Yak, tahun lalu gue menetapkan bulan Mei sebagai bulan ter-"ya begitulah". Maka, tahun ini yang menjadi bulan ter-"ya begitulah" adalah JUNI. Ada apa saja di bulan Juni ini, sampe jadi bulan ter-"ya begitulah"?
Bagi gue, Juni ini bulan yang berat. Berat banget. Berat banget, terutama buat jiwa, mental, hati... AH!
Bulan ini gue harus berpisah dengan banyak hal. Perpisahan. Mau positive thinking, mau ngambil baik-baiknya aja, ato mau gimana juga, namanya perpisahan itu nggak enak. Mau perpisahan yang udah jelas-jelas bakal terjadi, apalagi perpisahan yang nggak bisa diduga sebelumnya. Lebih-lebih jika perpisahan ini membuat kita merasa kehilangan. Kehilangan teman baik, teman becanda, teman yang sangat hebat dalam sebuah tim, teman seru-seruan, teman curhat, teman ketawa bareng; teman yang kalo kita denger suaranya, kita bisa merasa bersemangat lagi.
Oke, lupakan sebentar tentang kehilangan yang nggak diduga itu. Toh itu bukan salah siapa-siapa. Toh juga nggak ada yg pengen itu terjadi.
AAAAHHHHHHHHHH!!!!!!!
Sunday, June 22, 2014
Friday, June 13, 2014
Siapkah?
Eits, apa kabar pemirsa setia Raka
Bercerita. Duh, udah lama banget ya gue nggak posting di sini. Nah, di tengah kegajean yang sedang melanda, gue akan sedikit bercuap-cuap kembali di blog
tercintah ini. Mumpung
lagi kesempatan emas, nih. Ya, hari ini ada sidang KIR yang menghalalkan laptop untuk
keluar. Wi-fi sekolah juga tumben-tumbenan nih, lagi cepet-cepetnya!
Langsung aja ke inti permasalahan,
bahwa sekarang gue lagi GALAUUUUUU......
Angkatan gue udah memasuki masa
akhir kelas XI, yang berarti bentar lagi kita insyaallah bakal jadi anak kelas
XII di IC ini. Tentu mayoritas orang bersuka cita atas hal ini. “Yes, bentar
lagi kelas 3!” “Yeah, habis ini pindah ke gedung F!” dan semacamnya, adalah bentuk
kesenangan yang nyaris semua orang ekspresikan. Ya, semua orang kecuali gue.
Entah mengapa, gue masih pengen jadi
anak kelas XI. Ada banyak hal yang bakal harus gue tinggalin kalo jadi kelas
XII ntar. Apa aja? Banyak, banyak banget. Bukannya gue nggak mau naik kelas ya.
Tapi gue sangat betah jadi anak kelas XI. Karena di kelas XI ini, gue nyaris
kehilangan semangat buat nerusin sekolah di IC. Dan di kelas XI ini juga, gue
menemukan alasan untuk tetap bertahan di sini. Itu sangat berkesan tentunya. Dan
kalo naik kelas nanti, pindah jabatan nanti, pindah gedung nanti, gue harus
ninggalin itu semua.
Gue belom siap. Gue sama sekali belom
siap buat ninggalin semuanya. Yah, ini memang belom waktunya buat ninggalin
hal-hal menyenangkan semasa kelas XI ini. Mungkin pada saatnya nanti, gue akan
siap dengan sendirinya. Tapi apakah pasti iya? Gue ngga yakin.
Gue nyaris nangis ngelihat foto
ini...
Hei, apakah kalian membaca ini?
Monday, April 14, 2014
Azzam
Oke, cerita kali ini untuk memenuhi permintaan
salah satu sahabat baik gue yang bernama Azzam. Dia minta gue nulis tentang
dirinya dan di-upload di blog. Nampaknya dia belom tau kalo permintaannya
adalah salah satu kesalahan terbesar dalam hidupnya. BAIKLAH AZZAM, GUE AKAN
BONGKAR SEMUA AIB LO... BWAHAHAHAHAHA...
Enggak lah, gue nggak sekejam itu.
Terjadi sebuah tragedi kemiripan nama antara
Azzam dan gue. Nama lengkapnya Muhammad Azzam Muzakki, sedangkan nama gue
Muhammad Ramdayanu Muzakki. Berhubung cuma kita berdua yang punya nama Muzakki
di Astonic, disebutlah kami berdua “Duo Muzakki”. Dia adalah anak yang berasal
dari Lamongan. Bersama Topik, kami bertiga menyebut diri sebagai “ketua de
facto” Jatmico. Sedangkan “ketua de jure”-nya adalah Hilmy. Aneh? Ya beginilah
adanya.
