Thursday, July 10, 2014

ASEAN Summit



Serunya sekolah di IC itu, banyak guru yang kreatif, suka “aneh-aneh” bikin proyek ini itu sebagai media pembelajarannya. Apalagi kalo proyeknya dilakukan bareng seangkatan. Contoh saja Pak Yus, guru PKn. PKn ini proyeknya pasti seru dan bener-bener seperti kenyataannya. Pas kelas X dulu, beliau mengadakan proyek simulasi pileg dan pilpres. Nah, proyek pas kelas XI ini adalah simulasi Sidang ASEAN, atau lebih gantengnya kita sebut ASEAN Summit.

Satu angkatan secara acak dibagi menjadi 10 kelompok. Masing-masing kelompok itu ceritanya menjadi delegasi dari sebuah negara di ASEAN, yang juga ditentukan secara acak. Gua kebagian negara Malaysia, dengan temen-temen satu delegasi, yakni Tarom, Hanif, Aun, Dhio, Inaz, Restu, Wening, Dea, Puse, DPL, dan Nahla. Ya, kita berduabelas harus memperjuangkan kepentingan negara Malaysia dalam sidang nanti. Btw, masing-masing delegasi diberi seorang tutor dari kakak Magnivic, dan kami kedapetan Kak Lukman.

ASEAN Summit tahun ini mengambil tema “Tackling transnational crime trough ASEAN Community”. Kita harus cari banyak-banyak info tentang transnational crime dan ASEAN Community itu sendiri untuk menyusun position paper, sebuah kertas yang nantinya berisi pandangan, pendapat, serta solusi dari negara kita tentang masalah yang diangkat. Selain itu, kita harus mempelajari mati-matian tentang negara Malaysia, dan tentu saja negara-negara lain juga harus dipelajari. Informasi tentang politik negara-negara ASEAN, masalah ekonomi, perdagangan, sumber daya alam, kriminalitas, dan apa pun yang berkaitan tentang ASEAN menjadi sangat penting kali ini. Intinya, banyak-banyakan informasi!

Setiap delegasi harus punya satu ketua. Nah, sebenernya dari awal gua udah males kalo bakal dijadiin ketua. Jadi, pas kita ngumpul buat nentuin ketua, gua mojokin salah seorang anak biar dia yang jadi ketua delegasi. Entah mengapa, semua anak cuma diem aja saat itu. Manuver cerdas pun dilakukan oleh anak yang gua pojokin tadi. Dia berkata dengan cakepnya, “Kenapa nggak kamu aja yang jadi ketua, Rak.” Semua anak saat itu serentak mengangguk dan mengiyakan. Okeeee -__- Akhirnya gua yang jadi ketua delegasi Malaysia.

Kita diberi waktu beberapa bulan persiapan sebelum sidang. Awalnya, kita semua bener-bener bingung dan nge-blank mau ngapain atau harus nyari info apaan. Rasanya, baru pas hari-hari menjelang deadline position paper, kita semua diberi “kepahaman”. Sebelum deadline, kita udah sepakat dengan sebuah solusi : membuat satuan polisi gabungan negara-negara ASEAN. Nah, pas malem deadline, pas position paper udah selesai dibikin, kita baru tau kalo ternyata udah ada lembaga ASEANAPOL yang sistemnya sama persis dengan solusi yang kita tawarkan sebelumnya. Akhirnya, kita merombak hampir semuanya. Inti dari position paper yang fix dan kita kumpulin adalah : merevitalisasi ASEANAPOL. Sangat nggak disangka, pas malem sidang, ketahuan kalo pemikiran mayoritas negara lain ternyata nyaris-nyaris sama.

Singkat cerita, malam sidang pun tiba. Yang menjadi ketua sidang adalah Kak Gilang, dengan Kak Ali di sebelahnya sebagai pembawa acara (mungkin?). Setelah Pak Yus memberikan briefing singkat, sidang pun dimulai. Acaranya dibagi jadi beberapa sesi, yakni pembacaan position paper, sesi diskusi 1, break alias sesi lobi, sesi diskusi 2, sesi polarisasi, dan voting resolusi.

Pak Yus memberikan briefing

 Sidang dimulai!

