Monday, September 22, 2014

Soekarno, Pidato, dan Kharisma

Siapa yang nggak kenal Ir. Soekarno? Beliau adalah bapak revolusi, pembaca teks proklamasi kemerdekaan, sekaligus presiden pertama Republik Indonesia. Seseorang yang sangat mashyur dengan kepemiminan dan kharismanya.

Nah, ini nih yang bikin saya tertarik, kharisma. Harta langka dan paling berharga yang harus dimiliki seorang pemimpin. Sayangnya, nggak semua orang punya great kharisma yang bisa sampe memengaruhi semua orang, membuat orang lain diam mendengarkan, memperhatikan, bahkan sampai terkesima. Rasa-rasanya, di zaman sekarang ini susah banget menemukan orang kayak gitu.

Cukup banyak dokumen-dokumen baik berupa teks, gambar, foto, sampe video yang menunjukkan betapa hebatnya kharisma yang dimiliki oleh beliau. Bahkan, pernah beliau berpidato dalam sebuah sidang PBB yang dihadiri oleh petinggi-petinggi banyak negara. Saat itu, semua orang diam memperhatikan, tertegun, hingga saat selesainya pidato semua hadirin berdiri bertepuk tangan. Sampai-sampai banyak peneliti yang mengungkapkan bahwa Soekarno adalah seorang orator terhebat sepanjang masa.

Nah, ini saya menemukan salah satu pidato Soekarno di internet. Ketika itu, tanggal 29 Juli 1956, Soekarno sedang berada di Semarang. Panjangnya sekitar dua halaman Ms. Word lebih ._.
“Saudara-saudara,
Djuga sadja pernah tjeritakan dinegara-negara Barat itu hal artinja manusia, hal artinja massa, massa.
Bahwa dunia ini dihidupi oleh manusia. Bahwa manusia didunia ini, Saudara-saudara, “basically” – pada dasar dan hakekatnja – adalah sama; tidak beda satu sama lain. Dan oleh karena itu manusia inilah jang harus diperhatikan. Bahwa massa inilah achirnja penentu sedjarah, “The Makers of History”. Bahwa massa inilah jang tak boleh diabaikan ~ dan bukan sadja massa jang hidup di Amerika, atau Canada, atau Italia, atau Djerman, atau Swiss, tetapi massa diseluruh dunia.
Sebagai tadi saja katakan: Bahwa “World Prosperity”, “World Emancipation”, “World Peace”, jaitu kekajaan, kesedjahteraan haruslah kekajaan dunia : bahwa emansipasi adalah harus emansipasi dunia; bahwa persaudaraan haruslah persaudaraan dunia ; bahwa perdamaian haruslah perdamaian dunia ; bahwa damai adalah harus perdamaian dunia, berdasarkan atas kekuatan massa ini.
Itu saja gambarkan, saja gambarkan dengan seterang-terangnja. Saja datang di Amerika,- terutama sekali di Amerika – Djerman dan lain-lain dengan membawa rombongan. Rombongan inipun selalu saja katakan : Lihat, lihat , lihat, lihat!! Aku jang diberi kewadjiban dan tugas untuk begini : Lihat, lihat, lihat!! – Aku membuat pidato-pidato, aku membuat press-interview, aku memberi penerangan-penerangan; aku jang berbuat, “Ini lho, ini lho Indonesia, ini lho Asia, ini lho Afrika!!”
Saudara-saudara dan rombongan : Buka mata, Buka mata! Buka otak! Buka telinga
Perhatikan, perhatikan keadaan! Perhatikan keadaan dan sedapat mungkin tjarilah peladjaran dari pada hal hal ini semuanja, agar supaja saudara saudara dapat mempergunakan itu dalam pekerdjaan raksasa kita membangun Negara dan Tanah Air.
Apa jang mereka perhatikan, Saudara-saudara? Jang mereka harus perhatikan, bahwa di negara-negara itu – terutama sekali di Amerika Serikat – apa jang saja katakan tempoh hari disini ” Hollandsdenken ” tidak ada.
“Hollands denken” itu apa? Saja bertanja kepada seorang Amerika. Apa “Hollands denken” artinja, berpikir secara Belanda itu apa? Djawabnja tepat Saudara-saudara “That is thinking penny-wise, proud, and foolish”, katanja.
“Thinking penny-wise, proud and foolish”. Amerika, orang Amerika berkata ini, “Thinking penny-wise” artinja Hitung……..satu sen……..satu sen……..lha ini nanti bisa djadi dua senapa `ndak?…….. satu sen……..satu sen……… “Thinking penny-wise”………”Proud” : congkak, congkak, “Foolish” : bodoh.
Oleh karena akhirnja merugikan dia punja diri sendirilah, kita itu, Saudara-saudara, 350 tahun dicekoki dengan “Hollands denken” itu. Saudara-saudara, kita 350 tahun ikut-ikut, lantas mendjadi orang jang berpikir “penny-wise, proud and foolish”
Jang tidak mempunjai “imagination”, tidak mempunjai konsepsi-konsepsi besar, tidak mempunjai keberanian – Padahal jang kita lihat di negara-negara lain itu, Saudara-saudara, bangsa bangsa jang mempunjai “imagination”, mempunjai fantasi-fantasi besar: mempunjai keberanian ; mempunjai kesediaan menghadapi risiko ; mempunjai dinamika.
Washington Monument, didirikan tahun 1884
George Washington Monument misalnja,
tugu nasional Washington di Washington, Saudara-saudara : Masja Allah!!! Itu bukan bikinan tahun ini ; dibikin sudah abad jang lalu, Saudara-saudara. Tingginja! Besarnja! Saja kagum arsiteknja jang mempunjai “imagination” itu, Saudara-saudara.