Belum lama ini gue menganggap Azzam sebagai
sahabat baik gue. Mungkin baru di awal-awal kelas XI. Bahkan, ketika masih
kelas X, gue lumayan sebel sama anak yang satu ini. Di suka menyombongkan diri
gitu, dan yah, gue nggak suka aja. Yah, emang begitulah dia. Sampe sekarang
juga masih sering kelihatan sombongnya. Dia selalu ngerasa kalo mukanya ganteng
(-_-). Larinya yang kencang dengan postur tubuh yang sedemikian rupa,
membuatnya sering disebut sebagai badak liar. Selain itu, dia juga terkenal
dengan kejayusannya yang nggak ketulungan. Di mana setiap dia ngelawak nggak
pernah lucu jadinya.
Azzam menjadi seorang anak acara yang sudah
nggak diragukan lagi kehebatannya. Kalo gak salah, dia nggak pernah jadi anak
acara kalo bukan sebagai koor atau paling nggak partner koor.nya. Dan acara
yang ia pegang bisa dibilang hampir semuanya sukses dan keren banget jadinya.
Eh, bahkan waktu kelas X dulu, dia pernah menjadi seorang ketua acara
Legionnaire 2013. Sebuah acara yang sangat dipaksakan keberadaannya, tapi
lumayan keren jadinya.
Anak yang sedang dimabuk cinta ini (cieee...)
adalah seorang koor divisi bahasa, sebuah divisi di bawah ketua 3 yang bisa
dibilang paling vital karena progra kerja vitalnya yang berjudul Language Fun
Day. Di mana divisi ini sangat sering mendapat hujatan dari publik mengenai LFD
tersebut. Tapi mungkin itu hanya di awal-awal saja.
Intinya, gue sangat bersyukur bisa mengenal
orang sehebat ini.
Topik
Kesan pertama tentangnya yang masih teringat
sampai sekarang, adalah betapa gahool-nya dirinya. Bayangin, hari pertama masuk
IC, penampilannya aja udah gak nanggung-nanggung. Ketika kebanyakan anak pake
kemeja, celana bahan, sepatu, dan nenteng-nenteng koper, dia malah pake kaos
bola warna merah, celana coklat bersaku banyak ala pramuka, muka yang lumayan
eksotis, dan sendal jepit “swallow”. Barang-barangnya pun ngga dia masukin ke
koper ato tas gitu, tapi karung. Dialah Taufiqur Rohman, seorang siswa IC yang
berasal dari Ngawi.
Bisa dibilang Topik ini adalah orang pertama
yang gue anggep sahabat sejak hari pertama masuk IC, sampe sekarang tentunya.
Mungkin gue orang yang bisa berteman sama siapa aja. Tapi nggak segampang itu
bagi gue buat mengakui seorang sahabat. Ya, tentu “teman” dan “sahabat” yang
dimaksud di sini sangatlah berbeda. Bahkan, pernah setelah matrikulasi (kita
berdua beda kelas matrik) gue bilang gini ke dia, “Ayo Pik, kita bakal sekelas
di X-2.” Dan sebuah keajaiban pun terjadi. Saat pengumuman pembagian kelas,
namanya dan nama gue ada di kolom yang sama, di X-2.
Singkat cerita,
Topik terpilih menjadi ketua kelas Raxivenn. Pas di awal-awal kelas X, dia
sering banget dibully sama temen-temen sekelas. Bener-bener cuma dia deh
kayaknya yang jadi objek pembully-an. Dan orang yang paling gencar membully
ketika itu adalah si wakil ketua kelas (oke, keadaan ini sangat persis sama
kelas gue pas MTs dulu). Namun, lama-kelamaan kelas pun makin kompak dan Topik
pun makin dihormati (?) oleh anak-anak kelas. Menurut gue, kalo bukan dipimpin
sama Topik, Raxivenn gak bakal bisa jadi sekeren ini.
Naik kelas, kami
pun berpisah kelas. Dia masuk XI NS 4, gue XI SS 1. Tapi kami berdua malah jadi
sekamar di 103 I. Nggak cuma di kelas dan di kamar. Gue dan topik pun menjadi
“pembesar” alias orang yang ditumbalin buat ngurusin macem-macem di Jatmico
(Jawa Timur Community) bersama beberapa lainnya.