Selama pembacaan position paper, gua sama sekali nggak bisa fokus. Gua masih merasa grogi dengan suasana sidang dan panik dengan diplomatic notes yang berdatangan, entah itu isinya penting ato nggak. Gua terlalu sibuk membaca dan membalas pesan dari temen-temen di belakang gua maupun dari delegasi lain, sampe-sampe nggak bisa mencerna position paper yang dibacain sama masing-masing ketua delegasi. Ini sangat gawat sebenernya, karena isi position paper dari masing-masing negara adalah “jantung” dari acara kali ini. Untungnya, Restu menyimak dengan baik dan menuliskan poin-poin penting dari semua position paper. Dia bahkan memilah negara mana yang kira-kira bakal jadi kawan, mana yang jadi lawan. Gua merasa terselamatkan sekaligus terharu :’)

 Angkat bicara pas sesi diskusi 1. Ngomong apa aja, ngomong ngasal, dengan motivasi dapet nilai tambahan ._.

Nah, pas sesi break dimulai, gua baru mulai nge-feel sama nih acara. Mulai bisa ngebaca suasana, mulai PD dan tau harus ngapain. Sesi break ini adalah saatnya bagi para naggota delegasi untuk beraksi. Mereka menyebar ke negara-negara lain, kecuali beberapa anak yang gua tunjuk buat tinggal di Malaysia sebagai penerima tamu. Mereka ada Hanif, DPL, dan Restu. Yang lainnya berangkat melobi negara-negara lain, mencari “kawan” sebanyak-banyaknya, dan mengusahakan agar kepentingan Malaysia bisa “gol”.

Selama sesi break ini gua juga disibukkan sama anggota-anggota Malaysia yang silih berganti dateng ke gua, entah buat minta pendapat, nanya-nanya, atau sekadar minta tanda tangan sebagai wujud setuju atas sebuah kesepakatan. Yah, sesi ini bisa dibilang jadi yang paling greget menurut gua. GSG spontan jadi ramai dengan orang lalu-lalang dan ngobrol. Selain itu, gua juga boleh berdiri atau jalan-jalan, meskipun nggak boleh berinteraksi dengan anggota delegasi negara lain.

 Malaysia, rollout!

Greget!

Sedang lobi dengan salah satu negara 

Sesi break selesai, semuanya kembali duduk manis di tempat masing-masing. Sebelum sesi diskusi 2 dimulai, tiba-tiba Kak Miftah masuk sebagai (sebagai apa, ya? Lupa, hehe) yang membacakan berita, yang menurut gua beritanya agak nggak jelas. Gua paham kok, tapi bingung aja mau nyeritainnya gimana. Toh, nantinya berita ini nggak terlalu digubris pas sesi diskusi.

Semua berdiri saat Kak Miftah membacakan berita

Sesi diskusi 2 pun dimulai. Kali ini diskusinya mulai nyambung, mulai ada serang sana serang sini, mulai ada yang nyaris ngotot, tapi tetep pada posisi stay cool. Pokoknya mulai seru deh. Nggak kayak sesi diskusi yang pertama tadi, masih pada gak nyambung dan gak jelas.

Lanjut ke sesi polarisasi, saatnya ketua delegasi berdiri dan berhubungan secara langsung dengan ketua delegasi negara lain. Kita berdiskusi bentar, terus langsung terpisah menjadi dua kubu polarisasi. Perbedaan jumlahnya cukup signifikan, yakni tiga lawan tujuh. Setelah itu, masing-masing kubu membuat draft resolusi yang akan dibacakan di depan ruangan sidang. Kubu pertama ada Indonesia, Myanmar, dan Singapura yang menolak adanya revitalisasi ASEANAPOL dan menawarkan resolusi bla bla bla gua lupa gimana. Kubu kedua ada Brunei, Kamboja, Laos, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam yang menawarkan untuk merevitalisasi ASEANAPOL dan satu lagi apa gitu, gua lupa.


Diskusi memanas!

Pembacaan draft resolusi dari kubu kedua




Setelah pembacaan draft resolusi, voting pun dimulai dengan keadaan udah pada tau mana yang bakal menang. Habis itu, sidang ditutup dan dilanjutkan dengan sesi yang paling seru, POTO-POTO!!!

Para ketua delegasi

Thanks, Delegates Of Malaysia

ASTONIC, good job!

