Monday, December 28, 2020

QWC #4: Batas

Kali ini mau bahas pemikiran random aja ya. Hehe.

Beberapa waktu belakangan ini, aku cukup sering mendapat kabar kawan-kawan yang sedang struggling menghadapi kerasnya dunia. Ada yang mengeluh, ada yang mempertanyakan batas kemampuannya, ada yang bertanya apakah ia mampu melewatinya. Ya, kupikir wajar saja, ini memang masa sulit bagi sebagian besar manusia yang hidup di bumi.

Aku jadi mikir. Selama aku hidup ini, kayaknya aku belom pernah mendapati diriku berada di posisi yang benar-benar di limitnya. Entah itu limit kesabaran, kemampuan, atau apapun itu. Of course, I’m struggling for something, tapi kayak belom pernah sampai berpikir, “Aku mampu ga ya?” ya karena masih merasa mampu-mampu aja dalam menghadapi apapun.

Kemampuan yang aku yakini itu bukan berasal dari diriku sendiri ya. Tentu saja tiada daya dan upaya melainkan dari Allah. Lalu aku yakin, aku punya orang-orang baik di sekelilingku yang bisa menguatkan aku. Itu yang kusebut merasa mampu. Karena kalo bersandar hanya pada kemampuan diri sendiri, sudah jelas diri ini sangat terbatas. Namun aku yakin, semesta tahu caranya membuat batasku menjadi tak terbatas.

Oke, bergeser ke hal random lain. Tadi habis ngobrol dengan salah seorang kawan yang sedang berjuang menghadapi badai dalam kehidupannya. Ia berkata, “Badai pasti berlalu, kan?” Dengan segala hormat, ingin kukatakan bahwa aku kurang sepakat dengan gagasan itu. Mengapa?

Menurutku, pernyataan optimis itu justru seperti membuat kita bergantung pada berlalunya sang badai. Badai mungkin akan berlalu, tapi bisa jadi suatu saat ia akan datang lagi dengan daya hancur yang lebih hebat. Siapa yang tahu, kan. Jadi aku lebih memilih untuk menanamkan bahwa “Badai datang untuk menguatkan kita.” Setidaknya, dengan berpikir seperti itu, kita jadi tidak terlalu bergantung pada tenangnya alam semesta dan bisa merasa siap dengan segala jenis badai.

Bisa jadi, badai yang datang itu justru membuat kita sadar akan batas kita. Lebih dari itu, ia mampu mendorong kita untuk melewati batas kita untuk menjadi lebih dan jauh lebih kuat lagi di kemudian hari. Masalah mungkin tidak akan berhenti menghampiri kita. Jalan di depan mungkin tidak akan jadi lebih mudah. Tapi ketahuilah, pada saatnya kita pasti akan menjadi lebih kuat untuk menjalaninya.

Dan jika kau benar-benar merasa berada di titik sulitmu, ingatlah janjiNya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Jadi, selama kamu masih menghadapinya, berarti kamu masih mampu dong! Yeayy!!!

Semangat untuk siapapun kamu yang sedang berjuang! Tetap melangkah kawan. Karena jika kamu tak melangkah lagi, berarti kamu akan berhenti. Ea.

 

QWC #4,

Senin, 28 Desember 2020 

Sunday, December 27, 2020

QWC #3: Hehehe

Tuh kan, baru hari ketiga aja udah bolong postingnya wkwk. Dasar emang Raka ini, susah banget diajak istiomah. Mohon maklum ya pembaca, berhubung kemarin kabar kalo aku positif baru beredar ke masyarakat, jadi mayan banyak fans yang menghubungi nanyain kabar. Jadi seharian kemarin banyak nelpon dan video call sana sini. Seneng deh, banyak yang mendukung dan mendoakan. Alhamdulillah.