Bangsa jang tidak mempunjai : imagination” tidak bisa membikin Washington Monument. Bangsa jang tidak mempunjai “imagination”………ja, bikin tugu, ja “rongdepo”, Saudara-saudara. Tugu “rong depo” katanja sudah tinggi, sudah hebat.
“Pennj-wise” tidak ada, Saudara-saudara. Mereka mengerti bahwa kita – atau mereka – djikalau ingin mendjadi satu bangsa jang besar, ingin mendjadi bangsa jang mempunjai kehendak untuk bekerdja, perlu pula mempunjai “imagination”,: “imagination” hebat, Saudara-saudara.
Perlu djembatan? Ja, bikin djembatan……tetapi djangan djembatan jang selalu tiap tiap sepuluh meter dengan tjagak, Saudara-saudara, Ja , umpamanja kita di sungai Musi…….Tiga hari jang lalu saja ini ditempatnja itu lho Gubernur Sumatera Selatan – Pak Winarno di Palembang – Pak Winarno, hampir hampir saja kata dengan sombong, menundjukkan kepada saja “ini lho Pak! Djembatan ini sedang dibikin, djembatan jang melintasi Sungai Musi” – Saja diam sadja -“Sungai Ogan” – Saja diam sadja, sebab saja hitung-hitung tjagaknja itu. Lha wong bikin djembatan di Sungai Ogan sadja kok tjagak-tjagakan !!
Kalau bangsa dengan “imagination” zonder tjagak, Saudara-saudara !!
Tapi sini beton, tapi situ beton !! Satu djembatan, asal kapal besar bisa berlalu dibawah djembatan itu !! Dan saja melihat di San Fransisco misalnja, djembatan jang demikian itu ; djembatan jang pandjangnja empat kilometer, Saudara-saudara ; jang hanja beberapa tjagak sadja.
Satu djembatan jang tinggi dari permukaan air hingga limapuluhmeter; jang kapal jang terbesar bisa berlajar dibawah djembatan itu. Saja melihat di Annapolis, Saudara-saudara, satu djembatan jang lima kilometer lebih pandjangnja, “imagination”, “imagination” “imagination”!!! Tjiptaan besar!!!
Jembatan raksasa Golden Gate di San Francisco,sudah berdiri sejak tahun 1937
Kita jang dahulu bisa mentjiptakan tjandi-tjandi besar seperti Borobudur, dan Prambanan, terbuat dari batu jang sampai sekarang belum hancur ; kita telah mendjadi satu bangsa jang kecil djiwanja, Saudara-saudara!! Satu bangsa jang sedang ditjandra-tjengkalakan didalam tjandra-tjengkala djatuhnja Madjapahit, sirna ilang kertaning bumi!! Kertaning bumi hilang, sudah sirna sama sekali. Mendjadi satu bangsa jang kecil, satu bangsa tugu “rong depa”.
Candi raksasa Borobudur di Indonesia, sudah berdiri sejak abad 9 Masehi!
Saja tidak berkata berkata bahwa Grand Canyon tidak tjantik. Tapi saja berkata : Tiga danau di Flores lebih tjantik daripada Grand Canyon. Kita ini, Saudara-saudara, bahan tjukup : bahan ketjantikan, bahan kekajaan. Bahan kekajaan sebagai tadi saja katakan : “We have only scratched the surface ” – Kita baru `nggaruk diatasnja sadja.
Kekajaan alamnja, Masja Allah subhanallahu wa ta’ala, kekajaan alam. Saja ditanja : Ada besi ditanah-air Tuan? – Ada, sudah ketemu :belum digali. Ja, benar! Arang-batu ada, Nikel ada, Mangan ada, Uranium ada. Percajalah perkataan Pak Presiden. Kita mempunjai Uranium pula.
Kita kaja, kaja, kaja-raja, Saudara-saudara : Berdasarkan atas “imagination”, djiwa besar, lepaskan kita ini dari hal itu, Saudara-saudara.
Gali ! Bekerdja! Gali! Bekerdja! Dan kita adalah satu tanah air jang paling cantik di dunia.”