 Ketua tiga (tengah) dan dua koor.nya yang jadi ketua delegasi

Survey membuktikan, tiga dari sepuluh ketua delegasi berasal dari Kediri

Narsis pas beres-beres GSG

Goodbye, ASEAN Summit

Selama berkegiatan bersama delegasi Malaysia, gua mendapati beberapa temen yang awalnya gua kira (maaf) kurang aktif, nggak bisa diandalkan, atau semacamnya lah. Ternyata semua anggota delegasi Malaysia emang hebat-hebat. Contoh yang bikin gua kaget adalah Hanif, muka-muka cengok gitu, ternyata dia tau banyak wawasan tentang ASEAN tanpa harus searching di google. Dia juga sempet “mempermainkan” delegasi yang dateng ngelobi Malaysia, tanpa gua suruh, yang efeknya tentu keuntungan bagi Malaysia. Si Restu juga, dia selalu dateng ngumpul dan ngerjain apa pun yang gua minta. Dia bahkan menuliskan inti dari semua position paper yang dibacain tanpa gua minta. Tarom yang dengan gantengnya “nantang” memilih untuk melobi negara yang diprediksikan bakal paling sulit buat dilobi. Nahla juga rajin banget ngirim-ngirim kertas dari belakang, ngasih tau apa yang harus gua lakukan ketika gua bingung mau ngapain. Dan masih banyak yang lain tentunya. Yaps, intinya kita semua hebat kok. Makasih banyak delegasi Malaysia :D


Wednesday, July 9, 2014

Two Ways To Make History



“There are two ways to make history : write some words and/or take some picture”

Setelah selama setahun ini kembali berkegiatan dalam dunia jurnalistik, tiba-tiba aja gua kepikiran kata-kata di atas. Apalagi selama kelas XI kemaren, gua lumayan sering ngobrol sama seorang guru sejarah. Nampaknya ada yang menyambungkan antara keduanya, yang menghasilkan kata-kata tersebut. Ada dua cara untuk membuat sejarah : tulislah kata dan/atau ambillah gambar (foto). Menulis dan mengambil gambar, keduanya bisa kita ringkes jadi sebuah nama kegiatan : dokumentasi. Ternyata, dunia jurnalistik emang sangat berpengaruh dalam “pembuatan” sejarah itu sendiri.

Pas gua share kata-kata itu ke sosmed, ada beberapa temen yang “protes”; Kan nggak cuma dua itu doang rak; Take action juga bisa kali. Ya, itu juga bener kok. Tapi, yang gitu-gitu kebetulan agak kurang relevan sama apa yang gua maksud.

Mari kita tilik secuil aja sejarah kemerdekaan Indonesia, pas yang bagian detik-detik proklamasi kemerdekaannya aja deh. Ketika itu, semua usaha udah dikerahkan demi terlaksananya proklamasi kemerdekaan Indonesia yang sakral itu. Penculikan Soekarno untuk mengamankannya dari pengaruh Jepang, begadang bikin teks proklamasi, muter-muter di jalan raya demi menghindari pasukan Jepang yang berjaga di mana-mana, hingga sampai di tempat pembacaan proklamasi, halaman rumah Soekarno. Pembacaan proklamasi kemerdekaan pun dilaksanakan, dilanjutkan upacara pengibaran bendera.

Bayangin, gimana kalo nggak ada seorang pun yang menuliskan alur kejadian selama peristiwa tersebut berlangsung. Gak yakin cerita tentang detik-detik proklamasi itu sampe kepada kita sekarang. Bayangin, gimana kalo saat itu gak ada yang motoin Soekarno pas lagi baca teks proklamasi, atau motoin pas lagi upacara benderanya. Gak yakin kita sekarang bisa ngebayangin gimana suasana yang sebenernya saat itu. Intinya, sebenernya dokumentasilah yang mengantarkan sejarah itu pada kita. Yang membuat sejarah itu menjadi sejarah bagi kita.

Sebenernya, quotes yang gua sebut di atas tadi juga mewakili perasaan dan ekspektasi gua pas dulu bikin blog ini. Pemikiran itu juga yang terus memotivasi gua buat rajin ngisi jurnal pribadi (baca : diary) gua. Dan walaupun gua nggak punya kamera, gua selalu berusaha buat minta foto-foto kegiatan sama anak yang berkamera. Untungnya jadi divisi jurnalistik, gua jadi punya akses khusus sama hard disk OSIS yang isinya foto-foto kegiatan \m/

Tapi, kenapa harus nulis? Kenapa harus poto?