Pendapat gue
tentangnya, dia lumayan bijaksana. Dia cepat belajar dari pengalaman dan
keadaan. Doyan baca buku dan hal itu membuatnya ngerti macem-macem. Anak
kampungan (sorry for this ._.v) yang sangat berkembang saat masuk IC (bayangin,
pertama kali dia naik lift adalah setelah masuk IC). Dia jago manjat dan
memiliki kemampuan selayaknya anak pramuka beneran. Kelihatannya, dia memiliki
daya survive yang tinggi. Ah, dia sangat hebat.
Oke, intinya sih
gini. Gue sangat menghargai dia sebagai sahabat gue. Walau pada kenyataannya,
kita punya banyak perbedaan. Dia anak IPA, gue IPS. Sebagai OSIS, dia ada di
kancah ketua 1 sebegai koor kedis, sedangkan gue di ketua 3 yang megang divisi
jurnalistik. Orientasinya lebih condong ke I-Care, sedangkan gue lebih ke
Sonlis. Tapi, gue nyaman kalo lagi bareng sama dia. Bahkan pernah beberapa
kali, ketika gue lagi bingung ato galau, bertemu dengannya bisa bikin gue
tenang lagi.
Pas kebetulan jadi anak acara bareng di Acasana
Jatmico Goes To Jatim Park
Nano Nano, Rame Rasanya!
“Buku, Pesta, dan Cinta.” Tiga kata ini pernah
disampaikan mantan ketua OSIS gue yang sekarang udah jadi alumni. Tiga kata
tersebut mewakili tiga tahapan selama tiga tahun hidup di IC. Pertama buku,
yang mewakili tahun pertama. Kelas X adalah saatnya belajar. Belajar
membiasakan diri dengan budaya IC, belajar bertahan hidup di asrama, belajar
berteman, dan belajar dengan baik dalam akademik, khususnya untuk menentukan
penjurusan. Yang kedua pesta, mewakili tahun kedua di IC. Di kelas XI ini emang
bener-bener jadi pestanya sebuah angkatan di IC. Sebagai tulang punggung OSIS,
bersama kelas X yang masih pada tahap belajar, kita membuat banyak acara. Yang
terakhir cinta, mewakili tahun ketiga. Oke, gue nggak terlalu tahu maksudnya
apa. Waktu itu sang mantan ketua OSIS nggak ngejelasin, dan gue juga blom
pernah ngerasain. Sekarang gue ada di tahapan kedua, yakni pesta. Pesta
berorganisasi, pesta mencari pengalaman, pesta bermain, pesta berteman, pesta,
pesta, pesta!
Kali ini, gue ingin bercerita tentang sekumpulan
orang yang menemani gue dalam pesta berorganisasi di OS-Cendekia 13/14. Mereka
adalah divisi jurnalistik, sebuah divisi di bawah ketua 3 yang tentu saja
tujuannya menampung minat dan bakat siswa-siswi IC di bidang jurnalistik. Kami
menamai diri kami Nano Nano. Sebuah nama yang mungkin nggak ada arti atau
maksud tertentu, bahkan kepanjangannya pun nggak ada. Tapi, seharusnya nama ini
punya makna yang sangat dalam. Sesuai motto dari merk tersebut, “Manis, Asem,
Asin, Rame Rasanya!”
Termasuk MPS, divisi ini beranggotakan 11
orang. Tujuh anak kelas XI, empat anak kelas X. Lima anak cowok, enam anak
cewek. Mereka adalah gue, Hikam, Afif, Amany, Dea, Nagita, Fape, Hamdan, Febri,
Tyas, dan Uqi. Sebagai koordinator, ada gue dan Amany.
Awalnya, gue sangat nggak nyangka bakal bisa
gabung dengan divisi ini, apalagi jadi koor.nya. Waktu kelas X, gue nggak
pernah berhubungan apa-apa sama divisi ini, kecuali sebagai anggota Jurassic
yang pasif.
Bahkan, ketika awal-awal kelas XI, gue udah megang tawaran sebagai
wakil ketua MPS 13/14. Tapi, karena satu dan lain hal, gue lebih milih menerima
tawaran untuk gabung sama divisi jurnalistik. Gue sempet agak tercengang (?)
sama nasehat yang diberikan mantan ketua
MPS 12/13, “Pilihlah tempat di mana lo lebih dibutuhin.” Saat itu, gue yang lagi
galau hanya bisa berdoa supaya pilihan gue ini nggak salah.