Tentu saja kami saling memberi kabar. Dari situ, aku menyadari bahwa setiap dari kami memiliki jalan juang dan ujiannya masing-masing. Ada yang sedang diuji dengan amanah akademiknya, ada yang diuji dengan masa pencarian kerja, ada yang sedang berjuang mengasuh keluarganya, ada yang baru menapaki perjalanan baru di tanah orang, dan lain sebagainya. I was feeling glad to know that my friends are doing really great in their own way. Dan kalian tahu apa yang lebih indah dari itu? Aku menyadari betul bahwa kami saling mendoakan.

Yeah. Dari sini aku teringat akan salah satu potongan kalimat dalam sebuah buku yang ditulis oleh seorang ustadz terkenal. Bunyinya, “Ukhuwah itu bukan pada indahnya pertemuan, tapi pada ingatan seseorang terhadap saudaranya di dalam doanya.”

Well, apa pun yang sedang kalian hadapi, aku harap kalian selalu bisa melewatinya dengan uhuy!



Astonjog dan Embun Netes, keluargaku yang paling luv luv wes pokoke!


QWC #3,

Ahad, 27 Desember 2020

Friday, December 25, 2020

QWC #2: Melihat Semesta

Kali ini aku mau cerita soal salah satu fasilitas hotel yang sangat tidak aneh, yakni TV kabel. Meski tidak aneh, namun tentu saja TV kabel ini menjadi salah satu fasilitas “mewah” bagiku yang bahkan sangat jarang menonton TV sehari-harinya. Apalagi TV kabel.

Setiap kali lagi nginep di hotel dan pengen nyalain TV, aku pasti langsung tertuju pada channel National Geographic Wild alias NatGeo Wild. Ya, semacam cabangnya NatGeo yang secara spesifik membahas tentang kehidupan satwa liar di alam bebas.

Sedari kecil, aku memang sudah menyukai konten-konten berbau hewani. Dulu, setiap Bapak nawarin buku bacaan, aku selalu minta dibelikan buku pengetahuan hewan atau dinosaurus. Setiap nginap di rumah eyang, aku selalu request untuk didongengi cerita-cerita fabel macam Si Kancil, Kelinci vs Kura-Kura, dan sebagainya. Dan of course, NatGeo Wild menjadi favoritku setiap kali nemu TV kabel.

Sayangnya (cie sayang), di hotel tempatku isolasi kali ini gaada NatGeo Wild dong. Hiks. Sedih. Ga ding, lebay. Hahaha.

Aku pun menerima kenyataan dengan menonton induknya si NatGeo Wild, yakni NatGeo itu sendiri. Di NatGeo, konten yang ditampilkan lebih luas lagi. Mereka membahas budaya dari berbagai daerah, keindahan lansekap di berbagai negara, sains, sejarah, hingga otomotif. Well, tetap menjadi tontonan yang menghibur dan seenggaknya lebih bermanfaat lah.

Acara kesukaanku tentu saja saat mereka menampilkan keindahan lansekap di berbagai negara serta budaya yang berkembang di sana. Kayak asik aja gitu, oh ada ya di daerah ini orang-orang yang hidup dengan cara kayak gitu. Oh, di daerah situ ada ya pemandangan seindah itu. Kemudian aku random berpikir, “Wah, beruntung sekali aku. Nggak perlu jauh-jauh pergi ke sana, udah bisa menikmati keindahan daerah lain dari TV.” Mana hasil shoot-nya NatGeo kan udah pasti bagus-bagus yak.


Ya Allah, jadi pengen suatu saat nanti bisa beneran datang dan mengalami sendiri perjalanan untuk menemukan pemandangan-pemandangan indah itu. Pengen bisa melihat betapa indahnya semesta ciptaanMu ini dengan mata kepala sendiri. Yha, diniatin dulu gapapa ya, siapa tahu nanti bisa beneran direalisasikan ;)

 

QWC #2,

Jumat, 25 Desember 2020

Thursday, December 24, 2020

QWC #1: Quarantine Writing Challenge

Okay, I don’t know how to start this. So maybe I’ll just let it flow.