Bisa kita simpulkan, beliau berpidato di depan rakyat Indonesia mengenai mimpi beliau agar Indonesia menjadi negara yang besar, punya impian. Dalam pidato ini, beliau menjelaskan keadaan negara-negara maju di Barat yang menurut beliau dibangun di atas mimpi-mimpi pendahulunya, membandingkannya dengan kekayaan tak terhingga yang dimiliki Indonesia. Indonesia harus bisa memanfaatkan ke-kayaraya-an ragam alam dan budayanya. “Imagination!” Indonesia harus punya mimpi-mimpi besar agar tidak kalah dengan negara-negara maju di Barat.

Dari pidato di atas, bisa kita lihat bahwa dalam berpidato, Soekarno nggak main-main. Nggak cuma menumpahkan seluruh pendapat, gagasan, dan ide-ide cemerlangnya. Pidato beliau juga sarat akan pengetahuan dan informasi. Beliau kan sering jalan-jalan ke luar negeri, jadi tau banyak tentang keadaan di luar Indonesia. Selain itu, pidato beliau sering diselingi dengan bahasa asing seperti Inggris, Belanda, dll. Nggak cuma bikin para pendengarnya terkesima, tergerak hatinya, dan terbakar semangatnya, tapi juga bertambah pengetahuannya sampai informasi tentang dunia internasional (termasuk saya yang baru baca pidato ini).


Wah, kapan ya saya bisa kayak gitu ._.?

Thursday, September 11, 2014

Yang terbaik dari seni lukis adalah ketika aku bisa melukis senyuman di wajahmu~



Tuesday, September 9, 2014

Selamatkan Luna!



Selamatkan Luna!
Karya M. Ramdayanu Muzakki
3600011

 “Ada apa ini? Apa yang sedang kupikirkan?!” Luna sangat heran.


“Kau kenapa? Kau seakan-akan mengerti apa yang sedang aku bicarakan,” ujar kucing berwarna coklat itu bingung, polos.


“Tentu saja aku mengerti apa yang sedang kau bicarakan, bodoh! Satu hal yang tak kumengerti, bagaimana bisa aku mendengarmu berbicara?!” Luna menjadi emosi.


“Tenanglah, gadis kecil,” kucing itu berusaha menenangkan.


“Argh... Bagaimana aku bisa tenang?! Sedang mimpi apa aku ini? Masa ada kucing bisa ngomong?!”


“Dari dulu, kucing juga udah bisa ngomong kali. Kamu aja yang nggak pernah ngerti cara bicara kita. Yang kau tahu hanya meang-meong aja.”


“Heh, kamu jangan ngelunjak ya! Memang sudah semestinya kucing mengeong, bukan ngomong kayak gini.”


“Hei hei, ada apa di sana?” tiba-tiba terdengar suara lirih dari langit-langit. Di sana hanya ada seekor cicak yang sedang mengadahkan pandangan ke bawah.


“Ini lagi! Kau ngapain ikut-ikutan bicara hah?! Diamlah kalian! Aku butuh menjernihkan pikiranku, nih!” Luna semakin bingung, semakin emosi.


“Wah, sepertinya kepalamu tadi membentur lantai cukup keras,” gumam si kucing.
***

Siapa yang tidak mengenal Luna? Ia sudah seperti bintang di SMA-nya. Prestasi yang dimilikinya menjulang setinggi langit. Selalu dapat ranking satu paralel, sering menjuarai lomba-lomba sampai tingkat nasional, dan pernah mengikuti pertukaran pelajar ke Australia. Karenanya, ia jadi anak kesayangan para guru.

Tak hanya prestasi di bidang akademik. Luna pun aktif di OSIS sebagai pengurus inti. Selain itu, bakat menyanyi yang ia miliki juga tersalurkan dengan baik. Ia sering manggung dalam banyak acara di sekolah-sekolah. Bak seorang artis, Luna banyak digemari oleh teman-temannya. Bahkan, tak sedikit anak cowok yang mengincarnya.

Walaupun begitu, semua kecemerlangannya tidak membuat Luna menjadi sombong. Ia tetap rendah hati dan mau berteman dengan siapa saja. Sejatinya, ia memang anak yang periang, supel, dan mudah bergaul.

Suatu hari, Luna mengalami sebuah peristiwa yang tak akan pernah lupakan selama hidupnya. Peristiwa paling ganjil dalam hidupnya. Peristiwa yang mengubah hidupnya. Saat di mana ia pertama kali bisa memahami percakapan hewan.

Saat itu, Luna sedang sendirian di ruangan OSIS. Terik matahari yang menghajar siang kala itu membuat Luna merasa kehausan. Ketika hendak mengambil air dari dispenser, seekor kucing berwarna coklat menghampirinya. Kucing itu tidak asing bagi Luna dan anak OSIS lainnya. Itu adalah kucing yang sudah biasa mondar-mandir di sekitar sekolah, terutama kantin dan ruang OSIS. Bahkan, tak jarang Luna bermain-main dengan kucing coklat tersebut.