Mengingat adalah salah satu kelemahan manusia, bro (khususnya gua). Manusia nggak bisa mengingat semua hal.  Manusia bisa jadi lupa akan apa yang dilakukannya di masa silam.

So, sama sekali gak rugi kalo kita mulai mendokumentasikan apa yang kita alami saat ini. Khusus buat cowok nih, gak usah gengsi kali kalo punya diary. Kan diary isinya nggak harus curhatan-curhatan galau. Karena dengan tulisan dan gambar, kita bisa menceritakan dengan nyata kepada generasi penerus kita tentang apa yang pernah kita kerjakan di masa silam, untuk dijadikan pelajaran hidup bagi mereka.

Monday, July 7, 2014

This Two Years -- Experiences



7 Juli. Hmm... Tepat dua tahun yang lalu, di tanggal dan bulan yang sama, untuk pertama kalinya gua menginjakkan kaki di ranah MAN Insan Cendekia Serpong sebagai siswa. Bukan untuk studi banding, apalagi studi tour. Ya, sebagai siswa. 

Dua tahun bukanlah waktu yang singkat, namun entah mengapa bisa terasa sangat singkat. Pas pertama kali nyadar akan hal ini gara-gara hastag #2tahundiIC di twitter, gua sedikit kaget. Hah, udah dua tahun aja? Perasaan baru kemaren gua dateng ke kampus IC, gak tau apa-apa dan gak kenal siapa-siapa. Sekarang? Wuih, banyak hal udah gua pelajari, bersama orang-orang yang baru aja gua kenal dalam dua tahun ke belakang ini.

Dalam posting kali ini, gua mau nyeritain tentang pengalaman-pengalaman yang udah gua dapet di IC, khususnya dalam organisasi dan kepanitiaan acara. Kebetulan banget, gua selalu nyatet di diary kalo gua jadi panitia sebuah acara, hehe. Yah, tentu dua hal itu hanya bisa menggambarkan sedikit sekali pengalaman-pengalaman yang udah gua peroleh selama di IC. Tapi paling nggak, sedikit mewakili lebih baik daripada nggak sama sekali. Hehe (apa dah -_-).

FYI, beberapa kepanitiaan di sini ada yang jadi nominasi di RAwa -duaribuempatbelas- sebagai "Kepanitiaan Ter-Kenang" looh...

Kepanitiaan acara OSIS :

Kelas X, waktunya "see, understand, and just do it!"

Pengawas GAKIC 2012-2013
Sebagai MPS, gua kebagian jatah jadi pengawas acara GAKIC, acara gelar tanding antar kelas Insan Cendekia yang dipenuhi jadwal-jadwal pertandingan olahraga. Acara terlama yang durasinya bisa mencapai tiga sampai empat bulan. Saking banyaknya yang kudu dilaporin, gua sampe beli buku tulis khusus buat laporan pengawasan GAKIC. Gua jadi pengawas GAKIC ini bareng sama Kak Uqi dan Shaffa.

Sie. Lomba JOTS Sonic Linguistic 2013 (World Reconciliation)
(mendingan baca aja coret-coretan tentang Sonlis 2013, klik di sini)

Sie. PLKP iCare 2013
Nah, selama jadi plkp iCare ini, gua merasa nggak terlalu banyak bekerja (maafin gua kakak koor., Kurniawan Adi ._.). Bahkan gua nggak ikut nginep, padahal harusnya semua anak plkp nginep di venue acara puncak semalem sebelum acaranya. Dan pas hari-H, gua malah bantin seksi distribusi buat berkoar-koar dan membantu merapikan antrian pengambilan sembako.
 
Koor. Sie. Hadiah BINGO (Karnaval)
Kali ini gua ngurusin award-award buat kakak kelas XII-nya, serta nentuin hadiahnya. Selain itu, seksi ini juga menentukan souvenir yang bakal dibagiin ke seluruh Astonic dan Foranza. Akhirnya, jadilah sebuah bantal yang unyu maksimal berwarna kuning dengan bordiran lambang BINGO di atasnya. Ohya, yang ini kalo ngumpul ada namanya, MARMUT HITAM! (Ng, sebenrnya gua juga gak tau ini kepanjangan ato artinya apaan -_-) Dan kali ini gua berpartner dengan Qisti sebagi koordinator ceweknya.