Anggap saja cerita ini berawal di hari Senin kemarin, saat pimpinan di kantorku menginstruksikan semua karyawan untuk melakukan tes Rapid. Bukan tanpa alasan, beberapa waktu belakangan ini memang banyak orang di kantor yang jatuh sakit. Untuk memastikan situasi, kami pun melakukan tes Rapid. Dari situ, didapatilah 3 orang dengan hasil reaktif, termasuk aku.

Oke, para reaktif tadi langsung diarahkan untuk melakukan tes Swab keesokan harinya. Hari Selasa, kami bertiga berangkat ke RS rujukan perusahaan di Surabaya. Hasilnya baru bisa diketahui satu hari berikutnya, jadi kami menginap di hotel andalan perusahaan malam itu. Ya sudah, malam itu aku bersantai saja menikmati kamar hotel. Tidak terlalu khawatir apalagi deg-degan menanti hasil tes Swab.

Apapun hasilnya, aku merasa siap-siap saja. Kalau misal negatif, berarti besoknya aku bisa sekalian pulang ke Kediri dalam rangka liburan, of course. Kalau positif, ya mau tidak mau harus menjalankan prosedur berikutnya yakni isolasi mandiri. Aku sendiri merasa dalam kondisi yang sangat sehat hari itu. Tapi kalau memang ternyata hasilnya positif, aku sudah persiapan buat isolasi mandiri.

Dan seperti yang bisa kalian tebak dari judul posting ini: hasilnya positif. Dari tiga orang yang kemarin tes Swab, ada dua orang yang positif dan itu termasuk aku. Bye libur panjang di rumah, aku harus isolasi dulu~

Sembari menunggu jadwal swab 5 hari lagi, aku diisolasi di sebuah hotel di Surabaya. Makan 3 kali sehari sudah ditanggung dan diantar ke kamar. Katanya juga dapat fasilitas laundry yang diangkut tiap Rabu dan Jumat. Yang agak di luar ekspektasi adalah, aku sekamar sama seseorang yang sama-sama positif dari perusahaan lain. Padahal awalnya aku ngira kalau isolasi mandiri tuh ya bener-bener bakal sendirian di dalem kamar. Tapi gapapa sih, jadi ada temen ngobrol hehe.

Ya, anggep aja isolasi mandiri ini sebagai liburan lah ya. Lebih enak malah di kamar hotel, cuma ya gabisa kemana-mana aja hahaha. Entah sampai kapan aku bakal di sini. Tapi semoga aja swab yang kedua nanti hasilnya udah negatif, jadi bisa langsung pulang.

Nah, karena aku pikir ke depan bakal gabut parah, aku sok ide aja buat buat bikin ini, Quarantine Writing Challenge alias QWC. Rencananya, setiap hari aku bakal post sesuatu di blog ini. Bisa jadi cerita curhat biasa, hal detail yang dijumpai hari itu, nostalgia masa lalu, atau pikiran random aja. Dengan ini, setidaknya aku bisa memicu diriku buat menghasilkan sesuatu di tengah segala keterbatasan karantina ini. Doakan semoga bisa istiqomah ya!

Oiya, mau pamer dikit kalo tadi sore dapet kiriman asupan dari fans. Hehe, makasih yaa!


QWC #1,

Kamis, 24 Desember 2020

Saturday, December 5, 2020

Sekilas Kabar

Hai, masyarakat! Ternyata udah lama banget ya, aku ga update blog lagi. Posting terakhir pun intro-nya juga sama: “Udah lama ga update blog lagi.” Kadang agak sedih sih, kenapa jadi jarang update hiks. Padahal ada banyak banget pengalaman baru yang bisa diceritain. Waktu buat nulis juga sebenarnya selalu ada kalau mau menyempatkan. Yah, tapi tetap kembali ke niat sih. Emang lebih sering males aja hahaha.