Dengan masuk ke dalam divisi ini, gue jadi
kenal sama anak-anak yang belum pernah gue kenal sebelumnya (oke, konteks kenal
di sini beda sama sekedar tau). Selama kelas X, gue jarang berurusan sama
Hikam, Afif, Fape, Nagita, Dea, apalagi Amany. Gak ada anak Neo Maxis
(Matrikulasi-1) atau Raxivenn (X-2). Bagi gue pribadi, semua ini bener-bener
berasa lingkungan baru.
Singkat cerita, tes masuk OSIS bagi kelas X
pun digelar. Kami pun memilih Hamdan, Uqi, dan Tyas. Febri sendiri dipilih oleh
MPS untuk masuk divisi ini. Lengkaplah sudah anggota divisi ini.
Apa saja yang sudah dan masih harus kita
urusin? Ada lomba bikin poster dan puisi dalam rangka milad “sweet seventeen”
IC. Mading Times, sebuah mading yang memberitahu acara-acara OSIS dan hari-hari
besar pada bulan tertentu. Kolom jurnalis, tempatnya anak-anak IC secara umum
bisa menempel karya. J-Pret, sebuah kompetisi fotografi yang diadakan secara
berkala. Jurassic, ekskul jurnalistik yang kerjanya bikin mading dan majalah
Magnet. Penyediaan koran di asrama, seminar jurnalistik, lomba desain kaos,
website OSIS, pin OSIS, dan dokumentasi OSIS.
Walaupun kadang nyebelin dan agak susah setiap
kali mau ngumpul lengkap, tapi gue menikmati bekerja bersama mereka. Banyak
yang udah kita lewati bareng-bareng. Pleno yang ngebosenin, ngurusin lomba pas
milad IC, milih-milih desain kaos, bikin kolom jurnalis sampe kotor-kotoran,
dan banyak lainnya.
Afif yang jago desain dan panikan, Hikam yang
rajin tapi ngga jelas, Hamdan yang lebih rajin dan lebih ngga jelas, Febri yang
banyak inovasi tapi gampang ngantuk, Amany yang hebat, serem, dan beraura
hitam, Nagita yang rajin tapi males (?), Dea yang bisa diandalkan dan alay,
Fape yang baik dan sensasional, Tyas yang doyan senyum-senyum dan lebay, Uqi
yang rajin tapi alay-nya sumpah nggak ketulungan, dan gue yang bisanya cuma
nyuruh-nyuruh doang. Sebelas permen berbagai macam rasa dalam sebuah bungkusan
bernama Nano Nano.
OSIS
OSIS-MPS
Fape, Dea, Amany, gue, Hikam, dan Afif di depan monas
Malam Pelantikan Paskib
Posting ini sebenernya udah gue tulis sejak jaman dahulu kala. Tapi nggak tau kenapa, gue lupa kalo pernah nulis ini. Barusan, gue nemu tulisannya dan langsung aja sekarang gue post. Ini semua tentang pelantikan paskibra di IC.
Sebenernya udah niat buat ngga modus sih. Udah
sengaja milih pos jaga di lapangan bola yang ngga ada ceweknya. Cuma ada Ikbar
sama Novri. Eh, ternyata gue malah dipindah ke pos empat dan gue jadi
satu-satunya cowok di sana. Ya, ada gue, Firza, sama Kak Farika, tambah Selvi
sebagai dokum dan Tamara sebagai PMR.
Tugas gue sebagai tempat lapor masuk-keluar
pos dan ngasih instruksi tentang apa yang harus dikerjakan di pos ini. Dan
inilah instruksi yang gue ucapin belasan kali sampe bosen :
“Selamat datang di pos 4. Tugasmu di sini
adalah mencari dua lembar kertas di sana. Kertas pertama adalah kertas HVS.
Kamu nggak boleh nyentuh kertas itu, tapi harus paham dan hafal apa isinya.
Kertas kedua adalah kertas seukuran buku tulis. Yang ini boleh kamu ambil, tapi
harus kamu balikin lagi ke tempatnya semula. Di dalamnya ada lima kalimat, kamu
harus hafal dan paham salah satunya. Kakak kasih kamu waktu satu menit buat
nyari dan ngehafalinnya, tapi kakak nggak akan ngasih tau kapan waktunya habis.
Kamu perkirakan sendiri dan gunakan waktu sebaik mungkin. Kakak bekali kamu
sama senter ini. Waktu satu menit dimulai dari, sekarang!”