Namun, raut wajah kucing itu tak seperti biasanya, terlihat buas dan lapar. Tiba-tiba, kucing itu berlari ke arah Luna dengan ganas. Luna kaget dan ketakutan. Khawatir jika kucing betina itu terkena rabies atau penyakit sejenis, Luna spontan berlari menjauh.

BRUK!

Luna terpeleset dan terjatuh, pingsan. Tak ada orang yang membantunya. Saat itu, sekolah sangat sepi karena sudah sore. Beberapa menit kemudian, Luna terbangun dengan sendirinya, dan mendapati kucing coklat tadi berbicara padanya!

Setelah beberapa saat bercakap-cakap dengan si kucing dan seekor cicak, Luna pun menyadari bahwa kini dirinya bisa memahami pembicaraan semua hewan. Ia mulai mendengarkan obrolan para burung dan sayup-sayup teriakan para semut. Ini jelas terasa sangat aneh bagi Luna. Hidupnya kini benar-benar terasa ramai, penuh dengan percakapan binatang.

“Kenapa kau tadi tiba-tiba mengejarku?” protes Luna.

“Aku hanya ingin menggodamu, kawan. Masa nggak boleh, sih?” jawab si kucing dengan santai.

“Hadeh... Dasar kau ini, ya!”
***


Tentu saja Luna merahasiakan semua ini. Ia tak ingin orang lain gempar karena kejadian yang ia alami. Ia tak ingin publik tahu mengenai kemampuan anehnya ini.

Namun, sesuatu yang unik pasti menarik perhatian orang. Tak terkecuali yang terjadi pada Luna. Bagaikan sumber daya yang langka, ternyata ada sekelompok orang yang mengincar kemampuannya. Tanpa Luna sadari, ia sedang dalam bahaya.

Suatu siang, Luna sedang berada di rumahnya. Ia sedang dengan bermain dengan kucing betina coklat yang tempo hari berada di sekolahnya. Ya, sejak insiden itu, kucing tersebut dibawa pulang oleh Luna dan resmi menjadi peliharaannya. Bukan, lebih tepatnya, kucing itu sudah menjadi temannya. Kucing itu ia bawa ke sekolah tiap pagi dan ia bawa pulang ke rumah tiap sore. Kucing itu juga ia beri nama Lina. Luna dan Lina, nampak seperti pasangan sahabat yang serasi. Walaupun jauh berbeda, namun itu tak jadi soal bagi mereka berdua.

“Luna, ada yang ingin bertemu denganmu, Nak,” tiba-tiba ibu masuk kamar Luna.

“Siapa, Bu?”

“Entahlah, ibu juga belum mengenal mereka. Tampang mereka mengerikan. Tapi salah satunya, ada yang seperti peneliti-peneliti gitu, yang memakai jas putih.”

Dengan diikuti Lina, Luna pun turun ke lantai bawah. Di ruang tamu, ia melihat tiga orang lelaki yang tidak di kenalnya. Benar kata ibu, salah satu dari mereka berkacamata dan mengenakan jas peneliti. Dua orang lainnya berbadan lebih besar dan berpakaian gelap.

“Maaf, anda siapa ya? Saya tidak ingat kalau sudah membuat janji dengan siapa pun siang ini,” Luna berusaha sopan.

“Maaf jika kedatangan kami mengganggumu. Tapi kami memiliki alasan untuk itu,” ujar lelaki berjas putih.

“Ada perlu apa?”

“Kami adalah peneliti yang bekerja untuk pemerintah. Spesifikasi tugas kami adalah meneliti hal-hal ganjil yang terjadi pada manusia. Sepertinya saya tidak perlu berpanjang lebar lagi, nona. Kami ingin mengetahui lebih lanjut mengenai kemampuan unikmu. Apa lagi kalau bukan berbicara dengan hewan,” pria yang mengaku peneliti itu menjelaskan.

Luna jelas kaget. Bukankah ia sudah merahasiakan kemampuannya ini dari siapa pun? Bahkan orang tuanya pun tak tahu kalau ia bisa berbicara dengan hewan. Lalu, bagaimana orang-orang asing ini bisa tahu?

Luna terdiam sejenak.

“Kami hanya ingin mengetahui sedikit lebih banyak tentang dirimu. Kami akan membawamu ke laboraturium kami. Kau tak perlu takut. Semua ini akan mudah jika kau menuruti kata-kataku,” kata pria tadi.

“Aku tak mengerti apa yang sedang kau bicarakan, Tuan,” Luna berpura-pura. “Dan jelas saya menolak jika kau akan membawaku pergi.”

“Ah, andai saja kau bisa diajak bekerjasama,” ujar pria berkacamata itu.

Dua pria besar di belakangnya mendekati Luna. Tak sempat Luna berteriak minta tolong, dua pria itu sudah meringkusnya, membuat Luna tak sadar dengan obat bius. Semua ini sudah seperti penculikan yang direncanakan. Luna pun dibawa kabur oleh tiga orang asing itu.