Sie. Hadiah Maulid
Pas jadi panitia ini, gua yang ngusulin buat ada hadiah penunjuk-buat baca Quran yang dibuat dari sapu lidi. Gak jelas banget ya? Sampe kasian koor.nya, si Anggia. Haha...

Sie. Acara Legionnaire 2013 (Hidden Legacy)
Ini nih kepanitiaan paling greget yang pernah gua ikuti! Dengan segudang masalah yang malah jadi tantangan buat (khususnya anak acara) untuk menyelesaikannya. Pas opening ceremony-nya aja udah greget, yakni mengambil alih acara Kartini's Day di bagian akhir-akhirnya dengan adegan penculikan Sang Kartini, lalu perkenalan Legionnaire itu sendiri. 
Pas closing-nya apalagi... Rundown acara yang udah dipepet-pepet biar selesai jam 10 malem, mendadak harus diringkes lagi biar selesai jam 9.15. Bayangin vroh, acara OSIS di sebuah malem minggu harus selesai jam 9.15??!?! It's like impossible! Apalgi tiba-tiba koor.nya menghilang entah ke mana -_- Setelah perdebatan dan diskusi yang panjang namun singkat, akhirnya rundown baru pun kami susun. Jadilah ACARA SELESAI TEPAT PUKUL 9.13 MALEM..!!! Sebuah prestasi laah...

Koor. Sie. Dekorasi IC Award 8 (Avatar : The Legend Of Ikbar)
Yang ini juga lumayan greget nih. Awalnya gua sangat kaget ketika seorang Akhmad Ikbar, sang ketua acara nawarin gua jadi koor dekor. Gua yang nggak pernah kelihatan skill-nya di bidang gambar-menggambar dan gunting-menggunting ini malah disuruh jadi koor dekor. Dan beliau(?) berkata, "Gua nggak butuh orang yang ahli ngedekor, Rak. Yang penting bisa ngatur orang aja." Entah mengapa saat itu gua merasa sangat dihargai :')
Awalnya sih biasa-biasa aja, ngumpul-ngumpul, ngediskusiin bareng yang laen sambil bagi-bagi tugas. Sampai tiba menjelang sebelum acara. Gua sakit demam habis stukol *jedderrrrr* dengan keadaan dekor belum ngerjain apa-apa. Akhirnya gua tetep bantu-bantu dikit, tapi lebih banyak ngawasin kerjanya anak-anak (yang cowok) di living. Ya, kala itu beberapa kali gua tidur siang di living, nemenin yang laennya kerja.
Pas hari-H, mau gak mau gua harus terjun ke GSG (dengan keadaan masih demam, udah agak baikan tapi) dan ngawasin kerja temen-temen dekor lainnya. Rasanya tentu saja, tambah capek -____- Tapi puas banget rasanya pas ngelihat GSG udah rapih dengan dekorasi yang terpasang. Suasananya emang sengaja dibuat kayak karnaval-karnaval di Negara Api. Ada banyak lampion tergantung di langit-langit GSG, mimbar tempat bacain award.nya dihias kayak kapal Negara Api, de el el.
Pas malem acaranya, ada satu hal yang bikin IC Award ke-8 ini mungkin diingat selama-lamanya. Pas Ikbar turun dari panggung habis ngasih sambutan, gapura yang terletak di jalan meuju panggung jatoh! Sedikit mengenai gundulnya Ikbar, dan lebih lanjut memecahkan seluruh lampu yang terpasang di jalan tersebut. Okey, barang-barang itu adalah tanggung jawab seksi dekor -_-


Sie. Tutor Jungle (Tour Ahad II 2013)
Dalam acara ini, gua jadi tutor buat anak-anak kecil selama bermain games-games di acara Tour Ahad. Apesnya, gua bareng Azzam kebagian ngurusin anak-anak yang bandel-bandel -_- dan selalu kalah dalam setiap permainan -____________-" Jadilah muka gua dan Azzam belepotan bermacam-macam hal (mulai telor, krim, tepung, sampe lumpur) karena jika suatu kelompok kalah, maka yang dihukum adalah tutornya. Yah, tapi jadi panitia ini lumayan buat ngilangin stress sih sebenernya. Hehe.