Anyway, di posting ini aku mau sekalian ngabarin kalau aku udah penempatan guys! Alhamdulillah, setelah melalui rangkaian diklat yang cukup menguras jiwa raga selama + 7 bulan, sekarang aku sudah mulai kerja beneran dan dianggap sebagai karyawan tetap. Qadarullah, dikasih kesempatan buat belajar dan berkarya lebih banyak di Pegadaian Kantor Area Pamekasan. Lingkup kerjanya meliputi seluruh cabang dan unit pelayanan se-Madura. Kebetulan, seluruh outlet Pegadaian di Madura adalah outlet syariah. Hari ini, tepat sudah aku tuntaskan 5 minggu pertama kerja di sini.

Belum banyak hal menarik sih kalau soal pekerjaan, aku sendiri masih banyak beradaptasi dengan ritme kerja di sini. Lebih banyak di kantor, duduk di depan laptop, berkutat dengan data-data, excel, dan datastudio. Yang bikin bersyukur banget adalah, orang-orang di sini baik semua! Di saat beberapa kawanku di area lain mengeluh karena mendapatkan buddy (semacam tutor sebaya dari MDP/SDP angkatan sebelumnya) yang kurang cocok, aku di sini malah kayak merasa dapat 4 buddy sekaligus. Semuanya baik dan nggak segan ngajarin soal kerjaan, bersyukur buanget wes pokoke!

Oke, demikian sekilas kabarku gengs. Belum, belum pengen cerita apa-apa kok. Hehehe. Semoga nanti kalau ada cerita menarik lagi, aku ngga males buat update di sini yaa~


Saturday, May 23, 2020

Ramadhan Tahun Ini, Beda!

Beberapa waktu lalu, ada kawan yang mengingatkan, “Kamu ga pengen ngupdate blogmu? Tulisan terakhirmu udah hampir setahun yang lalu lho.” Lah iya juga yak. Udah lama banget nih aku nggak nulis di sini. Kalo dilihat postingan terakhir, itu udah hampir setahun yang lalu!

Sebenarnya ada banyak hal yang terjadi selama hampir setahun ke belakang. Perjuangan nggarap skripsi sampai lulus, wisuda, mencari-cari kerja, menikmati so-called gap year bersama Ailesh, part-time di perpus, dolan kesana kemari, sampai huru-hara urusan hati. Mantap ga tuh wkwk. Tapi, entah mengapa malah jadi kurang mood aja nulis di sini gitu. Terus malah lari nulis di platform lain hehe.

Alright, I’m back here fellas!

Alhamdulillah, Allah masih memberi nikmat umur sehingga bisa berjumpa dengan Ramadhan tahun ini. Setelah 4 tahun sebelumnya lebih banyak menghabiskan bulan Ramadhan di perantauan, di Jogja, dengan masing-masing cerita indahnya.

Tahun pertama Ramadhan lebih banyak eksplor kajian dan buka puasa gratis di masjid-masjid seantero Jogja. Tahun kedua fokus full power jiwa raga buat ngurusin RDF (Ramadhan di Fisipol) meski di tengah badai UAS. Tahun ketiga sambil sibuk nyiapin KKN, rapat dan danusan hampir tiap hari. Tahun keempat, selain nggarap skripsi pagi-sore tiap hari di perpus, juga lebih banyak menghabiskan qtime bersama orang-orang kesayangan di perantauan.

Nah, sekarang aku mau cerita tentang Ramadhan tahun ini nih. Di tengah kondisi pandemi covid-19 ini, sebagian dari kita lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Begitu juga denganku. Sebelum Ramadhan kemarin aku baru saja meninggalkan Jogja untuk menunaikan panggilan diklat pekerjaan di Surabaya (Alhamdulillah akhirnya dapet kerja juga guys, hehe). Terus, beberapa hari kemudian dipulangkan untuk menjalani Learning From Home (LFH). Diklat LFH ini pun masih berlangsung sampai masuk Bulan Ramadhan ini.