Lina berusaha mengeong sekeras mungkin. Ibu pun segera datang ke ruang tamu. Namun sayang, semua sudah terlambat.

“Apa yang terjadi, Lina? Mana Luna?” ibu panik seketika.

Lina hanya mengeong.

“Ah, andaikan aku bisa mengerti apa yang kau bicarakan, kucing manis. Aduh, aku harus menelpon polisi!” ibu tetap berusaha tenang.
***

Sebenarnya, percuma saja menghubungi polisi. Sindikat penelitian itu sudah bersekongkol dengan banyak pihak. Kalaupun diminta mencarikan, paling-paling para polisi hanya berpura-pura. Pada akhirnya, mereka akan berkata bahwa mereka tak bisa menemukan Luna serta meminta keluarganya untuk tenang dan bersabar.

Hari sudah gelap. Seharian ini Luna belum ditemukan. Semua orang di rumah gelisah, berharap Luna segera ditemukan. Tak terkecuali Lina. Ia sangat mengkhawatirkan Luna, sahabatnya itu.

Lina merasa bahwa dirinya tak bisa diam saja. Ia bertekad ingin menyelamatkan Luna. Menurutnya, mustahil jika harus mengandalkan manusia-manusia itu. Ia akan mengusahakannya bersama teman-teman hewannya.

Esoknya, pagi-pagi sekali, Lina sudah berangkat keluar rumah untuk mengumpulkan kekuatan. Ya, kekuatan armada tempur untuk menyelamatkan Luna.

Hewan pertama yang ia datangi adalah seekor anjing tua yang tinggal di sebelah sungai. Dulunya, ia adalah anjing pelacak milik kepolisian nasional. Anjing itu kabur dari pekerjaannya dan sekarang tinggal di pinggir sungai. Ia tak suka dikekang dan bekerja untuk manusia. Ia lebih senang hidup bebas seperti sekarang.

“Baiklah, aku bersedia. Lagipula, sejak kemarin belum hujan kan? Tentu akan lebih mudah untuk menemukan gadis itu,” jawab anjing itu ketika Lina memohon padanya.

Roger, nama anjing itu. Kunci utama dari pencarian ini sudah ada di tangan. Lina masih mencari banyak armada lagi. Pasukan burung, tikus-tikus got, para musang, tupai, dan masih banyak lagi.
Siangnya, para hewan ini sudah berangkat mencari letak keberadaan Luna. Tidak akan ada manusia yang menyadari gerakan ini. Mereka tak peduli karena terlalu sibuk dengan urusan mereka.
***

Pintu ruangan besar itu terbuka, menghasilkan suara yang tidak terlalu enak didengar.

“Kami akan memulainya hari ini, Luna,” ujar pria berjas putih. Ia menutup pintu kembali, menguncinya.

“Hei, lepaskan aku! Sudah aku bilang kan, aku tak tahu menahu tentang kemampuan yang kemarin kau bicarakan. Cepat lepaskan!” teriak Luna dari dalam kurungan besi yang tidak terlalu besar.

“Tak usah berbohong. Sudah cukup lama kami mengawasimu, Luna,” pria itu mendekat.

“Tolong...! Siapa pun tolong aku. Kumohon!” Luna berteriak. Percuma, tak ada siapa pun di sana. Hanya mereka berdua.

BRAK!

Pintu kembali terbuka dengan kasar. Segerombolan hewan masuk ke dalam ruangan itu. Ternyata, Lina berhasil mengumpulkan bala bantuan. Tidak tanggung-tanggung, Lina juga meminta tolong kepada beruang yang ia temui dalam perjalanan. Beruang itulah yang tadi mendobrak pintu.

“Lina, apa itu kau? Lina...!” Luna berteriak kesenangan.

“Luna, aku datang menjemputmu!” Lina mengeong kencang.

Hewan-hewan yang sangat banyak jumlahnya dan beragam jenisnya terus berdatangan memasuki ruangan itu.

“Apa yang terjadi? Ada apa di luar sana?” pria berjas putih berbicara kepada rekannya menggunakan walkie talkie, panik.

“Segerombolan hewan tiba-tiba datang, Pak. Mereka seakan-akan memaksa ingin masuk. Kami tak bisa menghentikan mereka. Monyet-monyet ini sangat merepotkan,” ujar orang di sana.

Tiba-tiba, seekor monyet datang membawa serenceng kunci. Dengan gesit, monyet itu menerobos masuk dan memberikannya kepada Luna. Setelah mencoba-coba beberapa kali, Luna pun berhasil membebaskan diri dari kurungan besi. Sementara itu, pria berjas putih sedang disibukkan dengan para hewan yang menahannya.

“Terimakasih, Lina. Wow, kau yang melakukan semua ini? Kau memang hebat, kawan!” Luna memeluk Lina erat-erat.

“Senang bisa membantumu, Luna,” ujar Lina.

“Mau kemana kau, Lina?” masih tak bisa bergerak, pria berjas putih berteriak. “Urusan kita belum selesai!”