(Wow, ternyata kata-kata yang gue kasih ke
mereka panjang juga ya.. Gue baru sadar habis ngetik ini -_-)
Selanjutnya Firza yang ngurus. Gue nggak
terlalu tahu apa “perlakuan” selanjutnya ke adek kelas. Intinya, mereka dimarah-marahin,
disuruh push-up, ngehafalin motto paskibra dan salah satu dari lima kata-kata
mutiara. Habis selesai itu, mereka lapor lagi ke gue, terus lanjut ke pos
selanjutnya.
Mungkin pas awal-awal gue ngerasa kalo gue
terlalu baik. Tapi, habis ngelihat Firza marah-marah ke adek kelas, gue jadi
nyoba meninggikan suara ‘ndikit-dikit ngerjain mereka. Dan ternyata makin lama
gue makin ketagihan, bahkan makin menjadi-jadi. Tapi katanya gue masih kurang
garang. Firza sendiri pas ngasih materi sampe nyuruh-nyuruh adek kelas push-up.
Lha Kak Farika? Dia mondar-mandir dari pos 4 ke pos 5. Ngasih-ngasih kode gitu
lah.
Pelantikan paskib di IC mungkin nggak seseru
di sekolah lain. Kata temen-temen gue, pelantikan di SMP mereka dulu jauh lebih
menantang, lebih kejam, dll. Tapi tetep aja, ini pengalaman pertama gue. Yang
tahun lalu jadi peserta, tahun ini gue jadi panitia. Gue lumayan puas bisa
bentak-bentak adek kelas walau katanya nggak garang sama sekali. Gue seneng
bisa begadang, ngga tidur semaleman buat acara ini, ikut ngerencanain acara
ini, muter-muter matiin lampu, dan yah, kontribusi gue cuma dikit di acara ini.
Tapi, gue ngerasa total.
Salut buat divisi PPBN yang udah mengonsep acara
dengan sebaik-baiknya, ngurus perizinan, dll. Juga buat anak paskib kelas XI
dan XII yang udah total jadi panitia dengan semangat ngerjain adek-adek
kelasnya. Tak lupa paskibra baru dari kelas X yang mau aja dikerjain sama
kakak-kakak kelasnya. Haha.
Para generasi baru
Libur UN Ini...
Sekolah diliburkan karena kelas XII lagi UN. Libur? Ah, mungkin "istirahat di rumah" lebih tepat untuk mendeskripsikannya. Ya, gue memang memanfaatkan libur ini buat bener-bener istirahat di rumah buat ngebalikin tenaga habis kecapekan dan sakit tipes. Biasa, gue menghabiskan waktu istirahat ini di rumah sodara gue di Serpong.
Gue sebenernya juga udah menyiapkan banyak hal buat diceritain. Oke, sebenernya banyak banget yang udah gue alami selama kelas XI, khususnya di semester dua ini. Jadi koor jurnal, pertama kali jadi BPH acara, tentang Sonic Linguistic 2014, dll. Gue sebenernya juga pengen cerita tentang beberapa orang yang berpengaruh dalam hidup gue. Tapi, kayaknya rencana ini akan kacau dengan adanya PR yang ternyata lebih banyak dari yang dibayangkan.
Ah, ya sudah, gue nikmati aja "istirahat di rumah" kali ini.
Oh iya.. SEMANGAT BUAT KAKAK-KAKAK MAGNIVIC ALENCEARIN YANG SEDANG BERJUANG MENGHADAPI UN... SEMOGA BISA MERAIH YANG LEBIH BAIK, YANG TERBAIK..!!!
Gue sebenernya juga udah menyiapkan banyak hal buat diceritain. Oke, sebenernya banyak banget yang udah gue alami selama kelas XI, khususnya di semester dua ini. Jadi koor jurnal, pertama kali jadi BPH acara, tentang Sonic Linguistic 2014, dll. Gue sebenernya juga pengen cerita tentang beberapa orang yang berpengaruh dalam hidup gue. Tapi, kayaknya rencana ini akan kacau dengan adanya PR yang ternyata lebih banyak dari yang dibayangkan.
Ah, ya sudah, gue nikmati aja "istirahat di rumah" kali ini.
Oh iya.. SEMANGAT BUAT KAKAK-KAKAK MAGNIVIC ALENCEARIN YANG SEDANG BERJUANG MENGHADAPI UN... SEMOGA BISA MERAIH YANG LEBIH BAIK, YANG TERBAIK..!!!
Subscribe to:
Posts (Atom)