Bisa dibilang, kesibukan utama di Ramadhan tahun ini ya LFH ini. Tiap hari sejak Senin-Sabtu, sejak jam 08.00 – 17.00, full dengan webinar, resume materi, e-learning, pretest-postest, dan sesekali ujian. Belum lagi kalau ada tugas tambahan, bisa kerja sampe tengah malem. Full banget rek, tanpa ampun pokoknya! Sering mata sampe kesemutan gara-gara terlalu sering ngelihat layar, kuping juga sering kelilipan karena kelamaan kecantolan headset. Boleh dibilang diklatnya memang berat, tapi mau nggak mau harus dijalani sebagai proses pembelajaran sebelum siap terjun dengan amanah pekerjaan nantinya.

Nah, di tengah-tengah LFH yang menguras lahir batin tersebut, Allah masih sangat baik dengan menghadirkan bentuk-bentuk hiburan lain. Kondisi pandemi Covid-19 ini, seperti yang sempat aku mention tadi, ternyata mengasah kreativitas orang-orang untuk tetap produktif dan menebar manfaat dari rumah masing-masing. Dan bersyukur sekali ketika dua komunitas yang sudah kuanggap sebagai rumah sendiri juga punya agenda dalam mengisi Ramadhan from home ini.

Diawali saat beberapa hari sebelum Ramadhan, Astonic berhasil konkrit mengadakan Tarhib Ramadhan Online. Yang lebih keren lagi, wacana buat ngadain kultum online hariannya juga konkrit dongg. Acara ini diberi nama OBRAS alias Obrolan Ramadhan Astonic. Acara ini rutin diadakan pada saat ba’da subuh setiap hari selama bulan Ramadhan.


Pemateri dan pendengar OBRAS berasal dari kalangan Astonic sendiri, kemudian rekamannya dipublikasikan secara umum. Berhubung pematerinya dari kita-kita juga, jadilah topik yang dibahas tiap harinya sangat beragam. Mulai dari teologi, teladan nabi, psikologi, finance, kesehatan, dll. Alhamdulillah aku sendiri dapat kesempatan berbagi dan memantik diskusi tentang kewirausahaan sosial di hari ketiga.

Bangga banget lah pokoknya sama Astonic. Jujur, selama ini aku mikir kalau Astonic itu nggak bisa diajak membicarakan hal-hal yang serius. Tahu sih orang-orangnya pada keren kalau lagi aktif di kampus atau tempat kerjanya masing-masing, tapi kukira tinggal sisa main-main becandaannya doang kalau lagi balik ke Astonic. Anggapan pun tinggal anggapan. Nyatanya, OBRAS tiap hari selalu keren terus topik bahasannya hiks. Terima kasih banyak para panitia yang sudah meluangkan waktunya untuk mikirin dan ngurusin ini! Maaf ya, ternyata aku lebih sering skip :’)


Nggak cuma OBRAS di Astonic, keluarga JMF 2015 “Embun Netes” pun punya cara yang nggak kalah asyik buat menyemarakkan Ramadhan tahun ini.

Suatu hari menjelang Ramadhan, aku iseng aja ngechat di grup, “Rek, Ramadhan gaada rencana apa-apa nih?” Nggak disangka, ternyata ada aja yang antusias buat bikin sesuatu dalam rangka menyemarakkan Ramadhan. Kemudian terkumpul beberapa ide untuk dieksekusi. Setelah mengalami serangkaian drama dalam persiapannya, akhirnya berjalanlah program Arisan Ilmu Ramadhan (atau sebut saja AIR).


