duren,” beliau menjelaskan.
“Memangnya penjual duren di sana nggak takut sama harimau, ya?”
“Ya nggak gitu lah. Harimau di sana makan duren yang jatuh dari pohon di hutan. Bukan beli di pasar.”
“Oh..” gue ngangguk-ngangguk.
“Jadi itu alasannya, mengapa duren disebut Raja Buah.” Akhirnya kita pun melanjutkan makan duren.
Gue pernah mengamati presepsi dari masyarakat luas tentang duren. Dari hasil pengamatan itu, gue bisa menyimpulkan beberapa hal. Gue lihat, jarang banget ada orang yang biasa-biasa aja sama duren. Pertama, mayoritas orang yang suka duren pasti cinta mati sama duren. Mereka rela melakukan apa saja untuk bisa menikmati lezatnya buah ini. Kedua, mayoritas orang yang tidak suka duren pasti benci setengah mati sama duren. Mencium baunya aja udah mau muntah, apalagi disuruh makan.
Saat kecil dulu, gue benci sama duren, tapi suka banget nyium-nyiumin bau duren. Akan tetapi, karena gue terlahir di keluarga pecinta duren, gue pun mendapat tekanan yang besar dan akhirnya sekarang gue suka sama duren, tapi nggak sampai cinta mati gitu. Kalau ada, gue makan. Kalau nggak ada juga nggak apa-apa.
Perbedaan dari pecinta duren dan pembenci duren biasanya sangat terlihat jelas. Saat di asrama, kita pernah mendapat kiriman duren dari salah seorang wali murid. Secara otomatis, anak-anak di asrama langsung terbagi menjadi dua kelompok. Yang satu suka duren, enak-enakan menyantap duren di pojokan. Yang satu lagi benci duren, mereka sok belajar di pojok lainnya. Tentu saja gue termasuk golongan yang pertama.
Lalu ada temen gue yang usil niat ngganggiun mereka-mereka yang benci duren. Secara tiba-tiba si anak mendekat ke gerombolan lain sambil membawa duren. Spontan para pembenci duren langsung teriak-teriak ketakutan. Ada yang bilang, “Uh, baunya, ampun deh,” “Jauhin ini dari gue sekarang!” ada juga yang gini, “BESOK PAGI GUE KERAMAS!” Yah, hanya karena terkena bau duren, besok paginya anak itu pun keramas.
Itulah duren. Berkah bagi siapa pun yang menyukainya, tapi juga malapetaka bagi siapa pun yang membencinya. Bagaimana dengan lo semua?
Kali ini gue mau cerita nih, tentang handphone (HP) yang pernah menjadi bagian dari hidup gue. Mau tahu HP apa saja mereka? Inilah mereka, HP-HP yang benar-benar nggak beruntung..
1. Nokia N99
Oke, ini memang kelihatan nggak masuk akal. HP ini jauh lebih mirip karya anak SD yang dibuat untuk praktikum IPA bab suara.
2. Nokia 1108
Inilah HP pertama gue yang sesungguhnya. Jadul banget ya, HP gue yang satu ini? HP ini dibeli tahun 2005 dan baru gue pakai tahun 2010, saat kelas 1 SMP. Sebelum gue pakai, pemegang HP ini adalah ibu gue.
Selama digenggam oleh ibu gue, HP ini udah mengalami banyak pengalaman naas. Salah satu yang nggak bisa gue lupain adalah ketika HP ini jatuh dari lantai dua sebuah gedung. Mungkin HP ini memang sengaja ingin bunuh diri karena nggak kuat kalau terus bersama ibu gue. Akhirnya dia menjatuhkan dirinya dan sukses pecah berkeping-keping di bawah gedung. Akan tetapi, bapak gue menyelamatkan HP ini dengan merakitnya kembali, dan ini berhasil. Dengan santai beliau berkata, “Ini masih bisa dipakai kok.” HP itu pun tetap hidup dengan keadaan cacat seumur hidup – lampu layar yang mati.
Saat masuk ke asrama sekolah, gue dibekali dengan HP ini. Awalnya HP ini digunakan buat komunikasi antara gue dan ortu gue. Tapi hal ini gue salahgunakan dan gue pakai buat sms-an sesuka hati gue. Gue jadi punya banyak temen (cewek) baru lewat HP ini. Ada yang protes??
Pengalaman yang dialami HP ini bersama gue justru jauh lebih naas. HP ini lebih sering jatuh sampai casingnya pecah-pecah. Gue juga pernah memainkan HP ini layaknya bola sepak. Saat itu kita lagi nungguin guru pelajaran tambahan. Gue tendang-tendang di koridor depan kelas bareng temen gue, Rafi. Gue juga pernah mencuci HP ini cuma buat adu kuat HP bareng temen gue. Barangsiapa berani mencuci HP-nya paling lama, dia yang menang. Dan saat itu gue menang sambil memasang wajah yang tak berdosa.
Nasib HP ini sekarang adalah tergeletak di pojokan lemari barang-barang gue dan jarang terlihat lagi.
3. Nokia 1800
Ini adalah HP kedua gue, yang masih gue pakai sampai sekarang. HP ini gue dapatkan saat bulan puasa tahun 2011 kemarin. Belum banyak pengalaman yang gue rasain bersama HP ini. Tapi kebiasaan gue menjatuhkan HP tetap nggak bisa dihindari.
4. Nokia C3
Heh, jangan salah sangka dulu! Ini bukan HP gue. Lo semua tahu kan, kalau gue belum sanggup beli HP semahal ini?
Jujur aja, ini adalah HP milik temen gue, Rafi. Jangan kira kalau gue nyolong HP ini ya! Kita memang sepakat buat tukeran HP selama seminggu. Emang Rafi anak bego. Mau aja HP bagus punya dia ditukerin sama HP gue yang biasa-biasa banget. Inilah yang dinamakan pemanfaatan teman. Mwehehehehe...
5. Samsung Galaxy Mini
“Wow... HP mahal apa ini?” Itu adalah reaksi pertama gue saat melihat HP ini. Selama ini gue cuma bisa melihat HP ini di iklan televisi atau koran. Sekarang gue bisa menggenggamnya dengan tangan gue sendiri. Rasanya itu seperti terbang ke langit kesembilan (emang ada?).
Sebenernya HP ini juga punya orang lain sih. Lagi-lagi gue tukeran HP sama seseorang untuk yang kedua kalinya. Kali ini dengan adek kelas gue, Risma. Dia juga anak Acceleration Class Program (ACP). Awalnya dia cuma mau minjemin HP-nya buat nunjukin lagu-lagu yang dia miliki ke gue. Tapi saat itu juga, gue mengusulkan sesuatu – tukeran HP. Si Risma nurut aja. Akhirnya dia nurut aja dan kita jadi tukeran HP selama beberapa hari.
Adek kelas gue ini jauh lebih bego daripada Rafi. Biasanya dia bisa dengerin lagu atau main internet pake SGM. Tapi selama tukeran sama gue, dia cuma bisa bengong sambil nungguin sms dari gue. Malang bener nasib anak ini. Mengetahui hal ini, gue langsung mengambil tindakan cepat, yakni mengembalikan HP-nya. Jujur aja, gue kasihan banget sama anak itu.