Sie. Acara Intern I-Fun 1434 H (Islamic Youth)
Dengan menyingkat secara paksa, seksi ini punya nama ngumpul INSULIN. Di bawah naungan para koor., Giffari dan Debby, selama kurang lebih tiga minggu I-Fun, seksi ini mengurusi keseharian kehidupan berpuasa di IC. Mulai dari lomba bangunin sahur, lomba broadcasting islami, lomba tausiyah, lomba bikin ta'jil, lomba cerdas cermat, ngatur jadwal tiap hari, dll. Gua sendiri kebagian ngurusin lomba tausiyah dan tausiyah ba'da tarawih oleh guru. OC-CC I-Fun (yang internal tentunya) juga kita yang ngurusin. Yang seru itu pas bikin video, kocak-kocak hasilnya. Haha...
Ada sedikit kenangan yang gua inget, yakni pas suatu sore kita ngumpul karena suatu hal, dan ujung-ujungnya malah nangis bareng (sebenernya cuma dua ato tiga orang doang sih yang nangis). Dan itu rasanya sesuatu banget.
Sebenernya eksekusi jadi panitia ini adalah pas kelas XI. Namun, berhubung pembentukan panitia udah dilakukan jauh-jauh hari sejak kita kelas X, ya jadi gua masukin ke kepanitiaan pas kelas X.

Sie. P3K PTS Al-Furqon (angkatan 19)
Sama kaya insulin, eksekusi jadi panitia ini juga pas kelas XI, lebih tepatnya pas nyambut adek-adek kelas X dalam PTS (Pekan Ta'aruf Siswa). Gua yang bukan anak PMR agak kaget ketika ditawarin jadi P3K sama Kak Mila. Tapi, ya gua terima aja. Kali ini gua harus berhadapan dengan anak-anak yang sakit (ato pura-pura sakit ya? :p) gara-gara teler sama yang namanya PTS. Yang lumayan seru itu pas longmarch. Gua kebagian mendampingi salah satu kelompok dari awal sampe akhir rute perjalanan. Ya, seru aja gitu ngeliat mereka maen games.

Yak, kita menginjak pada kepanitiaan yang gue ikuti pas kelas XI...


Sie. Acara Acasana 2013 (Magic)
Yuhuu... Di acara pertama aja gua udah jadi panitia. Hehe.. Ocit sang koordinator yang milih gua buat jadi bawahannya. Ini pertama kalinya gua satu kepanitiaan acara bareng Topek, bahkan sampai sekarang masih menjadi yang satu-satunya (oke, ga terlalu penting emang ._.). Dari total tiga lomba (video mantra, U 'n I alias semacam Q 'n S gitu, dan akrobat), gua jadi penanggung jawab (PJ) lomba akrobat. Dan sekali lagi, apa yang jadi tanggung jawab gua menghasilkan perpecahan kaca(?). Kan kelas pemenang akrobat tampil pas closing ceremony, dan si aktor utamanya loncat-loncat sampe kena meja kaja dan PRANG! Semua orang histeris seketika. Gua mau nagis.

Sie. PLKP GAKIC 2013-2014
Yahh... Kerjaan plkp ya gitu-gitu aja. Angkat-angkat, mindah-mindah barang. Tapi, ada kerjaan ekstra seksi plkp di acara terlama ini. Bersama seksi lomba basket, bersama kami mengeringkan lapangan basket kalo ujan... Yeay! -___- Kali ini gua langsung jadi bawahannya sang master plkp angkatan, yang juga sebagai pendiri AMPLAS (Academy PLKP Astonic), Muhammad Aunal Muthi..!!!

Sie. Konsumsi Civitas Day 2013 (Superhero)
Salah satu doa gua buat jadi seksi konsumsi pun terkabul dalam acara yang memperingati hari guru ini. Enak ya, ternyata. Bisa ngadem di ruang fitness dikelilingi bau makanan. Haha. Terima kasih buat Annisa NPS yang udah narik gua jadi anak konsum.

Sie. MM-Dokum Muzdalifah (Mabit I) 1435 H
Walaupun namanya seksi MM-Dokum, tapi gua kebagian kerjaan dokumentasi doang. Ya iyalah, orang gua nggak bisa apa-apa dengan segala urusan multimedia itu. Tapi, paling nggak gara-gara acara ini gua jadi pernah menyandang panitia multimedia B) Hoho...