AIR ini konsepnya, semua warga grup diberi kesempatan untuk berbagi ilmu. Setiap harinya digilir ada satu orang yang ngisi. Materi ilmu yang dishare bebas asal masih seputar wawasan islami. Sejak awal, aku berusaha agar AIR ini tidak memberatkan para warga grup, jadi dibuat konsepnya semudah dan sesederhana mungkin. Dan lagi-lagi, sangat nggak disangka ternyata para pengisinya malah menyusun materinya pada niat banget. Bener-bener di luar ekspektasi lah pokoknya. Terharu banget deh :’)

Lebih senengnya lagi, program AIR ini berhasil memunculkan kembali orang-orang yang selama ini cuma sider di grup. Maklum, angkatan JMF 2015 ini jumlahnya lebih dari 50 orang, jadi nggak semuanya sering muncul di grup. Nggak jarang juga AIR memicu diskusi yang mayan panjang karena materi yang dihadirkan berasal dari berbagai macam perspektif.


Dan tibalah kita di hari ini, hari ke-30 Ramadhan 1441 H. Alhamdulillah, sisa beberapa jam lagi menuju berakhirnya Ramadhan tahun ini. Seneng sih karena masih dikasih kesempatan buat silaturahmi sama temen-temen lewat OBRAS, AIR, bukber online, sampai video call random. Meski sebenernya di satu sisi, aku agak sedih juga sih karena merasa kurang maksimal aja Ramadhan tahun ini. Full sebulan cuma di rumah terus, gabisa ke masjid, kerjaan yang numpuk jadi sering lalai ibadah sunnah. Astaghfirullah. Yah, semoga kita belajar banyak pengalaman dari Ramadhan tahun ini. Aamiin. 

Saturday, May 25, 2019

Rihlah Ramadhan: Embun Netes ke Pantai!


Alhamdulillah, gue dan temen-temen telah berhasil merealisasikan wacana yang udah lama menjadi wacana. Akhirnya kami bisa rihlah sekaligus silaturahmi ke Desa Petir, tempat dulu kami mengadakan kegiatan Andalusia alias perayaan Idul Qurban. Tak lupa, mumpung udah sampe Gunung Kidul, kami juga sempatkan main ke pantai. Banyak hal menarik yang terjadi selama dua hari kemaren, sehingga rihlah ini menjadi bukan rihlah biasa.


Wacana rihlah ini berawal dari Toko Jilbab Mulai, tempat Aufi bekerja. Suatu sore, gue sengaja mampir ke sana sebentar buat say hello ke Aufi yang sedang sibuk bekerja di toko. Ngobrol dikit, kemudian tiba-tiba keinget kalo kami udah lama ga silaturahmi ke Petir. Kami pun woro-woro tentang rencana rihlah sekaligus silaturahmi sekaligus bukber ini di grup JMF angkatan 2015. Singkat cerita, terkumpullah gue, Okky, Aufi, Lintang, Yaya, Nisa, Faisal, dan Aul.

Jangan tanya gimana beratnya memastikan wacana tidak menjadi wacana kalo isinya orang-orang ini. Mereka adalah orang-orang yang sibuk di jalannya masing-masing. Perlu kesabaran ekstra selama tiga minggu lebih dan sampe mengalami dua kali pengunduran. Bahkan Yaya dan Lintang akhirnya gajadi ikut berangkat.

Yaps, Kamis kemarin pun kami beneran berangkat, dengan segala huru-hara kurang motor dan drama susul-menyusul. Gue, Aufi, Nisa, dan Aul berangkat duluan habis ashar. Faisal nyusul abis maghrib, sedangkan Okky nyusul abis teraweh katanya. Nah, ada yang menarik nih pas perjalanan berangkat.

Perjalanan kami berempat relatif lancar. Sampe udah masuk daerah Dadapayu, ban gue tiba-tiba bocor. Gue pun tertinggal dari rombongan. Wadaw, mana daerah ini udah sepi lagi, udah lewat jauh banget dari Kota Wonosari. Senja di langit juga mulai pudar, tanda maghrib udah mau datang. Yaudah, mau gak mau gue gas pelan-pelan banget motornya. Untungnya, ga sampe 5 menit gue ngegas pelan-pelan, gue ketemu tempat tambal ban. Alhamdulillah, Allah masih sayang sama gue.