“Cukup. Aku tak akan berurusan denganmu lagi. Kuberitahu satu hal padamu: kami bisa saja menghancurkan laboraturium ini sekarang juga. Armada kami sangat banyak! Tapi kurasa itu tidak perlu. Kecuali jika kau berani mendatangiku lagi, aku tak akan sungkan-sungkan. Camkan itu, jelek!” kata Luna.
***

Satu bulan berlalu sejak kejadian itu. Tentu saja, saat itu Luna pulang dengan selamat. Akhirnya, ia pun menceritakan semuanya kepada orang tuanya. Ya, hanya kedua orang tuanya.

Dengan mempertimbangkan banyak hal, akhirnya mereka sekeluarga, termasuk Lina tentunya, pindah ke Australia. Luna sangat cepat beradaptasi. Sekarang, ia sudah memiliki banyak teman, baik manusia maupun hewan-hewan di sana.

Kemampuan itu akan tetap ia miliki hingga dewasa nanti. Memang tidak mudah jika kita memiliki suatu kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Namun, hal tersebut akan menjadi manfaat jika kita dapat menggunakannya dengan baik.

Thursday, August 21, 2014

Liburan Kemaren, Ngapain Aja?

Anak-anak MAN IC Serpong sedang dimanjakan dengan liburan yang amat sangat panjang. Enam minggu, bro... ENAM MINGGU...!! Karena tau liburan bakal sepanjang itu, bahkan sebelum liburan mulai, gue udah bikin susunan rencana bakal ngapain aja selama liburan kelak. Well, walau udah gue rencanain sedemikian rupa, ternyata lumayan banyak yang ngga terlaksana. Liburan gue kali ini mungkin ngga kayak kebanyakan anak IC yang pada belajar nyicil buat kelas XII nanti, les pelajaran, dll. Pernah sekali gue nyentuh buku matematika, dan rasanya udah meriang aja.

Bukan sombong ato apa nih, cuma pengen cerita aja. Gue merasa liburan kali ini lebih bermanfaat daripada sebelum-sebelumnya. Gue mulai mau mengaji di rumah walau dikit dan jarang banget, berangkat sholat jamaah ke masjid walau cuma maghrib, isya, dan subuh doang tapi konsisten, dan nggak tidur habis subuh \m/. Yaah walaupun gue yakin itu gak ada apa-apanya dibanding anak IC lainnya. Tapi paling nggak, IC perlahan-lahan mengubah pola hidup gue yang berantakan jadi lebih tertata. Alhamdulillah...

Walaupun sangat panjang, ternyata liburan kali ini nggak se-membosankan yang gue kira. Gue banyak kegiatan yang bikin nggak bosen, bahkan sampe pengen nambah liburan beberapa hari lagi khusus buat males-malesan di rumah. Hehehe.

JARANAN (Jatmico Ke Sarangan)
Anak-anak Jatmico Astonic kembali mengadakan acara jalan-jalan bareng. Kali ini, tujuannya adalah telaga Sarangan. Selain anak-anak Jawa Timur, ada juga beberapa anak dari Jawa Tengah dan Jabodetabek yang ikut serta. Di sana, kami mengunjungi air terjun tirtosari, makan sate di pinggir telaga, dan yang pasti ya poto-poto.

Travelling
Yang niat awalnya cuma bukber, malah berubah jadi sebuah perjalanan yang sangat mengesankan buat gue. Gue dan beberapa temen jalan-jalan mengelilingi kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Nggak jelas komunitas apa ini. Ada Jatmico (padahal ada anak jateng ‘n jabodetabek juga), Nano Nano, Astonic, Eisthera, dll. Ga jelas, tapi asyik banget. Klik di sini kalo mau liat poto-potonya.

RSC - Ramadhan Student Camp

Bantu-bantu sebelum sholat ied
Kalo gak salah, udah sejak kelas 5 SD gue selalu jadi panitia sholat ied di Stadion Brawijaya. Kerjaan gue setiap tahunnya adalah menyusuri shaf yang amat panjang (bayangin aja sepanjang stadion sepak bola) sambil bawa kantong infaq. Ya, gue narik-narikin infaq dari jamaah.

Nyobain nyetir mobil
Sebenernya udah niat mau latihan rutin tiap pagi. Tapi berhubung alesan males, alhasil gue baru pernah latihan sekali doang. Dilatih langsung sama bapak, menaiki kijang merah tua punya yangkung, dalam satu pagi gue pun bisa maju, belok, ganti kopling, dan mundur. Ya, baru sebatas itu ._.