Koor. Sie. Hadiah IC Award 9 (Jumanji)
Sebelum pembentukan panitianya aja, gua udah ngarep pengen jadi panitia acara ini. Apa pun itu. Selain karena sahabat gua yang jadi ketua acaranya, rasanya ada sebuah kenangan yang "memanggil" gua buat jadi panitia lagi di IC Award. Dan pada suatu hari, Topik sang ketua acara nawarin gua buat jadi koor hadiah di acaranya. Nah, gua terima tawaran itu, dan gua jadikan hadiah award di IC Award 9 ini adalah berupa binder dengan cover yang eksklusif...

Bendahara Harmonika 2014
Sekali lagi gua dikagetkan dengan sebuah tawaran kepanitiaan. Bendahara? Gua aja selalu panik kalo liat duit gede, apalagi kalo megang dan ngaturnya. Tapi, Kukun sang ketua acara bilang gini pas gua nyaris nolak, "Gua butuh orang yang asik, Rak. Masalah duit-duit itu, ntar kita urusin bareng-bareng laah." Gua jadi nggak bisa nolak. Selain karena Kukun "nyogok" pake Kitkat, kali ini gua kembali merasa sangat dihargai.
Dan akhirnya, itulah yang terjadi. Gua nggak menjalankan tugas dengan baik, kecuali meramaikan suasana ngumpul. Proposal yang bikin sekretaris, dan buat LK gua nyuruh Farras si bendahara II. Maaf banget ya, Kun ._.

Koor. Sie. Lomba JOTS Sonic Linguistic 2014 (Ancient Valor)
(mendingan baca aja cerita tentang betapa kerennya Sonlis 2014, klik di sini)

Sie. Beasiswa iCare 2014
(mending tungguin posting tentang iCare 2014 aja ;)

Sie. Acara PTS An-Naml (angkatan 20)
Ini... Ini masih dalam proses. Gak banyak yang bisa gua ceritain sekarang, kecuali anak-anak anggotanya yang pada asik-asik semua. Apalagi koor.nya orang-orang hebat semacam Azzam dan Nahla.

Dari semua jenis kepanitiaan di IC, gua cuma belom pernah nyobain tiga macem : Humas, Publikasi, dan Bazaar. Wew, gua merasa sangat fleksibel sekarang(?). Hahaha

Pelangi di Matamu


Di tengah-tengah kesibukan ngurusin RAwa (emang sibuk yah? ._.), gua mau share sebuah lirik lagu nih. Lagu yang menurut gue galau banget pake z, jadi bangetz! Tau lagu Pelangi di Matamu? Yak, lagu yang dibawakan oleh Jamrud ini bait pertama dinyanyikan oleh seorang cewek, kemudian sisanya suara cowok. Nih, liriknya...

(suara cewek)
30 menit kita disini
tanpa suara
dan aku resah
harus menunggu lama ..
kata darimu



(suara cowok)
mungkin butuh kursus
merangkai kata,
untuk bicara
dan aku benci
harus jujur padamu,
tentang semua ini

jam dinding pun tertawa
karna kuhanya diam dan membisu
ingin kumaki diriku sendiri

yang tak berkutik di depanmu

ada yang lain di senyummu
yang membuat lidahku
gugup tak bergerak
ada pelangi di bola matamu
dan memaksa diri tuk bilang
"aku sayang padamu" (2x)
 

(seakan memaksa dan
terus memaksa)
mungkin Sabtu nanti
kuungkap semua,
isi di hati
dan aku benci
harus jujur padamu
tentang semua ini ......


Sebenernya, lirik lagu ini nggak galau-galau amat sih. Tapi entah mengapa, gue kebayang sebuah cerita yang sangat nggak ada hubungannya sama lagu ini, yang kalo dihubung-hubungin sama lagu ini jadi nyesek banget kayaknya.

Coba bayangin, ketika pada hari Sabtu yang dimaksud, si cowok dengan susah payah berhasil menyatakan perasaannya kepada si cewek. Namun, si cewek malah nolak dengan alesan dia udah menerima cinta dari seorang cowok lain, dan si cewek itu baru jadian dalam tenggat waktu antara "pertemuan-tiga-puluh-menit-tanpa-suara dengan si cowok" hingga "Sabtu yang dimaksud".

How?