Maghrib pun tiba dan gue buka di tempat tambal ban. Pas udah selesai, gue melanjutkan perjalanan. Gue sempet belok ke sebuah masjid di pinggir jalan untuk sholat maghrib dulu. Pas di tempat wudhu, gue ngelihat ada sosok yang kayak gue kenal. Ternyata orang itu adalah Mas Nardi. Beliau adalah salah satu warga lokal yang paling banyak membantu urusan perkambingan pas Andalusia gue, tahun 2016. Sejak dari situ, gue belom pernah lagi ketemu sama beliau, bahkan pas beberapa kali silaturahmi ke Petir sebelum ini pun ga pernah ketemu.

Mas Nardi dan gue, 2016-2019

Ternyata Mas Nardi juga sedang dalam perjalanan dan mampir ke masjid ini untuk sholat maghrib. Masyaallah. Setelah hampir 3 tahun gak ketemu, kok ya ternyata Allah pertemukan di masjid random kayak gini. Habis sholat, kami pun mengobrol sebentar sebelum melanjutkan perjalanan masing-masing. Gue gas mayan kenceng di tengah gelapnya jalanan tanpa lampu.

Sekitar seperempat jam kemudian, gue sampe di rumah Pak Tar, tempat kami biasa singgah kalau lagi silaturahmi ke Petir. Para akhwat baru pada selesai sholat maghrib. Kemudian, kami makan bareng di ruang tengah. Tak lama setelah selesai makan, adzan isya berkumandang. Kami pun berangkat ke masjid untuk sholat isya dan teraweh.

Selesai teraweh, kami mendapati Faisal udah ada di dalem rumah. Kami berlima pun melingkar di ruang tengah. Awalnya ngobrol gaje biasa, hingga ada yang usul buat main truth or truth. Bermainlah kami, saling mengulik dan menggali satu sama lain. Aku nggak nyangka kalo ToT bisa seseru ini kalo mainnya bareng sama mereka. Di titik ini, gue baru sadar bahwa ternyata gue nggak pernah bener-bener mengenal temen gue sendiri, bahkan mereka yang selama ini udah kuanggep temen deket di kampus.

Jamaah Menjulid Fisipol

Kami berlima masih heboh sampe jam sebelasan malem. Sampe tiba-tiba terdengar suara motor parkir di depan rumah. Ternyata, Okky beneran nyusul dan sampe kesini malem ini. Okky pun langsung join ke dalam lingkaran julid barokah (wkwk?) tersebut. Bedanya, saat Okky join, kita ubah permainannya jadi ToT versi 2.0.

Konsep ToT-nya kita ganti jadi model muhasabah. Instead of “ngejulidin orang di depannya langsung”, kami ganti konsep jadi: masing-masing dari kami kedapatan giliran untuk dinilai dan diberi nasehat oleh semua orang. Semacam forum first impression, tapi bedanya di sini kami sudah saling kenal lebih dari tiga tahun.

Dari sini, keluarlah segala macam unek-unek. Terutama bagi mereka, semua kecuali gue, yang pernah kerja bareng sebagai PH JMF. Prasangka-prasangka yang selama ini terpendam pun luruh satu per satu. Di sisi lain, masing-masing dari kami semua pun jadi berintrospeksi diri. Semakin larut, suasana menjadi makin syahdu dengan sendirinya.



Lewat tengah malam, satu per satu dari kami pun mulai tumbang tidak kuat melanjutkan forum, terlelap seadanya di tikar ruang tengah. Hingga akhirnya tersisa gue, Okky, dan Nisa yang mengakhiri forum sekitar jam setengah dua pagi. Sayang banget, mereka yg tidur duluan gabisa menyaksikan sebuah obrolan super gemash dari duo masul-sekjen JMF yang konon gapernah bisa akur sejak dulu ini wkwk.