Nyapu-ngepel-njemur-nyetrika-beres beres
Kalo ini sih udah gue lakuin sejak liburan-liburan lalu, terutama sejak pindah rumah dan gaada embak yg beres-beres rumah lagi. Yaah kan jarang-jarang pulang ke rumah. Jadi ya seneng aja bisa bantu-bantu kerjaan di rumah. Kalo di luar rumah aja mau berkorban buat orang lain, masa di rumah sendiri ngga mau berbuat apa-apa? ;)

Kayak jadi kurir gitu -_-
Baru pas liburan ini, bapak-ibuk mulai percaya sepenuhnya kalo gue udah bisa naik motor. Alhasil, gue sering diminta kesana-kemari, anter sana-sini, beliin ini-itu, dll. Yaah lumayan juga sih buat ngilangin bosen di rumah, gue pun meluncur di jalanan dan berharap nggak ketemu polisi yang nyegat-nyegat di pinggir jalan (gue belom punya SIM -_-)

Bukber The FICTION
Ini menjadi satu-satunya “bukber beneran” yang gue ikuti selama bulan puasa kali ini. Maksud gue “bukber beneran” adalah bukber yang kita dateng habis ashar ato sebelum maghrib, ngobrol-ngobrol ato acara apalah, terus pas maghrib kita buka puasa bareng. Nah, suasana bukber kali ini emang enak banget, karena gue bisa ketemu sama temen-temen yang udah lama banget ngga ketemu. Bukber ini kita adakan di masjid MTsN Kediri 2. Walau yang dateng cuma delapan anak, bukber ini tetep seru banget.

Ngisi blog
Mumpung liburan panjang, gue bisa akses laptop dan internet sepanjang hari. Gue pun mencoba buat ngisi blog ini sama cerita dan posting-posting yang tertunda selama di IC. Gue juga udah berhasil menyelesaikan proyek inovasi gue buat menambah viewer blog gue secara barbar, yakni membuat event RAwa -duaribuempatbelas-. Sangat nggak jelas memang, tapi gue nggak nyangka kalo ternyata lumayan banyak orang yang antusias sama acara ini.

Galau
Ya, galau... Ternyata libur yang terlalu lama juga nggak terlalu baik, karena memberimu banyak kesempatan untuk meng-galau. Arrrggh.... Terlalu banyak hal (sebenernya cuma satu-dua doang sih) yang bikin gue galau selama liburan ini. Aduh duh... Kenapa gue jadi kayak gini ya -_-

Just jalan-jalan
Yaah beberapa kali gue jalan-jalan aja keliling Kediri, entah sama adek, temen-temen SD, MTs, bahkan sama temen-temen IC juga ada. Lumayan banget buat ngisi hari yang kosong. Biar nggak kebanyakan galau. Haha...
Tugas TIK disuruh bikin brosur tentang Insan Cendekia, dan beginilah hasilnya -_-



Friday, August 1, 2014

Amany



Hari ini adalah tanggal 1 Agustus 2014... Ada apa sama tanggal ini? Gue nggak peduli apa kata dunia dengan tanggal ini. Tapi, tepat hari ini ada salah satu kenalan gue yang ulang tahun. Siapa? Ya, posting kali ini emang gue persembahkan spesial buat salah satu sahabat gue di IC, Amany Fidinillah.

Amany adalah seorang gadis beraura hitam, diam, dan seram(?) yang sangat diandalkan dalam urusan dekor, multimedia, dan tim kreatif. Ya, gue pikir dia adalah salah satu anak yang berasal dari negeri dongeng. Pola pikirnya seringkali nggak bisa ditebak ._.v Ekhm. Walaupun dia memancarkan hawa-hawa apatisme, tapi ternyata dia adalah anak yang sangat loyal terhadap apa yang jadi tanggung jawabnya.

Sebenernya, belom lama gue kenal sama anak ini. Bahkan gue baru pernah berinteraksi sama dia pas kelas XI. Tapi, bagaimana bisa dia sampe dapet kehormatan masuk ke blog gue?

Gue ceritain dari awal banget deh. Dulu, sebagai ketua angkatan *ekhem* gue dituntut untuk tau dan kenal sama seluruh anak seangkatan. Berhasil, pas menjelang akhir-akhir kelas X, bisa dibilang gue udah kenal sama seluruh anak Astonic. Tapi, ada beberapa anak akhwat yang gue cuma sekadar tau doang, sama sekali belom pernah berinteraksi dengannya. Bisa dibilang mereka terlalu “jauh” untuk gue jangkau. Gue inget banget, jumlahnya nggak sampe lima anak kok. Dan ternyata salah satunya adalah Amany ini.

Singkat cerita, pas awal kelas XI, gue ditarik jadi pengurus OSIS, tepatnya koordinator divisi jurnalistik. Gue agak kaget ketika tau kalo partner koor gue ternyata adalah Amany. “Ni anak, siapa..?” pikir gue semasa itu. Setau gue, yang namanya partner itu kudu sering berkomunikasi dan koordinasi. Sedangkan Amany ini, kenal aja nggak. Jujur aja, saat itu gue agak gimana gitu(?). Tapi gue terima-terima aja dan cuma bisa ber-khusnudzon.