Besoknya(?), sekitar jam setengah empat, satu per satu dari kami mulai bangun. Ibuk sudah sibuk di dapur menyiapkan makan sahur buat kami. Kami pun makan sahur bareng, lalu berangkat ke masjid untuk sholat subuh. Bakda sholat subuh, ternyata warga desa meminta kami untuk menyampaikan tausiyah. Majulah Faisal ke mimbar membawa materi ukhwah islamiyah, dengan bumbu ukhwah di antara JMF dan Desa Petir yang sudah terjalin selama beberapa tahun belakangan ini.

Habis subuh sih pengennya nggak tidur lagi ya. Gue, Faisal, dan Okky keluar rumah dan bercengkrama di sekitar pengkolan jalan aspal. Kami sempat menyapa tiga-empat warga lokal yang lewat situ. Sedangkan para akhwat malah pada antri mandi. Singkat cerita, kami pun siap berangkat main ke pantai.

Nongki di pengkolan jalan

Perjalanan ke sana memakan waktu sekitar 45 menit. Setelah melewati jalanan berbatu yang menyulitkan (bahkan di akhir aufi sampe turun dari motor wkwk), kami pun sampe di Pantai Jungwok. Pantai kebetulan sangat sepi, hanya ada kami pengunjung di sana.

Gausah ditanya lagi lah. Buat gue, pantai selalu menjadi tempat paling sempurna buat melepas penat. Apalagi berangkatnya bareng orang-orang ini. Kami pun berhamburan, foto-foto, main pasir, main air, dll dll. Gue sendiri sibuk menangis dalam hati saat curhat kepada deburan ombak pantai *tsaahh. Kami juga sempat duduk melingkar di atas pasir untuk menyelesaikan obrolan yang belum tuntas semalam. Suasana pun makin syahdu karena suara ombak dan hembusan angin ikut nongki bareng kami.




Pak menko lagi mikirin apa nih wkwk

Dari pantai, kami balik lagi ke rumah Pak Tar. Bercengkrama bentar, beres-beres, lalu pamit pulang sekitar jam 9. Perjalanan pulang pun pake drama segala. Pas udah masuk Kota Wonosari, Nisa bilang kalo dia ngantuk banget. Kami pun minggir ke pom bensin. Karena ga kuat nahan ngantuk, Nisa dan Aufi pun istirahat dulu di musola pom bensin. Sedangkan Faisal dan Aul tetap melanjutkan perjalanan karena buru-buru ada agenda. Gue dan Okky mau ga mau nungguin Nisa dan Aufi. Kami berdua pun sempet jumatan dulu di Masjid Agung Wonosari. Setelah merasa cukup istirahat, kami berempat pun gaspol balik ke Jogja.

Masuk ke epilog nih ye.

Sekali lagi, gue mau bilang makasih sebanyak-banyaknya sama kalian semua. Berkat kalian, perjalanan kali ini jadi semenyenangkan ini. Rihlah yang ga cuma seneng-seneng haha-hihi, tapi sarat akan makna ukhwah dan muhasabah. Segala kesabaran gue menanti wacana, serta drama menjelang berangkat yang sempet bikin gue bete, rasanya terbayar lunas. Gue juga tau kalian pasti mati-matian meluangkan waktu buat ini. So, thanks guys. You rocks!

Gue jadi bener-bener bersyukur atas apapun yang udah kita lalui selama dua hari ini, lebih-lebih lagi apa yang udah kita lalui bareng selama hampir empat tahun belakangan ini. Mungkin kita udah lama ga bener-bener saling bersua satu sama lain untuk saling bercerita. Maka, semoga rihlah yang sangat singkat ini bisa menjadi simpul pengikat ukhwah di antara kita, sekaligus penyemangat dalam menghadapi hari esok kita masing-masing. Ada yang baru wisuda, ada yang masih berjuang skripsi, ada yang masih numpuk amanah organisasinya. Apapun itu semoga segala urusan kita masing-masing Allah beri kelancaran, yaa. Dan semoga, suatu saat nanti kita diberi kesempatan buat jalan-jalan bareng lagi kek gini, bareng temen-temen yang lain. Aamiin.