Ternyata, semasa awal-awal jabatan, rasanya kalo kita berkoordinasi kagak pernah nyambung. Amany dengan ideologinya yang menurut gue aneh unik, dan gue dengan pemikiran yang nggak jelas. Bahkan kalo ga salah, pernah juga semacam berantem sampe nggak enakan beberapa hari, entahlah. Gawatnya, kita sekelas di XI IPS 1 -_- Gue pun menyadari satu hal, bahwa kita berdua emang bener-bener jauh berbeda. Beda dalam hampir segala hal. Dan satu hal lagi, bahwa dia itu ngeselin (ternyata, Amany sempet mengakui bahwa pas masa-masa itu, dia juga nganggep kalo gue ngeselin). Dia juga punya tanggung jawab gede dalam sebuah event, yang bikin gue merasa nggak enak kalo sering-sering “nyuruh” anak ini. Gara-gara itu, gue jadi merasa kerja sendirian selama semester satu. Tapi itu cuma perasaan gue, yang sangat subyektif.

Waktu terus berjalan. Entah kapan tepatnya kita mulai berdamai. Tapi, lama kelamaan gue merasa kalo komunikasi dan koordinasi kita mulai nyambung. Perbedaan yang dulunya bikin kita nggak enakan sampe berhari-hari, kini justru jadi saling melengkapi. Secara nggak langsung kita jadi ngerti pembagian tugas masing-masing. Misalkan, gue bagian yang berkoar-koar ngumpulin, banyak bicara pas ngumpul, dan inovasi-inovasi gak jelas. Amany bagian bawa makanan, ngeprint foto buat j-pret, serta meredam ketidak-jelasan inovasi-inovasi gue. Dan bersama 9 anak jurnal lainnya, Nano Nano pun jadi divisi paling kompak, paling seru, paling rame, paling gaje, dan paling-paling lainnya yang pernah gue kenal.

Beda ya tetep beda. Kita tetep saling nggak kenal kalo di kelas, nggak pernah satu seksi dalam kepanitiaan acara, bahkan nggak pernah say hello kalo papasan di jalan (yg ini sebenernya emang nggak boleh sih ._.). Tapi kita jadi partner yg baik kalo udah ngurus jurnal. Ya, Amany adalah pemenang award "partner terbaik" dalam ajang penghargaan bergengsi, RAwa -duaribuempatbelas-.

Sekarang, kayaknya gue udah nganggep Amany lebih dari sekadar partner kerja (eits, jangan mikir aneh-aneh dulu). Dia bahkan udah gue anggep sebagai temen baik, lebih tepatnya sahabat. Yah, bisa dibilang, mengenal seorang Amany Fidinillah adalah salah satu pengalaman berharga dalam hidup gue. Di mana gue belajar untuk menghargai, mendengarkan, dan memahami orang lain. Btw, selamat ulang tahun yang ke-17 Amany...!! Semoga makin yang baik-baik yaa :)

Oh iya, satu lagi... Dia juga dikenal rempong dengan segala barang bawaan yang dia bawa kemana pun dia pergi. Minimal, satu tas yang dia sebut sebagai "nyawa".


 Thanks for the nice partnership on this last year :)

Re : Diary 24 Februari 2014

24 Februari 2014

Hari ini Daru ultah.
Hari ini Qisti juga ultah, tapi gue belom ngucapin.
Oke, gak penting.

Mungkin ini pertama kalinya dalam hidup gue. lebih dari 24 jam nggak makan nasi. Sore ini tadi baru makan, sejak kemaren siang. Wow.
Oke, ini juga nggak penting sih.

Kayaknya udah cukup lama gue nggak merasakan nyaman ketika bersama sahabat. Tapi, kemaren gue bener-bener ngerasain itu lagi. Di tengah-tengah gue lagi capek, males, 'n bingung mau ngapain, gue iseng keliling-keliling bazaar Sonlis lagi. Di sana, gue ketemu Topik lagi makanan kantin, dan ada beberapa anak lain juga. Topik manggil gue, terus gue duduk. Dia ngajak makan bareng, dan gue pun ikut join makan. Entah gimana bisa kejadian, anak-anak lainnya seakan-akan beranjak pergi. Tinggal gue dan Topik berdua, ngobrol, becanda. Ah, gue rindu suasana bersahabat ini, perasaan nyaman ini.

Habis itu, kita sempet keliling-keliling bareng, ikutan beresin short movie, terus makan kue temuan bekas photo marathon, terus bawa sampah ke gedung Q berdua, dan akhirnya kita balik ke asrama bareng.

Yak, rasanya udah agak lama gue dan Topik nggak beraktivitas bareng lagi. Kita udah pisah kamar. Pisah kelas juga, dia NS, gue SS. Kita juga punya minat yang beda, gue lebih condong ke Sonlis dan dia lebih ke iCare. Dia ada di daerah ketua I jadi koor kedis, sedangkan gue di daerah ketua III jadi koor jurnal. Ya, kita berdua sama-sama udah bener-bener ngerti tentang ini.

Hal ini adalah satu-satunya yang bisa bikin gue merasa nyaman di IC.